Archive for the ‘Kisah Teladan’ Category

Aku kembali .. Guruku

Jika ada pintu yang ingin kuketuk kini, hanyalah pintu sederhana di depanku sekarang. Aku memandanginya, sejak berjam-jam yang lalu dari ujung jalan. Aku rela berhujan-hujan sambil menimbang-nimbang hatiku, beranikah aku mengetuk pintu itu. Begitu berartikah pintu itu ? Benarkah pintu itu akan mengubah arah hidupku ? Pintu itu berubah-ubah dalam sinaran cahaya rupa di mataku, meski kasat mata tak berubah sesekali menyala ditampar kilat guntur menyambar-nyambar

Itu adalah rumah guruku

Sepuluh tahun yang lalu aku masih ingat, di pagi yang cerah aku minta restu beliau Bapak guruku. Aku ingin ke kota, melihat hiruk pikuk dunia, mengadu jiwa muda dari desa menapaki takdir perkasa. Diriku yang terlalu lugu hanya percaya budi baik akan dibalas baik, maksud jahat akan menyingkir dengan doa suci terucap dalam hati, dan maafkan sajalah mereka yang telah berbuat curang padamu. Pesan beliau guruku, hati-hati memilih temanmu. Saat itu aku tak mengerti, karena yang kutahu saat itu semua temanku baik hati.

Aku biarkan deras hujan terus mengguyurku

Aku ingin dimandikan Tuhan, kiranya menurutku pantas, sampai puas. Mulutku terkatup rapat mendesis pun tidak. Tapi hatiku berteriak memanggilmu guruku, menangis, malu karena aku pulang hanya mengganti baju rapiku dulu dengan sepasang kumal baju dan celana kumal lengkap dengan wajah kusut lelah dan perut lapar.

Kalau aku tidak pulang padamu lalu pada siapa ?

Aku sudah tak berayah bunda, kamulah guruku yang memungutku dan membiarkanku besar dengan ajaran-ajaranmu tentang salah tentang benar, tentang adab, tentang santun, dan itu tak membuatku puas. Karena semewah-mewahnya bajuku hanya kemeja putih, karena secanggih-canggihnya tungganganku adalah sepeda pinjaman guruku ke pasar. Sebanyak-banyaknya hartaku adalah uang kelebihan belanjaan yang dibelas kasihan guruku padaku.

Guruku sayang padaku

Aku menangis mengingatnya. Aku merasa bersalah menyia-nyiakan kasih sayangnya. Karena di kota yang kukira ramah ternyata sangat angkuh dan pelit. Kota sangat pelit tak kenal aku tak sayang aku, dan setelah ku tersudut di ujung gang dengan perut lapar, baru dipungut, tidak untuk ditolong, tapi untuk diperas lagi. Sebungkus nasi untuk pekerjaan kasar tanpa upah jelas, dan cacian binatang para mandor. Setelah aku pingsan dihajar karena aku dikira malas menggaruk pasir, sadarku menyengat. Maaf kota, kamu terang-terangan menolakku, aku tak ingin berlama-lama lagi menghiba padamu.

Aku pulang… aku pulang

Hingga saat ini aku ragu, ingin, rindu, hanya bisa menunggu di depan sebuah pintu. Dingin ini mematungku, antara malu dan menggigil karena jarum-jarum tetesan hujan yang tak pernah mau juga mengampuniku. Setidaknya aku memberi tanda, kuputuskan …. sudah dengan seluruh sisa tenaga kuketok pintu itu

Aku mendengar suara ketokan itu sendiri dan ….. sekilas cahaya terang lalu gelap seluruh duniaku tenggelam dalam keheningan sadarku.

——————

Guruku sebenarnya tahu, ternyata ia hanya menunggu aku kembali

Ketika ku sadar dia tidak menanyaiku macam-macam, langsung menyuapiku dengan bubur hangat. Membiarkanku istirahat. Setelah aku sehat dia mengajakku memerah susu sapi di pagi hari, di sore hari memberi kesempatan padaku memanen hasil sawahnya. Aku memeluk kembali kehidupan lamaku.

“Guru, tidakkah kamu ingin tahu tentang apa yang menimpaku ?”
“Mungkin, tapi mungkin tidak terlalu penting ..”
“Lalu apa yang terpenting ?”
“Doamu …”

Singkat, dan memang doa yang selalu menguatkanku yang kubutuhkan

“ …..
Tuhan sudah berlalu masa-masa burukku,
sering menghantuiku, menyesakkan, dan menyiksaku
maka damaikan hatiku untuk menerima masa laluku yang tak mungkin bisa kuubah lagi;

Tuhan aku masih punya mimpi jika itu masih Kau-ijinkan
sering menyapakan hangat harapan bersama fajar mentari-Mu
maka beri aku keberanian untuk mengubah hal-hal yang masih mampu aku perbuat;

Tuhan keraguan akan selalu datang menggetarkanku
maka lindungi aku dengan kebijaksanaan untuk mengetahui beda antara keduanya …..”

by me
note : doanya digubah dikit dari serenity pray

Lalat yang setia

Sasya kecil dan bundanya melewati jalan kecil itu. Ada yang rasanya berbeda hari ini ketika akan dilewati. Dari jarak 100 meter sudah mulai tercium bau busuk. Semakin mereka mendekat semakin menyekat hidung.

“Sasya tutup hidungmu dengan sapu tangan ini ..”
“Bau apa ini, ..Ma ?”
“Hati-hati dengan jalanmu sayang, liat di ujung jalan itu ..”

Mama menunjuk onggokan kotoran binatang, yang sepertinya baru, dan belum ada yang membersihkan. Tampak banyak lalat mengerubunginya. Hanya lalat saja. Entah apa yang dicari lalat-lalat itu. Orang-orang lain yang lewat pun bukan saja menutup hidung, bahkan segera memalingkan muka, jijik melihatnya. Beberapa menggerutu, berusaha berlalu secepat mungkin. Jalan itu kali ini benar-benar menjadi sangat tidak nyaman untuk dilewati.

Setelah melewati onggokan yang menjijikkan itu, Mama dan Sasya kecil sudah mulai dapat bernafas lega. Memasuki halaman rumahnya yang penuh bunga, keduanya tampak sangat menikmati keharuman yang semerbak menyusup. Sejenak menghapus sepenggal kenang tentang detik-detik menjijikkan yang sudah berlalu.

“Aduh untung cepat sampai rumah ya, Ma..”
Si putri kecil senang sekali memetik beberapa tangkai bunga dan menciumi keharumannya.

“Beberapa tangkai itu nanti masukkan ke vas bunga ini ya..”
“Supaya ruang kamar kita menjadi harum juga ya..Ma”

Sebentar kemudian serangkaian bunga lama yang sudah layu sudah tergantikan dengan yang baru. Ruangan kamar menjadi segar mewangi kembali dibuatnya.

==============================

“Ma .. kira-kira kapan bau busuk di ujung gang tadi hilang ya ? “
“Kenapa memangnya ?”
“Kalau aku berangkat sekolah, kan selalu lewat situ”
“Ya kita hanya berharap, tukang sapu jalan segera membuangnya. Kalau tidak yang tunggu sampai kotoran binatang itu mengering..nanti baunya hilang sendiri..”
“Lalat-lalat itu mengerubungi sampai kotoran itu mengering ya Ma ?”

Oww oww si putri kecil pintar sekali. Dia menaruh perhatian pada perilaku lalat-lalat yang tampak sering hanya sebagai makhluk pengganggu selama ini.

“Hati-hati dengan lalat-lalat itu, sayang. Lalat-lalat itu pembawa kuman-kuman penyakit. Jangan jajan sembarangan di dekat situ ya ..” Mama dengan sabar mengingatkan
“Tapi lalat-lalat itu baik juga lho, mereka itu bukankah temansetia bagi kotoran binatang itu ?”

Mama tercenung sesaat. Putri kecil kesayangannya itu, tak disangka menyuarakan kepedulian yang tak biasa dirasakan orang lain.

Dalam hati Mama membenarkan. Bahkan sering Mama menitipkan pesan pada petugas kebersihan untuk minta onggokan kotoran kering sebagai pupuk kompos bagi tanaman bunganya. Bunga-bunganya tumbuh subur dari pupuk alami semacam itu. Ya sering kali terima beres, hasil jadi yang sudah siap pakai, lupa akan proses terjadinya pupuk kompos itu.

” Tidak seperti lebah atau kupu-kupu yang hanya mau hinggap pada bunga-bunga yang mekar. Tentu saja mereka mau dekat kita saja suka. Kalau bunga sudah indah dipandang, harum baunya, pasti semuanya mau dekat-dekat. Tapi sayangnya karena lebah dan kupu-kupu itulah sebentar kemudian pasti bunga-bunga itu akan layu … dan pagi-pagi kita harus membersihkan guguran bunganya yang sudah mengering…”

Sasya terus berceloteh. Tanpa sengaja memapar kesadaran baru. Bahwa lalat-lalat yang sering dituduh sebagai biang segala kesusahan, ternyata punya sifat mulia yang perlu diteladani. Lalat-lalat yang sering dipandang jijik mengajarkan kesetiaan dan kecintaan pada sesuatu yang sudah terbuang. Adalah wajar kesenangan akan keindahan dan kemewahan. Tapi ketika sewajarnya kondisi berubah menjadi terburuk melalui perputaran nasib, siapa teman mereka yang terbuang ? siapa teman setia saat-saat kejatuhan ? saat semua pergi karena tak didapati lagi keindahan, keuntungan, kemegahan, siapa teman yang mau mendekat ? hanya kumpulan lalat.

Pada kumpulan lalatlah bau busuk keluh kesah rela dihirup, tak segan bercengkerama dengan rupa jijik yang sudah terbuang, hingga masa mengeringkan segala kesakitan menjadi kompos kehidupan. Kompos kehidupan yang menjadi tumpukan pelajaran hidup, sebagai sari pati yang akan bersatu dengan bumi Bunda Pertiwi. Dari tanah yang tersuburkan kompos kehidupan itu tumbuhlah bunga-bunga yang semerbak mengharumkan dunia.

“Ma .. Mama seperti lalat-lalat itu ” Sasya mengedip penuh arti
“Maksudmu ? ” dengan pandang penuh selidik.
“Jika aku sakit hanya mama yang paling setia mengurus aku, dari memandikan sampai membersihkan bekas muntahanku, menunggui aku sampai aku sembuh …”

Mama tak tahan lagi mendengar celoteh tulus putri kesayangannya. Matanya berkaca-kaca haru. Ia peluk penuh kasih Sasya kesayangannya.

“Tentu sayangku, tentu …. demi kamu Mama rela selalu menjadi lalat buatmu ..”

by fixshine

Terbangkan layang – layang itu

Sore itu Budi kecil sudah berlari-lari ke lapangan. Ia mengajak pamannya. Sehabis oleh-oleh sebuah layang-layang lengkap dengan gulungan tali, dia tampak bersemangat sekali. Sebelum ini dia memang sering memandang banyak layang-layang yang beterbangan diatas langit rumahnya. Budi kecil sangat ingin menerbangkan layang-layangnya sendiri.

