Setelah bungaku

bunga bungaku, yang selalu tumbuh, segar merona, merekah
kemudian melayu, mengering, dan jatuh meluruh pada waktunya
menggenapi takdir ada, kemudian turut menjadi bumbu cerita waktu,
lalu mengabadi pesona dalam kenangan walau tak lagi merupa nyata

pernah kutanya mengapa kupilih kamu, mengapa tubuh kumbang ini
hinggap menyapamu, bergumul denganmu, mempermainkan sari-sarimu,
mengapa sekesiap hanya sekali tolehmu, aku merendahkan keperkasaan sayap kecil ini, …
untuk hinggap padamu dan membuat takdir kita sendiri

katamu singkat, “datanglah dan mari lanjutkan kehidupan”
aku tak mengerti arti senyummu dulu, sederhana, lalu begitu saja aku datang dan hinggap, …
merecap sedikit nikmatmu, mungkin juga seperti bunga-bunga lain

tak kusangka setelah tiba waktuku, kutak bisa lepas pada kenangku,
kudatang kucari bungaku, belahan-belahan mahkota dan kelopak yang masih kukenal itu
dan, ….
kata mereka kamu sudah luruh, sedang aku hanya menua raga
dimana kamu, kata mereka tinggal tersisa mewujudnya cintamu dan cintaku, …
pada benih-benih yang tersebar itu

kutunggu hujan
kutunggu hangat mentari
kutunggu seindah apa nanti benih-benih cinta kita bertumbuh

by fixshine

Respond to this post