Sebaris sms kuterima.
“An, aku ke apartemenmu yak .. butuh temen nie”
Seperti biasa Ryanti selalu akan main ke tempatku kalau hari libur. Ya namanya teman silakan saja. Apalagi teman dekat seperti itu. Pintuku selalu terbuka untuk dia. Wajarlah sesama lajang, sesama perempuan saling berbagi cerita. Dia selalu bercerita tentang impian-impiannya, hobbynya, juga tentu saja tentang kriteria cowok yang dia suka.
Lima belas menit kemudian dia sudah muncul dan berceloteh kesana kemari.
“Kamu ngapain aja An, pagi ini …mbok keluar – keluar ..”
Aku tersenyum.
“Ya bersantai nemenin kamu lah, tamunya di sini ..” jawabku kalem.
“Please dong An, aku masak dianggep tamu … lagian tamu kok yang punya rumah males-malesan di kasur gitu “
“Eh ngatur-ngatur ! kamu pagi-pagi dah bikin keributan buat nasi goreng sana ..!!” candaku sambil melempar bantalku ke arahnya.
Setengah jam kemudian kami tampak kompak mengurus dapur. Dia memasak nasi goreng, ah sudahlah keasinan sedikit ga pa pa lah. Sedangkan aku membereskan piring dan gelas kotor. Setelah itu kami nonton tipi, sambil memilih posisi pe-we (paling ueeenak) di sofa kami, menyantap masakan karya amburadul Ryanti.
“Waduh … sorry An, keasinan lagi, abis kamu nyuruh aku yang masak sih …”
“Tenang … klo perut laper semua enak ko …”
“Padahal tadi aku mau pesen aja lho di rumah makan depan lho ..”
“Kamu itu apa-apa suka instant … mbok belajar sendiri, masak sendiri itu juga seni lho ..”
Seperti biasa sesi perdebatan akan dimulai, Ryanti senang sekali sesi ini karena gairah berargumentasinya yang canggih seakan mendapat lawan. Sebenarnya sih, aku cuma bisa mengimbangi dengan meledeknya abis-abisan.
“An, dunia kan makin modern, keunggulan-keunggulan komparatif akan selalu mencari jalan untuk memulai bisnis-bisnisnya. Nah seperti makan pagi ini, kalau ada entrepreneur yang mau menfaatkan lahan bisnis bagi orang sibuk seperti kita ini untuk menyiapkan makan pagi yang lezat, kenapa enggak … An, kita hanya perlu beberapa lembar ribuan dan mereka datang sudah dengan paket terbungkus rapi …”
“Ryan .. sayang ya klo gitu nanti cari aja calon suami tukang nasi goreng .. komparatif kan , kamu punya duit , dia bisa bikin nasi goreng … he he “
“Aaaann .. …kamu sarkasme deh ” dan bantal sofa itu melayang ke arahku.
Kami memang berbeda dalam selera, aneh juga kok nyambung … katanya sih dia suka aku karena hanya akulah yang berani menentang pendapatnya blak-blakan, sekaligus tanpa menunjukkan rasa benci. Aku sendiri suka dia karena bikin rame di ruang apartemenku, klo soal perbedaan dengannya, ya semua orang pasti berbedalah. Aku suka bersahabat dengan saling memberikan toleransi, namun sebagai sahabat sudah kewajibanku memberikan saran-saran, mengingatkan. Selanjutnya ya terserah saja … hidup penuh pilihan, tapi sepanjang dia masih memandang aku sebagai sahabat, aku masih akan bersamanya
“An … bener ga sih, cowok suka cewek yang suka masak ?”
“Lha tanya gue … tanya cowok dong, kalau perlu kamu bikin survey .. hasilnya tulis di koran, kamu kan sudah terkenal sebagai peneliti toh … “
“An … sudah deh, ga mau bahas kerjaan sekarang ” tiba-tiba tampang melankolisnya keluar.