“Hati-hati, Nak. Tetap main layang-layang disamping pamanmu ya..” begitu pesan Bunda tadi sebelum berangkat. Bukannya tanpa alasan anak-anak seringkali terpancing mengejar layangan putus, entah kenapa. Kalau sudah begitu mereka tidak memperhatikan lagi bahaya. Yang penting siapa cepat siapa dapat. Akibatnya malang tak dapat ditolak banyak kecelakan fatal terjadi. Belum lagi pagar – pagar tetangga yang rusak karena sering dilanggar gerombolan anak-anak nakal pengejar layangan putus itu.

“Paman aku yang menarik talinya ya ..”
Budi kecil meminta pamannya memegang layang-layang itu. Lalu dengan semangatnya ia menarik tali sekeras-kerasnya.
“Pelan-pelan Budi .., hati-hati nanti layang-layangnya rusak “
Menerbangkan layangan memang bukan perkara gampang, jika asal tarik layang-layang akan justru terjerembab jatuh, parahnya terseret-seret ditanah, dan tentu saja merusak kertas layangannya.

Benar saja kecerobohan selalu harus dibayar. Satu layang-layang Budi sobek sebelum sempat terbang.
“Tenang Budi, masih ada beberapa kan yang kita bawa, bantu paman mengikat talinya nanti gantian paman ajari menerbangkannya ..” hibur paman baik hati itu.
Beberapa saat kemudian tampak keduanya berganti posisi. Budi berdiri memegangi layang-layang yang baru. Sedangkan pamannya tampak tenang mengulur tali, kemudian perlahan menariknya. “Jangan kau pegang terlalu keras Budi, rasakan tarikan tali ini lalu lepaskan ..”
Perlahan namun pasti layang-layang itu naik diiring tiupan lembut angin. Pamannya tampak sesekali mengulur tali untuk menambah ketinggian, dan menarik-narik tali agar ketinggian stabil. Budi serius memperhatikan keahlian pamannya itu. Semakin besar saja tekadnya agar bisa menaikkan layang-layang sendiri.

“Budi sini, … nah layang-layangnya sudah terbang, coba kau pegang talinya…”
Paman mempercayakan layang-layang itu pada Budi. Budi merasakan ada tekanan tertentu pada tali layang-layang itu.
“Kenapa talinya jadi berat paman ? “
“Itu karena layang-layangmu terus ditiup tenaga angin di atas sana, sehingga dapat terus terbang..”

Budi masih terpana dengan sensasi memegang tali layang-layang yang sedang terbang itu. Sampai beberapa saat kemudian ada layang-layang merah mendekat.
“Awas Budi … layang-layangmu sedang diincar layang-layang merah itu !” paman segera memperingatkan
“Apa yang harus kulakukan ?”
“Gerakkan tanganmu ke kanan, tarik – tarik ke kanan, usahakan lebih rendah dari layang-layang merah itu ..”
Rupanya fase paling menarik dalam bermain layang-layang sedang terjadi. Adu layang-layang memang lazim terjadi di lapangan ini. Biasanya benang layangan sudah diberi “gelasan” semacam lem yang sudah bercampur bubur pecahan beling. Sehingga jika dua layang-layang sedang beradu di udara sebenarnya yang terjadi mereka sedang mengadu siapa yang mempunyai benang “gelasan” paling tajam.

Budi yang menyadari ancaman terhadap layang-layang miliknya berusaha sebisanya menghindarkan diri dari kejaran layan-layang merah itu. Namun apa daya tangan kecilnyal belum seahli pemilik layang-layang merah. Tak sampai lima menit tekanan tali yang dipegangnya melemah mendadak. Rupanya benang gelasan si layang-layang merah berhasil menggesek layang-layang miliknya. Paman dan Budi hanya bisa melihat sebuah layang-layang terbolak balik oleh angin , menjauh tak tentu arah, lalu di ujung jauh terdengar sorak sorai ,” Horeee .. ada layangan putus ..” dan segerombolan anak-anak lain mengejar layang-layang Budi.

Budi tampak kecewa.
“Kenapa benang ini tidak diberi lem gelasan sih , paman ?”
“Ya karena tanganmu akan tergores-gores … liat tangan paman ini …”
Budi terkejut selama ini tak begitu memperhatikan. Telapak tangan pamannya penuh gores-gores kecil, rupanya inilah hasil bermain benang gelasan.

“Budi kamu tak perlu mempunyai banyak bekas luka seperti paman …, kamu cukup menikmati bermain layang-layang saja, dan belajar makna permainannya …”
“Ah maksud paman seperti ajaran Bunda tentang perbuatan-perbuatan baik ? kan hanya permainan masak sie ? “
“Tentu saja, kalau kamu mau belajar … dan tidak bandel apalagi ikut mengejar layangan seperti anak-anak nakal itu “
“Kalau begitu coba lagi menerbangkan layang-layang satunya itu paman …”

Paman mengajak Budi memilih tempat agak ke bagian sudut lapangan luas itu. Paman tidak ingin mengulangi kesalahan tempat sehingga dikira ikut main adu layangan.
“Bermain layangan itu adalah pelajaran berani menaruh cita – cita setinggi langit, berani belajar menerbangkan sesuatu seringan layang-layang ke atas langit tanpa batas …”
“Wow .. betul juga paman, tapi tadi susah sekali sepertinya kucoba sendiri paman ..”
Kali ini Budi diberikan kesempatan belajar menerbangkan sendiri.
“Memang ada cara yang kelihatannya mudah seperti paman tadi, tapi kuncinya harus pantang menyerah memulai sesuatu, karena kegagalan memulai akan menuntun kita pada gilirannya menemukan cara sendiri untuk memulai sesuatu dengan benar sesuai pengalaman .. “
Paman memegangi layang-layang dan Budi bersiap menarik talinya dengan jarak beberapa meter didepannya.
“Hati – hati Budi, ingat rasakan hembusan angin, setelah layang-layang ini lepas, tarik pelan, ulur sedikit, tarik lagi, ulur lagi … !”

Sekali gagal.
Dua kali gagal lagi.
Ketiga kali nya lebih parah, untung paman menangkap layang-layang itu.
Keempat kali layang-layang itu bisa naik mulus tapi ketika diulur hembusan angin berkurang sehingga hampir saja tersangkut pohon.
Kelima kalinya setelah benar-benar memperhatikan kuat lemahnya hembusan dan arah angin layang-layang itu berhasil juga diterbangkan.

“Horeee … terbang paman! terbang paman ! “
Tampak acungan jempol paman dan tepukan tangan.

“Jadi kuncinya tarik-ulur di saat yang tepat ya paman …”
Paman membenarkan.
“Tarik-ulur adalah pelajaran hidup yang berharga ..”
Kemudian sambil menikmati sensasi tarian layangan itu di panorama biru langit, paman menjelaskan lebih lanjut. Tarik-ulur diartikan dengan antara menahan diri dan memberi kesempatan sesuatu dalam diri kita berkembang. Sedangkan kuat dan tidaknya hembusan angin adalah lingkungan pendukung kita sehari-hari, selalu ada dan bisa pergi sewaktu, karena itu belajar dari pengalaman kejelian sangat diperlukan.

“Menahan diri itu seperti apa paman ? “
Paman menjelaskan tentang adanya batasan norma. Memulai segala sesuatu harus dengan norma yang benar, niat yang benar, tindakan-tindakan yang terpuji.
“Jika kamu ingin dapat nilai bagus dalam ujian, kamu harus bertekad tidak mencontek teman, kamu harus menahan diri tidak menonton kartun saat jam belajar malam dirumah, kamu harus rajin mengerjakan setiap pekerjaan rumah…”
“Tapi teman yang mencontek nilainya biasanya lebih bagus paman ..”
“Mungkin benar .. tapi tidak ada gunanya, masih ingat ketika kamu terlambat menarik layangan ketika hembusan angin berkurang tadi ?”
“Oiya … layang-layangnya hampir saja tersangkut pohon, untung paman bantu menariknya..”
Tanpa norma yang benar, manusia hanya menggantungkan diri pada nasib, pada orang lain, atau pada sesuatu yang tidak pasti. Norma yang benar akan mendidik diri sendiri untuk suatu pengendalian.

“Jika ingin nilaimu bagus satu-satunya jalan terbaik ya perhatikan setiap ajaran Bapak dan Ibu Guru, mengulang pelajaran sendiri di rumah …dan “
“.. itu berarti aku yang menentukan sendiri hasil belajarku ya paman, tapi kalau nilainya tetap jelek ? “
“Kamu benar-benar mengerti yang kau pelajari ?”
“Tentu saja …Paman “
“Kalau begitu ilmumu tidak akan hilang, biar saja nilaimu tertinggal di raport tapi ilmumu tidak”
Paman lalu menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah salah memberikan berkah. Bisa saja orang lain menjadi kaya dengan cara tidak halal, tetapi di akhir hari mereka hanya menuai derita terhina dan bahkan bisa masuk penjara. Tetaplah di garis ajaran-Nya maka berkah usaha hanya masalah sekeras apa dalam berusaha.
“Kemudian tentang ulur, sederhananya kamu harus cerdik ..”
“Maksudnya paman ? untuk bersaing dengan teman-temanku yang suka mencontek ?”
Bahwa manusia harus berprestasi adalah wajib. Bahwa ada keterbatasan norma, waktu, dan kesempatan juga adalah suatu kewajaran. Namun hanya menunggu nasib baik prestasi hanyalah mimpi.
“Jadi apa yang harus kulakukan …”
“Kamu harus memberi kesempatan, mengusahakan segala cara untuk bisa selain mencontek tadi. Bisa kan kamu bertanya ke Pak Guru, belajar pada teman yang lebih pintar, berlatih lebih banyak soal-soal di buku “
Budi mengangguk mengerti.

Layang-layang itu masih menari di angkasa. Hembusan – hembusan segar semilir angin masih membuai mereka. Sementara ditengah lapangan beberapa layang-layang lain masih bertanding, Budi dan pamannya tampak masih berbincang tentang makna-makna permainan layang-layang.
“Lihat Budi bahkan setelah layang-layang itu mengangkasa dengan tenangnya hal itu masih menandakan sesuatu hal “
“Apa itu ..Paman ” ia menengadahkan kepala mencari-cari.
“Keseimbangan .. lagi-lagi keseimbangan , kemapanan, ketegaran ..”
Budi belum mengerti, tatap matanya masih kosong.
“Apa yang kamu rasakan pada tali itu ?”
“Tekanan, serasa beban .. apalagi kalau angin sedang bertiup kencang “
Memang benar selalu ada tekanan, selalu ada beban, bahkan seringkali disebut cobaan dalam setiap usaha. Tidak mungkin ada itu semua karena hanya hembusan anginlah yang membawa layang-layang gagah mengangkasa, karena hanya hembusan angin yang dirasakan sebagai beban itulah yang akan membawa kesuksesan. Bersahabatlah dengan tekanan, beban. Peluklah cobaan sebagai jalan menuju setiap tangga prestasi.

“Tapi kita sendiri harus terus melakukan tarik – ulur kan Paman ?”
“Benar Budi, namun jika sudah diatas sana cukup dengan menahannya, tinggal waspada saja jika kamu sudah di puncak prestasimu ..”
“Apa yang ditakuti ketika sudah mencapai puncak ? bukankan segalanya sudah tercapai ?”
Paman menjawabnya cerdik.
“Jika kau lepas pegangan tali ini kira-kira apa yang terjadi ?”
“Ups .. seperti layangan putus .. terbang lepas tanpa arah .. “
“Itulah jawabannya ..maka tetap pegang erat talimu, waspadalah ” tegas Paman.

Puncak – puncak kemenangan dan pencapaian mimpi selalu didamba setiap manusia. Kita akan selalu dihadapkan 3 pertanyaan,
bagaimana memulainya,
bagaimana berjuang mencapainya,
dan bagaimana menyikapi ketika sudah tercapai.

Harmoni dalam prestasi adalah jawabannya. Maka biarlah angin memacu terbang layang-layang itu, lepas ulur talimu. Namun tetap kekang talimu, tarik untuk seimbangkan laju terbangnya, kendalikan arahnya, dan jika sampai di ketinggian angkasa tetaplah waspada. Tali itu adalah pegangan dan jaminan kejayaanmu. Tali itu adalah pagar-pagar norma dalam setiap langkah pikiran, hati, dan perbuatan. Dengannya kemenanganmu berarti, tanpanya hanya kesia-siaan.

by fixshine

Belajar pada Bola

“Paman, nonton bola di lapangan kota yuk ..” ajak Budi kecil.
“Lha, kan ada siaran langsungnya di TV nanti sore ..”
“Pengin ngerasain ramainya aja, sekali-sekali boleh kan … ?”
“Ya minta ijin dulu mamamu sana ….”

Sebulan sekali kota ini memang menjadi ajang pertandingan kesebelasan-kesebelasan terkemuka negeri ini. Harga karcisnya sih relatif tidak terlalu mahal. Karena sepak bola adalah olahraga paling merakyat sedunia. Dibuat mahal dan sekaligus sangat bergengsi jadilah World Cup, namun dibuat semurah-murahnya juga bisa hanya modal sebuah bola, lapangan, dan penanda gawang. Siapapun sebenarnya bisa memainkannya, bahkan konon pemain-pemain dunia asal Brasil misalnya banyak yang berasal dari sepakbola jalanan. Sampai sedemikian cintanya terhadap bola, mereka mengasah keahliannya tidak tanggung-tangung hingga mencapai impiannya sebagai pemain dunia yang profesional.

“Boleh saja, tapi hati-hati yak, segera pulang … kalau ada gejala akan terjadi keributan ” pesan mama.

Menonton bola di stadion memang punya nuansa lain. Karena keterlibatan suporter begitu terasa. Kesebelasan tuan rumah biasanya lebih percaya diri, namun sayang kadang-kadang ada saja suporter fanatik yang membuat aksi-aksi berlebihan yang destruktif. Padahal pertandingan olahraga selalu mengajarkan sportifitas. Karena setiap pertandingan ketika dua kubu bertanding akan selalu ada yang kalah dan menang. Semangat bertarung ada dalam pertandingan, selesai bertanding semua adalah kawan. Saling memuji kelebihan, saling mengoreksi kekurangan. Maka wajar ketika musim pertandingan Liga berakhir antar kesebelasan saling mentransfer pemain, kalau harus fanatik sungguh mengherankan .. sebuah renungan, fanatik terhadap apa dan siapa. Demikian pula denga suporter, kapan lagi ketemu dengan “orang-orang baru” dari lain daerah. Kelompok suporter kesebelasan lawan adalah tamu juga. Mungkin suatu saat kita akan bersama menjadi suporter bersama jika kesebelasan nasional negeri ini sedang berjuang melawan kesebelasan negara lain.

“Paman kita membawa atribut apa ya ? “
“Ha ha .. kamu mau dicoret-coret ? ga usahlah nanti mamamu marah-marah ..”
“He he biar keren kalau ketangkep kamera TV “
“Tenang .. biasanya di samping stadion pasti banyak yang jual kaos atau bendera-bendera kecil lambang kesebelasan ko ..” Paman selalu tak kalah akal.

Sportifitas itu indah karena ditengah aroma pertarungan saling mengalahkan, kehormatan menaati aturan tetap di atas segalanya. Pemain memang benar adalah bagian dari kemenangan sebuah tim kesebelasan. Namun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, adalah cela prestasinya. Apa artinya kemenangan tanpa kehormatan ? Apa artinya peluh dan kepenatan jika hanya mendapat kehinaan dan ejekan ?

Kuatnya emosi-emosi antara dukungan, celaan, sorak-sorai, dan tentu saja caci maki … hanya dapat di nikmati di lapangan sesungguhnya. Realitasnya memang begitu. Tak seindah warna aslinya, tak seseru aksi sesungguhnya di depan mata kira-kira begitu.

Budi kecil dan Paman menikmati benar pertandingan itu. Budi kecil larut dalam semangat mendukung kesebelasan. Ia melompat-lompat di atas kursi stadion, sambil memutar-mutar bendera kecil berlambang kesebelasan kota.
“Ayoo … oper kekanan lagi, giring lagi, yakkk tendang …” jika pemain depan sedang maju ke depan.
“Semua mundurrr ke belakanggg ….” wah lagaknya sudah bersaing dengan pelatih kesebelasan saja.
dan tentu saja teriakan paling kencang ,” GOOOLLLLLLL !!!!” adalah wajib ketika akhirnya kesebelasan kota mampu menciptakan meraih point, dengan sebuah tendangan jitu.

Paman yang berpengalaman, segera mengajak pulang ketika peluit akhir pertandingan ditiup. Padahal Budi kecil masih merengek, ” Nanti saja Paman, aku mau minta tanda tangan pemain yang mencetak goal tadi ..”.
“Sudahlah ada yang lebih penting dari sekedar tanda tangan …” bujuk Paman, yang kemudian segera merenggut Budi kecil dalam gendongan pelukannya. Kekecewaan sudah pasti terpancar dari wajahnya, tapi wajar anak-anak memang selalu begitu, tapi sebentar juga akan hilang.

Segera keluar atau terjebak kemacetan di pintu keluar hanya itu pilihannya. Jika sudah terjebak segalanya akan beresiko, dari bahaya tukang copet sampai terjepit, jatuh, bahkan terinjak-injak. Mereka keluar di saat sebagaian besar penonton sedang bersorak-sorai merayakan kemenangan kesebelasan kota. Tak apalah tanggung jawab Paman adalah membawa Budi kecil kembali ke rumah dengan selamat. Sebagai gantinya Paman mengajaknya berjalan-jalan melihat keramaian kota sore hari.

“Menurutmu apa yang paling menarik dari pertandingan tadi ?”
“Tentu goal-nya dong Paman ..he he ” Budi mengacungkan dua jempolnya, lalu sederet ocehan tentang prosesi terjadinya goal tadi meluncur lancar sekali.
“Kalau dibandingkan pertandingan-pertandingan bola yang lain apa sih yang paling menarik ?” Paman memancing pendapat lagi.
“Wah ya harus lihat-lihat pemainnya dong … eh Paman sekali-kali kita jadi suporter kesebelasan pergi ke kota lain yuuk …”
“Wah perlu ijin tingkat tinggi itu .. ha ha ha ” keduanya tertawa sambil membayangkan mama yang sudah pasti akan cemas sambil mengomel sayang sana sini.
“Yang paling keren jelas mars suporter kesebelasan kita dong .. ” lalu dengan sigap Budi langsung menyanyikan mars yang sangat dihafalnya itu, benar-benar suporter sejati rupanya.
“Ha ha semuanya salah ..” jawab Paman.
“Lalu yang benar ?”
“Ya yang benar tentu bolanya, namanya juga sepak bola …” Paman tersenyum penuh kemenanganm dan Budi kecil hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.

Bola yang bulat kenyal. Bola yang kalau ditendang gampang melenting. Bola menjadi sasaran tendangan 22 orang dalam satu lapangan. Bola yang selalu dikejar dalam 2 x 45 menit, bahkan perpanjangan waktu jika perlu. Bola yang sederhana dalam bentuk apa istimewanya, apakah mengajarkan sesuatu ?

“Bola itu mempunyai sejarah panjang bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, dan sepanjang itu bola mengajarkan sesuatu yang sangat konsisten …”
“Ah paman salah, pemainnya dong yang benar, kan makin modern makin banyak goal-goal indah tercipta… jadi pemain lebih penting dong ..” kritis juga rupanya.
“Bola itu mengajarkan tentang sebab – akibat, bahkan pemain paling hebat pun tak selalu bisa mengeluarkan tendangan mautnya kan ? “

Budi kecil manggut-manggut mulai mengerti. Memang benar betapapun kuat atau cerdik seorang pemain di hadapan bola hanya ada dua aturan, tendangan kuat akan melenting jauh, tendangan lemah akan hanya menggelinding dekat. Bola tidak pernah ingkar akan hukum ini, siapapun pemain yang menendangnya.

“Tapi bentuk lengkungan hasil tendanganya kan berbeda-beda ..? “
“Apalagi masalah itu … bola sangat sensitif”
“Bola bisa ngambek gitu …?” Budi kecil mengekpresikan mimik ngambek khas anak kecil.
“Jelass dong, lengkungan indah sebuah tendangan hanya bisa dihasil dengan latihan berkali-kali … tidak ada cara lain “
“Jadi bola menuntut kita untuk bekerja keras latihan gitu ?”
“Ga pernah denger kan … ada pemain bola hebat muncul karena baru belajarbeberapa hari ?”
“Wuihh ..betul juga ya, Paman ..” kali ini Budi kecil menggeleng-gelengkan kepala.

Tidak ada yang instant dalam bola. Meskipun buku panduan bermain bola sudah banyak tercetak. Tapi membaca dan tahu saja tidak cukup. Harus praktek, harus latihan. Komentator bola boleh menceritakan indahnya sebuah tendangan, atau bahkan teknik operan bola dalam kerjasama tim. Namun mengulang teknik yang sama tidak cukup hanya dengan mendengar rahasia tekniknya. Sudut dan kekuatan tendang yang berbeda sangat menentukan hasil tendangan itu. Belum lagi masalah stamina yang harus terus dijaga, karena jika tidak ketrampilan bermain olah bola ini pasti ikut berkurang pula.

“Tahu bedanya permainan sepak bola kampungan dengan profesional ?”
“Ya paling-paling kalau profesional itu keliatan ga asal tendang saja ..paman he he, soale kalau aku main sama temen-temen ngegolin belum tentu dikerubutin pasti …” si Budi kecil malah curhat.
“Betul sekali … bola juga mengajarkan sebuah tim harus bekerjasama, seorang pemain ga boleh menang sendiri … seenaknya ingin ngegolin sendiri … ya hasilnya pasti dikerubutin “
“Salah-salah bukan bola tapi kaki jadi korban ya Paman …. he he ” tawa mereka bersama.

Ada organisasi tim, ada formasi serangan dan bertahan, dan tiap posisi-posisi dalam kesebelasan tidak bisa sembarangan ditempati. Mencetak gol memang hak bagi tiap pemain, bahkan kiper pun bisa. Namun disiplin terhadap posisi adalah faktor utama permainan. Bola yang bulat ketika ditendang dapat ke sudut mana pun dalam lapangan oleh karena itu tiap individu kesebelasan harus siap mengejarnya ke segala penjuru kemudian mengarahkannya ke satu tujuan yaitu gawang lawan. Bola mengajarkan kedisiplinan tanpa ampun, kelalaian menjaga suatu celah selalu menjadi awal terjadinya gol bagi kesebelasan lawan. Kemenangan pertandingan bola selalu datang pada kesebelasan yang paling disiplin dalam posisi-posisi pemainnya. Karena pada gilirannya kerjasama operan-operan bola pada posisi-posisi yang sudah terorganisasi paling baiklah yang paling memungkinkan terjadinya gol-gol.

“Makanya posisi striker penyerang itu ga selalu istimewa .. karena bergantung pada operan bola dari belakang .. “
“Berarti bermain bola enggak selalu harus ngegolin yak ? “
“Ya karena namanya saja pertandingan antar kesebelasan bukan sekedar adu kiper .. ya kan “
“Oya jadi inget tiap kesebelasan selalu punya kapten tim .. buat apa sih itu ?”
“Nah … betul sepak bola kampungan pasti ga kenal namanya kapten … “
“Dan ga ada wasit …. yang nyemprit-nyemprit … ” Budi kecil menimpali riang.
“Bola itu kan liar ditendang sana-sini mau saja, kalau masing-masing pemain nendang semaunya ya repot toh. Kapten tim adalah pemimpin arah kerjasama tim di lapangan … tanpa kapten arah serangan kan ga punya arah, karena tiap pemain bisa nendang semaunya sendiri … jadi untuk menciptakan permainan yang baik, bola juga menuntut adanya kapten tim yang jago, yang tahu kapan saatnya menyerang, dan siaga terhadap serangan balik …. “
“Bola tunduk pada kapten tim yang paling jago untuk menang ya kalau begitu… ” Budi kecil mengacungkan jempolnya.

Permainan bola memang menarik karena tidak hanya sekedar bola yang ditendang ke gawang yang dijaga kiper. Ada seni didalam permainannya. Seni itu datang karena bola sangat fair dengan aturan sebab-akibatnya. Oleh karena itu tiap pemain akan terpacu keahliannya, kekuatannya, juga kecerdikannya yang kesemuanya itu harus terpadu dalam kerjasama tim yang dipimpin oleh seorang kapten kesebelasan. Pemain – pemain akan berganti, strategi-strategi akan terus dirancang .. tetapi bola yang bulat tetap disiplin dengan ketegasannya memilih pemenang, sehingga tanpa “fairness” kemenangan dalam pertandingan bola tak akan punya kehormatan.

====================

Budi kecil dan paman tiba di counter-sport di mall. Di etalase di pamerkan banyak bola dijual, dari yang terkecil bola golf sampai yang terbesar bola basket. Di padu gambar-gambar aksi pemain-pemain dunia, pengunjung tanpa sadar beberapa menyempatkan waktu beberapa menit terpaku memandangnya. Budi kecil yang tak luput dari kekaguman, ia menunjuk-nunjuk gambar-gambar itu. Dengan gayanya yang polos … dia menirukan gaya aksi pemain-pemain dunia itu. Wah serasa sudah menjadi atlit beneran. Cape beraksi Budi kecil akhirnya hanya melongo menempelkan wajahnya ke kaca etalase.

“Bola itu kenapa dalamnya kosong ya paman ? apakah benar-benar hanya bulatan kulit luar yang kenyal ? “
“Ya memang harus kosong , agar bisa melenting jauh kalau dipukul ..” jelas paman atas pertanyaan kritis Budi kecil.
“Kosong ?? ga ada apa-apa ko bisa melenting ? “
Paman tersenyum berpikir sejenak, lalu sambil tersenyum menjawab.
“Sebenarnya ada udara juga didalamnya, tapi itulah hebatnya kekosongan ruang itulah yang membuat melenting jauh … dan tentu saja kita mendapat pelajaran hidup dari situ juga ..”
“Wah jadi bukan perkara sepele yak ? “
“Setiap pukulan disatu sisi akan langsung diteruskan sempurna secara simultan ke sisi lain ..prinsipnya begitu tentu saja nanti ukuran-ukuran seberapa besar tekanan udara di dalam bola dan kekenyalan kulit luar akan menentukan jauh lentingan bola … ” tampak ilmuwan saja paman satu ini menjelaskan kembali.
“Oh pantes .. bola basket dan bola sepak ada lubang kecil tempat memompa udara .., hebat ya udara itu ” Budi kecil membuat gerakan tepuk tangan.
“Dan pelajaran hidupnya … ketika menerima cobaan dan ujian dimana pun dan kapan pun jadilah manusia itu seperti bola “
“Agar bisa melenting ? … memangnya sedang main ? “
“Agar bisa maju melesat dong .. ” Paman tersenyum mantap.

Hidup manusia adalah wajar akan selalu menerima cobaan. Jika orang berdoa agar tidak mendapat cobaan, tidak usah mengalami ujian dalam belajar, tidak usah menghadapi kesulitan atau tantangan dalam bekerja, ia sama saja berdoa untuk ketidakmajuan dirinya. Cobaan dan ujian ibarat pukulan – pukulan. Bandingkan pukulan-pukulan yang diterima sebongkah batu dan yang diterima sebuah bola.

Ketika sebongkah batu dipukul, sekali dua kali mungkin tahan tapi setelah berkali-kali kemudian perlahan beberapa bagiannya akan rompal, bahkan sekaligus bisa hancur remuk berhamburan. Mengapa demikian ? karena batu itu hanya menerima pukulan, menerima saja daya rusaknya, ngotot saja dengan gengsi bertahan, sombong dengan kekuatan bentuknya. Tapi setiap benda pasti punya batas ketahanan, setiap kerusakan tanpa usaha perbaikan hanyalah menunggu waktu kehancuran.

Ketika sebuah bola dipukul, sekali pun bola itu akan melesat jauh menuju arah pukulan. Semakin keras bola dipukul semakin cepat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pukulan. Mengapa demikian ? karena kulit bola yang kenyal, tidak bersikeras menahan pukulan, kulit bola melekuk dalam hitungan seper sekian detik. Selanjutnya giliran udara mengubah daya rusak pukulan menjadi daya dorong maju mengikuti arah pukulan tadi. Tidak ada keterpaksaan menahan sesuatu, justru pukulan menjadi daya dorong. Semakin kuat pukulan semakin cepat bola akan terlenting.

Sungguh pelajaran berharga. Hendaknya manusia yang punya akal pikir tidak hanya terkungkung dalam kesombongan bentuk dan harga diri. Setiap kehancuran selalu diawali dari sekedar buta. Bola yang kenyal memberi pelajaran bahwa akal pikir harus digunakan agar setiap ujian, cobaan, tantangan, dan kesulitan yang menimpa dapat disikapi dengan fleksibel. Cerdik memanfaat kesempita sebagai kesempatan. Sedangkan adanya udara melambangkan hati bersih. Hati yang bersih dan berbaik sangka lebih produktif karena mampu segera mengubah kesulitan menjadi daya dorong maju. Sebaliknya jika mendapat kesulitan hanya mengandalkan keluh kesah, hanya kerapuhan diri sendiri yang didapat.

“Jadi Budi, dari pukulan dan tendangan-tendangan pada bola pelajaran apa yang didapat ? “
“Kita harus belajar mempersiapkan mental menerima cobaan, harus fleksibel karena kita toh punya pikiran …pasti ada jalan “
“Satu lagi ? “
“Pantang berkeluh kesah, selalu bersihkan hati dengan gembira ….”
“Agar ? “
“Kita bisa lari kencaaaaangggg …. ayo kejar aku pamaannn !!! ”

by fixshine

Bicara atau Buta

Seorang Direktur suatu perusahaan sedang khawatir dengan kondisi perusahaan yang dipimpinnya. Ia yakin kualitas produk yang dipasarkannya tidak kalah dengan para pesaing. Para konsultan yang melakukan penelitian intern menyarankan supaya kepedulian kerja para karyawan harus ditingkatkan dengan semacam “training softskill”. Yaitu training yang mengangkat motivasi dan kesadaran pribadi untuk bekerja.

Direktur itu akhirnya memanggil seorang trainer khusus untuk memberikan training per divisi bergantian selama 3 bulan. Trainer ini memfokuskan bahan trainingnya pada cara berkomunikasi antara atasan dan bawahannya. Setelah training banyak Standard Procedur yang mengalami revisi total, lalu secara fantastis 6 bulan kemudian perusahaan itu mengalami masa – masa keemasannya.

Sebenarnya apa yang di bicarakan dalam materi training si Trainer tadi ? tak lain hanya permainan bicara atau buta.

Tukang Perintah vs para pemalas

“Hari bahagia bukan para peserta training sekalian ?” trainer itu menyapa
“Maksud anda ?” terdengar nada tidak senang
“Saya melihat wajah – wajah cerah anda semua “
“Ah anda tak ubahnya seperti manager-manager penjilat dan suka membawa janji-janji surga itu … mengaku sajalah anda kesini hanya mau uangnya kan ? Mari kita percepat prosesnya bagikan saja absennya kami tanda tangani, dan kita akhiri sesi-sesi membosankan ini ..” suara lain malah memprovokasi.

Trainer itu hanya tersenyum. Sebagai trainer berpengalaman bukan satu dua kali dia mengalami penolakan seperti ini. Ia tetap percaya diri. Ia punya trik.

“Maksud anda kita akan punya sekedar waktu untuk ngobrol, makan-makan snack, mengutuki para manager yang menyebalkan itu, kemudian kembali ke kantor sebentar untuk mengisi absen kehadiran ? “
“Apalagi toh perusahaan mau bangkrut, kami hanya akan menjaga kekompakan agar pesangon kami tidak dibawa kabur orang-orang kapitalis itu ” peserta yang duduk depan sendiri menegaskan lalu disambut riuh rendah suara sorak sorai “
“Ya kalau begitu memang hal itu yang akan saya lakukan pada anda ..” trainer itu mengedipkan mata, lalu membuka jasnya, melepas dasi, menyingsingkan lengan kemeja, tampak benar-benar tidak ingin melanjutkan sesi trainingnya.

“Kabar baiknya lagi di ruangan sebelah saya sudah menyediakan snack, beberapa cangkir kopi,… apakah ada diantara bapak-bapak sekalian yang mau menemani saya untuk tetap di ruangan ini ? “

Para peserta mulai terpecah dalam pikiran masing-masing. Snack dan kopi di ruangan sebelah memang terlihat sebagian karena pintunya terbuka sedikit. Semula mereka pikir hidangan itu untuk para bos yang mau datang menjenguk. Beberapa orang berpikir pergi meninggalkan ruangan sudah pasti merugi karena diluar panas sangat terik, dan kalaupun mau makan di warung mereka berpikir dua kali, jika ada yang gratis sudah disediakan mengapa masih harus membeli.

Detik pertama, detik kedua, … lalu satu menit setelah beberapa kepala menoleh kanan kiri dan tidak mendapat respon teman yang ingin keluar ruangan, suasana menjadi lebih kondusif.

“Ah benar kan, kita memang punya pikiran yang sama. Saya bangga kepada para peserta yang sudah memilih tawaran saya yang kiranya sangat menguntungkan ini … oleh karena itu saya masih akan menawarkan beberapa hadiah, jangan dilihat wujudnya .. tapi lihatlah betapa saya sangat menghargai bapak – bapak yang mampu memilih tawaran yang paling baik …” si trainer mengeluarkan beberapa bungkusan kado kecil yang sudah terbungkus rapi.

Antusiasme peserta training sudah mulai tampak.
Trainer itu menggunakan momen selanjutnya untuk berkenalan. Menanyakan latar belakang lalu memujinya.
“Bapak … Mujiono, oww dari bagian teknis, dari Semarang ya.. kita sekota asal, memang banyak orang hebat dari sana..”
“Bapak ..Arif, pernah mencapai penjualan diatas 300 unit dalam sebulan ? woww sangat fantastis ..saya pribadi harus belajar dengan Bapak nih .. nanti private time ya Pak ? “
“Kalau ini Mas Jono ya .. wah baru lulus sudah berkeluarga yak, uah sungguh besar tanggung jawabnya .. semangat ya Pak keluarga di rumah selalu berdoa untuk Bapak ..”
Demikianlah sampai akhirnya seluruh peserta rapat dikenal trainer itu. Mereka berbagi humor juga. Peserta training mereka pelan-pelan terbawa dalam arus training yang sebenarnya.

“Nah bener kan Pak saya cuma mau ngajak ngobrol-ngobrol legal, daripada nyuri-nyuri waktu mbolos mending di sini ya nggak ?” kali ini disambut tertawaan akrab para peserta.
“Sebenarnya saya ini agak ga enak mo curhat, karena kemarin habis adu argumentasi dengan bos-bos anda ..”
Suasana kemudian mulai mengarah serius.

“Wah Bapak .. sudah mulai kemasukan doktrinasi mereka yak, benar-benar tak tahu diri mereka bisanya cuma merintah saja memang tuww !!” terdengar peserta bagian belakang menunjukkan perhatian.

“Kemarin itu Pak Bos mau ngadain program rasionalisasi gaji dan efektifitas kerja karyawan ..” trainer itu membangun suasana dramatis.

“Mau ada yang dipecat lagi ya Pak, he he sanggup ga tuh mereka bayar pesangonnya ?” ada nada sinis lain.
“Lagian perusahaan pesaing siap nerima ko, boleh saja kalau berani asal pecat ..” suara peserta bagian pinggir menimpali.

Inilah bagian emosi yang diharapkan trainer itu untuk menunjang antusiasme. Trainer itu lalu bercerita bahwa dia sudah berusaha menyarankan Dewan Direksi agar tidak menjalankan program rasionalisasi tersebut. Alasannya sama persis dengan yang diungkapkan beberapa peserta training tadi. Sebagai gantinya dia menawarkan program perbaikan komunikasi antar atasan-bawahan.

“Pak dimana-mana ujung-ujungnya duit, program Bapak ga akan jalan jika ga ada duit, karyawan ga akan mau kerja lagi lah jika gaji dan bonus kami tidak ditambah … ” masih ada saja suara sumbang nyeletuk.

Trainer itu tersenyum. Oww.. orientasi uang ya rupanya.

“Saya pribadi setuju dengan Bapak, tapi rasa-rasanya nih Pak saya juga tidak mau tuw Pak kalau gaji naik tapi genteng masih bocor aja saja dari kemarin ” balas cerdik si trainer itu.

Uang tidak dipungkiri adalah motivasi kerja. Uang bahkan dapat meningkat menjadi orientasi. Kalau tidak ada uang ya tidak jalan. Sayangnya dalam satu mata rantai kerja, jika satu bagian tidak bekerja sesuai standarnya akan menjadi lingkaran setan penurunan kualitas kerja keseluruhan. Trainer itu pernah mendengar cerita .. bahwa pada ruang administrasi utama, genteng dan plafonnya sering bocor ketika hujan. Ketika bocor praktis semua aktivitas kerja terhent hanya untuk memindah-mindahkan arsip penting agar tidak kebasahan. Sesuai prosedur standar untuk perbaikan membutuhkan pengajuan surat pemohonan penggantian dan perawatan ruangan ke bagian GA (General Affairs). Namun setelah surat diajukan .. tiada kabar berita. Jika diklarifikasi Sang manager GA hanya menerima proposal yang akan ditandangani 10 buah per hari dari sekretaris. Nah ketika ditanyakan berkas tersebut ke sekretarisnya, dia menjelaskan bahwa jika dalam seminggu surat tersebut tidak mendapat pengesahan dari manager GA yang bersangkutan, maka divisi bersangkutan harus mengajukan ulang. Sekretaris itu menjelaskan bosnya tidak mau menerima pengajuan proposal yang sudah tidak up to date tanggalnya.

Ironis memang, semakin uang menjadi sebuah orientasi maka hingga detil terkecil perlu uang agar dapat berjalan. Padahal seharusnya ketika seseorang diterima bekerja dalam suatu perusahaan dia seharusnya melakukan hal yang terbaik pada tanggung jawab pekerjaannya. Selalu berkomunikasi dan penuh kepedulian, agar tiap kekurangan yang tak bisa dihindari dapat ditemukan solusinya dengan cepat dan tepat. Orientasi pada uang juga menunjukkan tidak adanya kepercayaan antar bagian. Dan itu berarti suatu perusahaan sudah memulai penghancuran dirinya dari dalam.

“Oke peserta training sekalian, boleh bantu saya memainkan game kecil-kecilan ?”

Training sebenarnya dimulai.

Orang gila dan pembual

Trainer itu meminta satu orang sukarelawan mengikutinya keluar ruangan, untuk penjelasan skenario sebuah permainan seru.
“Pak saya minta Bapak menjadi tukang perintah…”
“Wah asyik juga nih bisa niruin manager-manager itu, lumayan walau cuma main-main ” gurau peserta sukarelawan permainan tadi.

Trainer itu menjelaskan tugasnya, dia hanya boleh duduk dikursi samping meja, kemudian di bebaskan bicara memerintahkan apa saja ke peserta training lain agar membuka tutup botol yang akan diletakkan di tengah meja nantinya.
“Ingat ya Pak, Bapak hanya boleh menggunakan kata-kata Bapak .. hanya bicara untuk memerintahkan membuka tutup botol itu nanti …”
“Ah gampang, cuma ngomong kan …” seru peserta itu.

Setelah masuk ruangan kembali trainer itu meletakkan botol bertuliskan “BOM” ke tengah meja.
“Nah, peserta lain sekalian mari kita lihat acting teman kita kali ini …” trainer itu tersenyumpenuh arti.

Selanjutnya muncullah adegan “1000 jurus perintah” dari peserta sukarelawan tadi. Hanya dari tempat duduknya dia berteriak-teriak memberi bermacam-macam jenis perintah. Nada lembut, nada memelas, nada gemas, sampai membentak-bentak semua dikeluarkan hanya agar ada satu saja peserta mau membuka tutup botol itu.

“Bagaimana Pak, masih ada jurus lain ? “
Sukarelawan peserta itu tampak kehilangan akal. Bahkan tampak semua orang menertawakannya layaknya orang gila.
“Begini saja Pak, saya bantu … Bapak tetap tidak boleh melakukan kontak fisik dengan peserta lain … tapi Bapak boleh melakukan semacam pancingan “

Dan sukarelawan itu langsung tanggap.
“Barang siapa mau membuka tutup botol ini silakan ambil uang saya seratus ribu ini …!” dia menunjukkan lembaran merah uang seratus ribu rupiah yang masih mulus itu.

Beberapa orang maju dan adu cepat membuka tutup botol itu. Namun …..
“Yak, BOOOOOMMM……!!!” seru keras trainer itu, kemudian tampak dia tertawa.
“Peserta sekalian ceroboh sekali anda-anda ini .. saya sudah memasang tulisan B O M di botol itu kok tidak diperhatikan yak …”

“Wah .. Bapak menjebak kita semua yak hahahaha “

Pelajaran pertama trainer itu berhasil dengan gemilang. Asal perintah tidak ada gunanya. Dan asal menuruti perintah hanya dengan menuruti imbalan besar (baca: orientasi uang) lebih konyol lagi.

“Ya namanya permainan Pak, silakan rehat dulu .. sambil direnungkan makna permainan tadi, nanti kita lanjutkan permainan lain yang lebih seru…” sahut trainer cerdik itu.

Kucoba kuraih “kamu”

“Sudah siap dengan permainan lain yang lebih seru ? ” sapa trainer itu kembali dengan ramah.
“Bapak masih membutuhkan sukarelawan, he he …saya mau tuh Pak” celetuk suara ditengah.
“Tentu – tentu kali ini aksinya pasti lebih seru .. saya janji ” lagi-lagi trainer itu mengerling penuh arti

Sukarelawan yang mengajukan diri tadi dibawa keluar sebentar seperti biasa. Kali ini si trainer memerintahkan “aksi buta”. Sularelawan itu tetap akan diperintahkan membuka tutup botol. Hanya saja boleh menggunakan semua anggota tubuh asal tidak menggunakan fungsi matanya untuk melihat.

“Wah, bagaimana saya tahu arahnya Pak ?”
“Nanti anda akan tahu ..”

Sukarelawan itu dibimbing masuk ke ruangan oleh si trainer sudah dalam keadaan mata tertutup kain hitam. Peserta-peserta lain tampak heran. Trainer itu lalu segera menjelaskan aturan permainan. Sukarelawan itu akan berjalan ke arah botol tertutup di tengah meja untuk membukanya. Karena dia tidak tahu arah maka tugas seluruh peserta di ruangan itu untuk mengarahkannya. Semua orang berhak mengarahkannya, memerintahkan apa saja padanya agar botol itu terbuka tutupnya.
Setelah trainer menempatkan sukarelawan di ujung ruangan, ia berseru, ” Yak permainan bisa dimulai !”

10 detik suasana hening. Semua orang ragu-ragu.
5 detik kemudian sukarelawan itu memutuskan jalan sendiri sambil meraba-raba.
5 detik kemudian semakin menegangkan ,” hati-hati !!!.. ahh !!”
Sukarelawan itu limbung dan jatuh.

“Ayo yang lain segera arahkan jalannya…!” seru trainer itu.

Satu orang berteriak,” Ayo berdiri lagi !”
Suara lain menyusul,” Hadap kiri .. maju pelan-pelan !!”
Namun yang lain lagi tak mau kalah, ” Bukan – bukan, kamu terlalu jauh, mundur sedikit ! “
Di ujung lain punya alternatif detail,” Dari tempatmu dua langkah ke kanan, balik kanan lalu, serong kiri, lalu coba 10 langkah ke depan .. raih meja dulu !! “

Dan semakin banyak suara bersahut-sahutan, semua orang semakin bersemangat memberi arahan. Walaupun begitu sedikit kemajuan yang dibuat sukarelawan itu, dia tampaknya pantang menyerah. Sukarelawan itu sebenarnya bingung memilih arahan siapa yang benar karena dia tidak bisa melihat sendiri jalannya. Ia hanya berpatokan bahwa suara akan semakin ramai jika ia salah langkah.

“Oke para peserta sekalian kita hanya punya waktu 10 menit lagi..!!”

Semua orang terpacu, dan suara semakin ramai, ricuh, parahnya justru semakin mengacaukan suasana. Sukarelawan itu saking berisiknya malah justru menutup telinganya. Sampai tiba-tiba suara emosi yang berat yang menggelegar,” Kalian bodoh semua, hai .. dengarkan aku. Jalan maju agak cepat sampai tanganmu menyentuh meja !! “

Sukarelawan itu tak punya pilihan lain. Suara berat yang dikenalnya itu memang sangat berpengaruh. Dia berjalan cepat maju, namun sayang seribu sayang tangannya diangkat terlalu tinggi. Teman bersuara berat tadi juga ternyata salah memperhitungkan kecepatan langkah sukarelawan tadi. Meja tak teraih, malah kaki menabrak kaki meja. Untung si trainer sigap menangkap tubuh sukarelawan itu agar tidak jatuh karena kehilangan keseimbangan.

“Ahhh … huuu huuuw ..” teriah riuh seluruh ruangan.
“Cukup cukup Bapak-bapak …, permainan kita sudah mencapai pesannya ” trainer itu menenangkan, sambil membuka penutup mata sukarelawan itu.

Melangkah tanpa bisa melihat tujuan.
Tidak adanya satu panduan pasti yang dapat dipercaya.
Percaya seseorang hanya karena pengaruh bukan logika.
… adalah hal-hal yang sungguh merupakan kesia-siaan. Sebuah refleksi realitas keseharian antar atasan-bawahan yang coba diungkap trainer itu untuk menggugah kesadaran para peserta training itu.

Satu tujuan dalam langkah

Dalam sesi rehat trainer itu terlibat dalam diskusi santai mengomentari permainan-permainan tadi. “Wah seru sekali Pak, permainan tadi. Jadi sebenarnya kita haru bagaimana ngebuka tutup botol itu ya, Pak “ tanya seorang peserta.
“Wah, Bapak nyolong start nih ..” trainer itu tertawa.
“Penasaran boleh dong …”
“Ya sebenarnya .. kalau mau cerdik copot dulu aja tempelan tulisan BOMB dulu baru buka tutup botolnya ….he he he ..” ledek si trainer.
“Lha Bapak curang … mana kita tahu coba ..” protes peserta lain.
“Ah Bapak ini kalau saya kasih tau kuncinya dari awal .. ga seru dong dari awal he he, justru ini mau saya simpan buat sesi ketiga nanti.. “

Beberapa menit kemudian sesi ketiga pun dimulai. Kali ini disertai penjelasan lebih detail.
“Tujuan kita adalah membuka tutup botol ini, tapi ada halangan tulisan BOMB ini. Jadi hilangkan terserah bagaimana caranya tulisan ini baru .. tutup botol ini bisa dibuka ..”
Permainan di sesi ketiga dirancang menggabungkan pelajaran yang didapat dari sesi permainan pertama dan kedua. Ada pihak pemberi perintah dan ada pihak penerima perintah yang tetap dalam posisi mata tertutup.
“Saya tawarkan pada anda sekalian modifikasi apa yang ingin di usulkan agar permainan ini berhasil .. “
Peserta yang pernah menjadi sukarelawan mata tertutup mengusulkan agar hanya satu suara yang memandu. Usulan yang bagus, dan langsung ditimpali dengan usulan adanya juru bicara bagi sukarelawan mata tertutup nanti.

Untuk menghilangkan tulisan BOMB diusulkan menggantikan tulisan itu dengan tempelan kertas bertuliskan AMAN. Ide yang brillian trainer itu setuju. lalu segera disiapkanlah kertas pengganti untuk ditempelkan itu.

“Semangat berkolaborasi untuk berhasilnya satu tujuan seperti inilah yang saya harapkan. Baiklah jika tim pemberi perintah sudah terbentuk, saya berikan kemudahan lagi. Bagi peserta yang ditutup matanya di ujung sana, sebelum matanya ditutup, silakan melihat arah jalannya dulu … lalu silakan rencanakan urutan langkah dengan tim pemberi perintah .. setelah sepakat .. baru mata ditutup dan permainan dimulai ..” pelajaran organisasi tim mulai ditanamkan trainer ini.

Tampak semua peserta bersemangat. Bahkan beberapa orang menghitung sendiri langkah-langkah menuju meja. Dibuat catatannya lalu diserahkan kepada juru bicara. Setelah yakin dan kesepakatan dicapai, sukarelawan itu siap ditutup matanya.

Permainan di mulai. Hanya terdengar satu suara membimbing, suara peserta yang bertindak sebagai juru bicara. Ia membantu menghitung langkah peserta sularelawan. Sesampai di meja ia memandu mengambil kertas bertuliskan AMAN yang juga sudah berselotip untuk ditempelkan hati-hati pada botol. Tulisan BOMB sekarang sudah berganti dengan AMAN. Nah, bagian termudah yaitu tinggal memutar tutup botol itu berhasil dilakukan dengan mantap. Dan sebagai tanda keberhasilan sukarelawan itu mengangkat botol dan tutupnya ke atas yang segera disambut tepuk tangan seluruh peserta training.

—————–

Kunci permainan tadi adalah komunikasi dan kerjasama. Semua peserta saling peduli memberikan kontribusinya agar satu tujuan bisa tercapai. Permainan pertama dimaksudkan untuk menyelami sisi ekstrim Bos yang asal perintah, hasilnya penerima perintah tidak mengerti. Kecerobohan imbalan uang hanya membutakan manusia dan justru berakibatkan fatal karena mengabaikan resiko. Permainan kedua dimaksudkan menyelami sisi ekstrim Karyawan yang bekerja mau saja disuruh-suruh tanpa mau menggunakan logika, hasilnya bukan saja kebebasannya terenggut, namun keselamatannya tidak terjamin. Permainan ketiga adalah tujuan training itu yaitu menggabungkan perencanaan, satu komando, dan tindakan nyata.

Selalu suatu tujuan harus disadari bukan sebagai kepentingan individu semata, melainkan sebagai kepentingan bersama. Karena dengan begitu selalu ada kepedulian, komunikasi, dan kerjasama karena memang pada dasarnya setiap kita terkait saling membutuhkan satu sama lain.

ditulis untuk
Ikastara.org
by Sigit Santoso

3 Hal dari Ibu

Sebaris sms kuterima.
“An, aku ke apartemenmu yak .. butuh temen nie”

Seperti biasa Ryanti selalu akan main ke tempatku kalau hari libur. Ya namanya teman silakan saja. Apalagi teman dekat seperti itu. Pintuku selalu terbuka untuk dia. Wajarlah sesama lajang, sesama perempuan saling berbagi cerita. Dia selalu bercerita tentang impian-impiannya, hobbynya, juga tentu saja tentang kriteria cowok yang dia suka.

Lima belas menit kemudian dia sudah muncul dan berceloteh kesana kemari.
“Kamu ngapain aja An, pagi ini …mbok keluar – keluar ..”
Aku tersenyum.
“Ya bersantai nemenin kamu lah, tamunya di sini ..” jawabku kalem.
“Please dong An, aku masak dianggep tamu … lagian tamu kok yang punya rumah males-malesan di kasur gitu “
“Eh ngatur-ngatur ! kamu pagi-pagi dah bikin keributan buat nasi goreng sana ..!!” candaku sambil melempar bantalku ke arahnya.

Setengah jam kemudian kami tampak kompak mengurus dapur. Dia memasak nasi goreng, ah sudahlah keasinan sedikit ga pa pa lah. Sedangkan aku membereskan piring dan gelas kotor. Setelah itu kami nonton tipi, sambil memilih posisi pe-we (paling ueeenak) di sofa kami, menyantap masakan karya amburadul Ryanti.

“Waduh … sorry An, keasinan lagi, abis kamu nyuruh aku yang masak sih …”
“Tenang … klo perut laper semua enak ko …”
“Padahal tadi aku mau pesen aja lho di rumah makan depan lho ..”
“Kamu itu apa-apa suka instant … mbok belajar sendiri, masak sendiri itu juga seni lho ..”

Seperti biasa sesi perdebatan akan dimulai, Ryanti senang sekali sesi ini karena gairah berargumentasinya yang canggih seakan mendapat lawan. Sebenarnya sih, aku cuma bisa mengimbangi dengan meledeknya abis-abisan.

“An, dunia kan makin modern, keunggulan-keunggulan komparatif akan selalu mencari jalan untuk memulai bisnis-bisnisnya. Nah seperti makan pagi ini, kalau ada entrepreneur yang mau menfaatkan lahan bisnis bagi orang sibuk seperti kita ini untuk menyiapkan makan pagi yang lezat, kenapa enggak … An, kita hanya perlu beberapa lembar ribuan dan mereka datang sudah dengan paket terbungkus rapi …”
“Ryan .. sayang ya klo gitu nanti cari aja calon suami tukang nasi goreng .. komparatif kan , kamu punya duit , dia bisa bikin nasi goreng … he he “
“Aaaann .. …kamu sarkasme deh ” dan bantal sofa itu melayang ke arahku.

Kami memang berbeda dalam selera, aneh juga kok nyambung … katanya sih dia suka aku karena hanya akulah yang berani menentang pendapatnya blak-blakan, sekaligus tanpa menunjukkan rasa benci. Aku sendiri suka dia karena bikin rame di ruang apartemenku, klo soal perbedaan dengannya, ya semua orang pasti berbedalah. Aku suka bersahabat dengan saling memberikan toleransi, namun sebagai sahabat sudah kewajibanku memberikan saran-saran, mengingatkan. Selanjutnya ya terserah saja … hidup penuh pilihan, tapi sepanjang dia masih memandang aku sebagai sahabat, aku masih akan bersamanya

“An … bener ga sih, cowok suka cewek yang suka masak ?”
“Lha tanya gue … tanya cowok dong, kalau perlu kamu bikin survey .. hasilnya tulis di koran, kamu kan sudah terkenal sebagai peneliti toh … “
“An … sudah deh, ga mau bahas kerjaan sekarang ” tiba-tiba tampang melankolisnya keluar.
“Oke .. oke yang kalau cinta tentu ga melihat kekurangan kan, cuma klo bagiku makanan paling enak ya buatan mamaku. Dan ketika mama sibuk aku tertantang bisa ngegantiin tugas itu …”
“Makanan enak bukannya karena dimasak yang ahli ? kan aku bisa nyari pembantu yang pinter masak …?”
“Ya asal kamu nanti ga jealous ..aja ma pembantumu nanti …”
“Uuuhh kamu …!!” dia melotot kepadaku.

Ryanti yang kukenal adalah gadis yang “smart”. Teman kantorku yang karirnya melesat. Wajar sih, dengan background pendidikannya yang mirip jalan-jalan ke luar negeri. Dia selalu rajin ngantor, disayang Bos karena analisa dan presentasinya yang tajam. Hanya karena dia selalu tampak sibuk banyak orang yang segan mendekatinya. Entah kenapa dulu bisa deket, klo ga salah sih setelah aku iseng jualan kue kering di kantor. Dia penasaran karena aku bisa membuatnya sendiri, dia tiba-tiba ingin belajar. Tapi ya karena bukan bakat dan kurang telaten hancur leburlah buatanya. Tapi ga pa pa, sahabat bisa datang darimana saja. Lagian enak juga bisa nebeng mobilnya klo ke kantor.

Aku berjalan menuju balkon. Aku senang sekali memandang taman kecil di bawah sana. Apalagi, hari libur begini melihat banyak anak-anak kecil berkejaran, bermain sepeda, bermainan ayunan, dan banyak lagi. Namun ada sudut lain taman itu yang menarik.

“Ryan sini deh … aku tunjukkan sesuatu”
Dia mendekat lalu matanya mengikuti arah telunjukku
“Lho itu bukannya Pak Hasan, Presiden Grup kan ..?”
Aku mengangguk.
“Coba lihat dia sedang bersama siapa “

Ryanti tertegun.
Seorang nenek tua duduk di kursi roda tampak sedang didorong Pak Hasan berjalan-jalan berkeliling taman.
“Itu istrinya ? “
“Bukan , itu ibunya … ” sahutku.
“Tahu darimana ? “
“Ya karena aku juga sering menemani mereka “

Aku lalu bercerita sedikit tentang Presiden Grup yang rendah hati itu. Taman itu memang tempat favorit ibu Pak Hasan. Beliau sangat senang melihat suasananya. Mereka sering bernostalgia tentang masa kecil Pak Hasan yang nakal yang kuat seharian bermain sepeda dan ayunan. Ibu itu juga sering bercerita tentang walau Pak Hasan bukan tipe anak penurut, dia selalu tidak bisa marah. Hasan kecil yang bandel, adalah langganan jatuh dan luka-luka kalau sudah bermain. Dia baru mau kembali ke ibunya kalau sudah menangis sambil kakinya berdarah-darah. Namun dilarang-larang tidak ada gunanya. Hanya kasih sayang membalut lukanya saja yang bisa dilakukan.

“Wah Pak Hasan nakal juga ya An ..”
“Ryan .. anak-anak dimana-mana juga nakal gimana sih “
“Tapi let see him now , dong … so cool, smart , berwibawa …kalau diproyeksikan ke belakang ga mungkin deh, senakal itu. Karena pengalamanku, temen-temen kecilku yang nakal-nakal seperti itu pasti ga jelas masa depannya ..”

Memang kritis sahabatku satu ini. Bahkan sejarah hidup manusia mempunyai alur logis. Tetapi anak-anak mempunyai dunianya sendiri, yang tidak dimengerti orang dewasa .. eh maksudku terlupakan kesan-kesannya. Terlalu sederhana malah, setiap pemberian dan pertolongan adalah kebaikan yang disenangi sebaliknya setiap larangan, apalagi dimarahi adalah sesuatu yang dibenci. Namun lebih ruwetnya mengurus anak itu, bahwa kalau menuruti semua maunya malah justru membuatnya malas.

“Benar kan An, aku melihat ada missing link ..”
“Ah kamu kayax mau presentasi kerancuan teori Darwin .. Pak Direktur mau jadi obyek survey juga ya non ? “
“Eh kamu yang mulai kan ? “
“Please deh … malah nyalahin gue, gini aja deh aku ceritain obrolanku dengan Pak Direktur itu “

————————

Sebenarnya aku menyimpan pertanyaan yang sama. Hal apa yang membuat beda dengan anak-anak kebanyakan. Suatu hari aku iseng menanyakannya ke Pak Hasan. Dan dia hanya kalem menjawab ,”Ibunya siapa dulu dong …”

Ibu tua itu membalas dengan senyum keteduhan, lalu membelai lembut rambut Pak Hasan.
“Nak Ani, Ibu sendiri tidak pernah merencanakan dia jadi sehebat sekarang. Sampai sekarang saja aku masih melihat dia kolokan seperti dulu …” dan kami pun tertawa bersama. Lalu Ibu tua yang wajahnya menyejukkan itu menjelaskan dia terlalu bersyukur mendapatkan Hasan kecil sebagai berkah buah cintanya. Dia hanya berkeinginan menjadi Ibu yang tulus memberikan kasih, memberikan kedamaian, sekaligus memberikan ruang kebebasan bermain. Hanya gembira yang ingin dilihat dari Hasan kecil.

“Ibu tidak pernah melarang-larangnya ?” tanyaku dulu
“Pertanyaan yang sulit, dan sekarang akan semakin sulit dijawab … Hasan kan bandel.. ” terlihat Pak Hasan tersipu.
“Ibu tak pernah melarang-larang kok, hanya paling-paling aku dinasehati tentang bahaya sesuatu kenakalan. Tapi sungguhpun aku lebih sering melanggar, Ibu tetap merupakan tempat kembali paling teduh … ya lama-lama bosan sendiri nakal, lebih enak menurut nasehat Ibu …”

Sederhana memang. Bahasa Ibu hanyalah sesederhana bahasa cinta. Bahkan kedamaian cinta Pak Hasan dan Ibunya bisa dirasakan orang-orang yang melihat kemesraan mereka.

———–

“An .. ceritamu tadi tapi belum menjawab “
“Memang kamu nanya apa .. gue kan bukan celeb ditanya-tanya ” kilahku.
“Itu apa hubungannya Ibu itu dengan seluruh pencapaian Pak Hasan itu sekarang ..”
“Ya karena dia belajar rajin, bekerja keras, dooongggg …. Ryanti yang pintaarrr !” jawabku gemes.
“Gini lho An, Ibu itu kan sorry bukan underestimate, tak terlihat punya gelar akademis apapun yang mununjukkan dia kompeten untuk melahirkan keturunan yang apa itu namanya jenius, berbakat, keahlian multiskill, dan seterusnya….” masih penasaran ternyata sahabatku ini.
“Mungkin ya memang cuma berkah … bonus kali”
“Ga mungkin An, setiap hal besar pasti selalu diawali reason yang kuat pula … kamu juga tahu itu kan ?”

Ryanti benar. Karena setiap pencapaian apapun bentuknya, sebesar apapun itu pasti diawali sebuah ide yang timbul karena suatu alasan. Aku jadi ingat sesuatu.
“Ya ya kamu benar, ibunya memang sepertinya biasa-biasa saja namun, dampak ketulusannya itu yang luar biasa. Pak Hasan itu boleh dikatakan orang yang haus restu dan pujian ibunya. Seperti masa kecilnya yang bahagia, setiap kreatifitasnya diberikan kesempatan Hasan kecil selalu akan kembali dan menarik-narik tangan ibunya untuk melihat hasil kerjaanya, entah itu coretan di dinding, entah itu mainan yang bisa diperbaiki, atau sekedar dia bisa menghabiskan nasi satu piring makan hingga licin …”
kami tertawa bersama membayangkan masa kecil Pak Hasan.
“Maksudmu dia terus terobsesi gitu yak ….”
“Ya yang pasti obsesi yang sehat bukan … dengan melihat hasilnya sekarang “
“Ibunya seperti pahlawan di balik layar yang sangat berpengaruh ya ..” gumamnya.

Kelembutan adalah senjata Ibu. Keleluasaan adalah media cinta Ibu, ketika ekspresi cinta saling diungkapkan di masa kecil seorang anak. Ungkapan-ungkapan kedamaian cinta membentuk jiwa, mendasari kepribadian, dan merasuk dalam alam bawah sadar. Dari benih yang cukup mendapatkan siraman air, akan menumbuhkan pohon-pohon gagah, pohon-pohon rindang tempat berteduh, dan pohon-pohon penuh buah yang memberi banyak manfaat. Jika siraman itu berupa air cinta, dan takdir menempatkan benih itu pada berkah tanah yang subur … tidaklah mengherankan jika banyak manusia – manusia berpengaruh di dunia ini dengan mantap selalu jujur berkata “Ini semua kupersembahkan untuk ibuku ..”

Pak Hasan yang bijak itu suatu saat menjelaskan teori tentang Ibu berdasar analisanya.
“Ibu itu memberikan 3 kelebihan kasih dibandingkan seorang ayah. Pertama dengan tubuhnya sendiri dia sekitar 9 bulan 10 hari harus menyediakan rahimnya sebagai tempat pertumbuhan janin hingga sempurna menjadi anak manusia … so miracle moment. Gangguan sedikit saja pada proses pembentukan fisik dalam rahim menentukan si anak akan terlahir cacat atau tidak .. jadi sungguh suatu tanggung jawab besar. Bahkan dalam kasus-kasus kelahiran luar biasa si ibu memilih nyawa anak yang dikandung dapat selamat dilahirkan daripada nyawanya sendiri….”

Aku sudah bergidik membayangkan itu. Sebagai seorang wanita yang kelak akan diberkahi saat-saat itu siapkah aku untuk itu.

“Tapi itu baru sebagian kecil. Kelebihan kedua yang tidak bisa digantikan ayah adalah saat-saat menyusui sang bayi. ASI adalah makanan pertama, utama, dan tak tergantikan oleh apapun. Bahkan sangat eksklusif jika Ibu bersedia menyusui dalam waktu yang lama sebelum si anak siap menerima makanan pertama yang akan disuapkan kepadanya. ASI membawa pembuktian nyata aliran cinta, posisi menyusui sedemikian rupa adalah perpaduan sempurna ketika mata polos si kecil menerima pesan-pesan kasih ibunya, ketika si kecil yang masih tak berdaya itu aman dalam rengkuhan gendongan ibunya, dan semakin sempurna dengan kehangatan tubuh paling pribadi ibu dan anak yang dihiasi perkusi detak jantung ibunya yang sudah tentu termainkan dengan kesucian hati….”

“Pak maaf .. betapa rendahnya saya tak mampu mengingat saat-saat indah itu ..” ketika aku sudah terisak mendengar penjelasan keindahan itu.

“An .. jarang dari kita yang sanggup mengingat keindahan luar biasa itu. Itu wajar. Otak kecil kita saat itu tak mampu menerjemahkannya. Namun tidak hilang ..”
“Darimana kita tahu itu tidak hilang , Pak ?”
“Keajaiban kasih seperti itu sebagaian merasuk dalam alam bawah sadar, sebagaian lagi membentuk jejak fisik .. kamu yang ada sekarang adalah rentetan perubahan sel-sel yang terjadi dari masa kecil bukan ..”

Sebuah kesadaran baru menyentakku. Aku kini dalam produk kasih sayang nyata masa kecilku. Sebaik-baiknya aku sekarang adalah sebaik-baik Ibu memberikan apa saja dalam masa kecil yang bahkan sebagian besar telah kulupakan.

“Dan yang terberat tentu fase kelebihan ketiganya ..” Pak Hasan menandaskan mantap

“Wah sepertinya lebih tak tergantikan lagi begitu Pak ..”
“Benar … karena membuat kita tidak bisa tidak kembali ke Ibu. Mengandung hanya 9 bulan, menyusu eksklusif hanya sekitar 2-3 tahun, namun kasih nyata membesarkan kita adalah sepanjang hayat … Tuhan memberikan wanita hak untuk jalan bertumbuhnya manusia-manusia baru karena dia memiliki kelembutan dan air mata. Dengan kelembutan cinta Ibu kita bebas terbang mencapai apapun mimpi kita. Namun kelelahan kita akan juga mencari kelembutan Ibu untuk bersandar…”

Aku dan Pak Hasan sejenak kemudian terdiam, membayangkan perjuangan kami selama ini yang tidak ada apa-apanya tanpa balutan kasih Ibu.

“Lalu dengan air mata ..? ” tanyaku memecah keheningan saat itu.
“Pedang yang saling terhunus akan tersarungkan pelan jika air mata Ibu sudah meleleh, sebaliknya … pencapaian kita tidak akan berharga sempurna tanpa sampai Ibu meneteskan air mata keridhoan bahagianya ..”
“Ibu memang segalanya …” bisikku pelan.
———————–

Aku baru saja dengan tenang mengulang penjelasan Pak Hasan itu buat Ryanti. Ia hanya tampak memandang langit yang mengarak awan keteduhan. Sekilas aku melihat kekritisannya tadi yang berapi sirna, sepertinya matanya basah juga.
” Dah puas ..? ” tanyaku sambil membalikkan badan.

Dia tak menjawab, lalu tampak lari ke dalam. Meraih hand-phone dan aku sayup-sayup aku hanya mendengar,
” Mama kapan menjengukku ? Kangen saja mama …. Iya iya … cepat ya .. aku ingin bisa cepat belajar masak seperti mama .. “

by fixshine
ditulis untuk Ikastara.org

Nyalakan Lilin

Seorang manager tiba-tiba mengacungkan jari di tengah-tengah sebuah presentasi sebuah proyeksi target tahunan perusahaan. Dan konsultan yang sejak tadi asyik dengan slide-slidenya mengenai usulan-usulan aktivitas bisnis potensial, terhenyak sesaat. Konsultan itu merasakan ada sesuatu yang mengganjal dalam benak manager itu.

“Saya setuju dengan usulan-usulan aktivitas bisnis yang Bapak tawarkan, tetapi saya dan beberapa rekan manager di sini sudah melihat hal-hal yang mirip seperti tahun lalu ..”
“Baik Pak … saya tidak meneruskan lagi” konsultan itu dengan tenang mematikan LCD, lalu menutup laptopnya.
“Apapun target kita, prakteknya … ketika masuk dalam persaingan dengan kompetitor perusahaan ini selalu kalah, kami hanya berharap pada klien-klien lama yang mungkin tidak bisa diharapkan akan terus loyal dalam beberapa tahun ke depan ..”

Konsultan ini melihat keresahan dan hilangnya keyakinan di benak manager itu, mungkin juga manager-manager lain hanya belum terungkapkan saja.

“Selalu ada harapan lah Pak …” sahutnya menenangkan.
“Harapan perekonomian membaik ? Justru ironis, karena kompetitor yang kinerjanya lebih baik pasti akan sudah menyabet dulu porsi keuntungannya..” manager itu semakin merah padam.
“Wah wah … begitu parahnyakah ? “
“Kami ini dalam keterbatasan, selalu menghemat dan menghemat, memotong dan terus memotong cost, tak lebih agar gaji pokok para karyawan bisa terbayar… intinya sih kami tidak tahu sampai kapan kami harus terus menunggu nasib seperti ini..”

Konsultan itu merenung sesaat, berusaha memahami, dan dengan luasnya pengalamannya dia menemukan celah solusi yang akan ia tawarkan.
“Bapak pernah ngobrol dengan para karyawan Bapak ..?”
“Malu saya Pak, saya kan ga bisa ngasih mereka banyak harapan …”

Rupanya itu krisis kepercayaan. Padahal harta awal yang tak ternilai adalah kepercayaan diri. Kepercayaan diri adalah alasan untuk terus maju. Kepercayaan diri adalah pemandu hidup. Orang bisa bertahan hidup dengan sedikit makan sedikit minum, tapi tanpa kepercayaan diri orang sudah mati sebelum waktunya, bahkan akan lebih cepat lagi untuk mati. Konsultan ini merasakan kepercayaan diri ini sedang mengalami krisis, terus meredup dengan cepatnya, dan ini yang harus di atasi dahulu.

“Boleh saya katakan perusahaan ini sedang ditimpa mendung ? “
“Gelap Pak … kegelapan tanpa arah ! Terutama setelah ..” Manager ini tiba-tiba tampak agak histeris. Rekan sebelahnya membantu menceritakan sekelumit historis masa lalu.

Seperti yang konsultan ini juga ketahui, perusahaan ini didirikan oleh seorang entrepreneur handal yang selalu jadi contoh. Bos besar yang kharismatik, yang mau turun ke bawah langsung, yang mau kadang-kadang tampak memberi arahan parkiran mobil. Bahkan ketika Bos besar ini sakit parah sebagai sebab meninggalnya tahun lalu setiap individu di perusahaan ini bersedia memotong mandiri beberapa persen gajinya untuk membantu biaya rawat rumah sakit ke luar negeri yang memang sangat mahal itu. Namun memang Tuhan berkehendak lain Bos besar tetap saja dipanggil. Perusahaan ditinggal tanpa pewaris handal, seperti di film-film saja kemudian banyak terjadi intrik.

Kehilangan figur membuat saling curiga, saling unjuk kuasa, saling tak peduli, ketika konflik internal ini bocor ada telinga investor semakin parahlah kondisi, karena pembiayaan perusahaan semakin hanya semata-mata gali lubang tutup lubang.

“Nyalakan lilin Pak ! “

Dan sekejap seluruh mata mengarah pada konsultan itu
“Dalam gelap nyalakan lilin Pak ! ” serunya lagi.
Rekan manager lain segera merespon heran ,” Hanya lilin ? “
“Karena masing-masing diri kita di ruangan ini bukanlah matahari seperti almarhum yang terhormat ..” konsultan itu menoleh mengarahkan pandang pada foto Bos besar yang masih terpampang di dinding dengan memancarkan aura kewibawaanya.
“Lilin yang dalam beberapa jam akan mati ya Pak ? terang dalam gulita yang semu karena hanya janji sesaat .. ya kan ?” rekan manager lain di sudut sinis mengomentari.

“…..
Saya bilang selalu ada harapan,
Saya bilang selalu ada kesempatan,
Saya mulai nyalakan lilin semangat ini .. meski untuk beberapa jam
… dan saya yakin almarhum ingin juga kita menjadi matahari, seperti juga ketika beliau membangun perusahaan ini dengan nyala lilin kecil di hatinya ..”

Beberapa kalimat yang mantap, beberapa kalimat yang mengena, dan semua terdiam. Mereka terkenang saat pertama masuk perusahaan ini. Betapa mereka begitu penuh diberikan perhatian dan ajaran dari Bos besar. Lilin semangat kerja mereka dibesarkan oleh Bos besar. Dan setiap pencapaian target, pujian Bos besar akan semakin memacu prestasi masing-masing.

” Saya … ikut menyalakan lilin kembali Pak !” setelah beberapa menit hanya diisi kesunyian akhirnya ada suara terisak dari samping.
“Saya juga ..! “
“Baiklah saya juga ..”
“Saya tambah .. biar satu hari terang kita nikmati “
“Saya juga agar ruangan ini menjadi semakin hangat “

Konsultan memantapkan ,”Mari kita nyalakan obor !!! ” sambil mengacungkan tangan kanannya ke depan.

Tampaklah binar-binar mata semangat kembali. Tampaknya mendung segera menyingkir.
“Baiklah lah Pak, tapi bagaimana caranya agar obor semangat kita bisa menyala bahkan untuk seluruh karyawan ? “
Konsultan itu tersenyum, karena ia semakin yakin.

“…..
Lilin-lilin yang terpisah akan mudah dipadamkan, bahkan oleh semilir angin.
Bersatulah menjadi obor semangat.. Sumber daya kita tidak kurang, fasilitas juga tidak… kita siap untuk mempunyai banyak obor “
“Caranya ?… apalagi jika di masing-masing divisi ada konflik kepentingan ? ” pertanyaan penasaran muncul tiba-tiba.
“Bagaimana cara Bapak menyalakan obor kayu ? ” konsultan itu cerdik membalik pertanyaan.
“Dekatkan sumber api, kalau perlu siramkani minyak tanah ke batang kayu, tapi .. bukankah harus kayu kering …?”
“Tepat sekali Pak ..” dua jempol tampal di hadiahkan.

Bagaimana pun pemimpin yang harus menjadi awal segalanya. Obor semangat pemimpin harus mendekat dahulu pada kayu-kayu kering anak buahnya. Menghangatkan mereka, lalu terbakarlah satu persatu, dan jika kayu-kayu itu berkumpul sebuah obor akan menciptakan api unggun.

“Kita tak perlu menghabiskan waktu membakar kayu – kayu basah, tapi kita juga tidak perlu membuang kayu-kayu basah ..” konsultan itu menjelaskan.
“Saya mengerti maksud Bapak kayu – kayu basah adalah musuh-musuh internal perusahaan, mereka yang selalu menjadi penghambat kinerja, mengapa tidak dibasmi, kita pecat saja ? ” suara manager lain tampak berapi-api.

Dilematis memang. Setiap kebijakan bahkan untuk kemajuan perusahaan pun pasti mendapat reaksi positif dan negatif. Bagaimana pun fokus adalah kunci. Jadi fokuslah terlebih dahulu pada faktor-faktor positif dulu.

“Kita hanya perlu mengumpulkan sesama kayu kering, agar api unggun kita menyala dahulu, mungkin bahkan bisa tercipta beberapa api unggun. Kehangatan beberapa api unggun itu akan mengeringkan juga kayu basah, setelah kering kita baru bisa menggunakannya juga. Kita tidak perlu saling berkonfrontasi dengan mereka yang bereaksi negatif, tapi kita hanya perlu buktikan apa yang kita yakini benar .. untuk kemajuan bersama …”
Menjelang akhir sesi meeting seorang manager yang dari tadi hanya diam mengacungkan tangan juga. “Mungkin yang terakhir ini Pak, bagaimana kalau tidak ada api sama sekali ?”
Konsultan itu tetap saja tenang, “Tidak menutup kemungkinan itu Pak, jika Bapak ingat, jaman bahula nenek moyang kita membuat api dari gesekan dua kayu. Untungnya kita tidak sedang akan menyalakan api betulan, tetapi api semangat. Api semangat selalu datang dari kehangatan jiwa. Kehangatan itu berasal dari kebersamaan dalam kerja, suka, dan duka. Dan kebersamaan itu dijalin paling mudah dari komunikasi .. dalam bentuk apapun ..”

Meeting itu memang berubah arah dari awalnya membahas target-target perusahaan kemudian menjadi semacam ajang motivasi diri. Tapi tak mengapa mundur sedikit untuk awalan lajunya lari. Anak panah selalu harus ditarik mundur sedikit dalam bentangan busur agar ia melesat cepat menuju titik sasarannya.

Bagaimana pun dalam kegelapan harus ada yang menyalakan lilin, berbagilah nyala api kecil dengan lilin lainnya, berkumpullah lilin itu agar serupa nyala obor bagi kehangatan. Jika obor – obor yang kelak tercipta dapat menjadi membentuk banyak api unggun pula, kita tak perlu takut terbenamnya matahari, karena masing-masing kita yakin ada api semangat dalam diri yang juga akan sanggup menjadi terang jika kita bersatu.

original by fixshine
ditulis untuk Ikastara.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.