“Oke .. oke yang kalau cinta tentu ga melihat kekurangan kan, cuma klo bagiku makanan paling enak ya buatan mamaku. Dan ketika mama sibuk aku tertantang bisa ngegantiin tugas itu …”
“Makanan enak bukannya karena dimasak yang ahli ? kan aku bisa nyari pembantu yang pinter masak …?”
“Ya asal kamu nanti ga jealous ..aja ma pembantumu nanti …”
“Uuuhh kamu …!!” dia melotot kepadaku.
Ryanti yang kukenal adalah gadis yang “smart”. Teman kantorku yang karirnya melesat. Wajar sih, dengan background pendidikannya yang mirip jalan-jalan ke luar negeri. Dia selalu rajin ngantor, disayang Bos karena analisa dan presentasinya yang tajam. Hanya karena dia selalu tampak sibuk banyak orang yang segan mendekatinya. Entah kenapa dulu bisa deket, klo ga salah sih setelah aku iseng jualan kue kering di kantor. Dia penasaran karena aku bisa membuatnya sendiri, dia tiba-tiba ingin belajar. Tapi ya karena bukan bakat dan kurang telaten hancur leburlah buatanya. Tapi ga pa pa, sahabat bisa datang darimana saja. Lagian enak juga bisa nebeng mobilnya klo ke kantor.
Aku berjalan menuju balkon. Aku senang sekali memandang taman kecil di bawah sana. Apalagi, hari libur begini melihat banyak anak-anak kecil berkejaran, bermain sepeda, bermainan ayunan, dan banyak lagi. Namun ada sudut lain taman itu yang menarik.
“Ryan sini deh … aku tunjukkan sesuatu”
Dia mendekat lalu matanya mengikuti arah telunjukku
“Lho itu bukannya Pak Hasan, Presiden Grup kan ..?”
Aku mengangguk.
“Coba lihat dia sedang bersama siapa “
Ryanti tertegun.
Seorang nenek tua duduk di kursi roda tampak sedang didorong Pak Hasan berjalan-jalan berkeliling taman.
“Itu istrinya ? “
“Bukan , itu ibunya … ” sahutku.
“Tahu darimana ? “
“Ya karena aku juga sering menemani mereka “
Aku lalu bercerita sedikit tentang Presiden Grup yang rendah hati itu. Taman itu memang tempat favorit ibu Pak Hasan. Beliau sangat senang melihat suasananya. Mereka sering bernostalgia tentang masa kecil Pak Hasan yang nakal yang kuat seharian bermain sepeda dan ayunan. Ibu itu juga sering bercerita tentang walau Pak Hasan bukan tipe anak penurut, dia selalu tidak bisa marah. Hasan kecil yang bandel, adalah langganan jatuh dan luka-luka kalau sudah bermain. Dia baru mau kembali ke ibunya kalau sudah menangis sambil kakinya berdarah-darah. Namun dilarang-larang tidak ada gunanya. Hanya kasih sayang membalut lukanya saja yang bisa dilakukan.
“Wah Pak Hasan nakal juga ya An ..”
“Ryan .. anak-anak dimana-mana juga nakal gimana sih “
“Tapi let see him now , dong … so cool, smart , berwibawa …kalau diproyeksikan ke belakang ga mungkin deh, senakal itu. Karena pengalamanku, temen-temen kecilku yang nakal-nakal seperti itu pasti ga jelas masa depannya ..”
Memang kritis sahabatku satu ini. Bahkan sejarah hidup manusia mempunyai alur logis. Tetapi anak-anak mempunyai dunianya sendiri, yang tidak dimengerti orang dewasa .. eh maksudku terlupakan kesan-kesannya. Terlalu sederhana malah, setiap pemberian dan pertolongan adalah kebaikan yang disenangi sebaliknya setiap larangan, apalagi dimarahi adalah sesuatu yang dibenci. Namun lebih ruwetnya mengurus anak itu, bahwa kalau menuruti semua maunya malah justru membuatnya malas.
“Benar kan An, aku melihat ada missing link ..”
“Ah kamu kayax mau presentasi kerancuan teori Darwin .. Pak Direktur mau jadi obyek survey juga ya non ? “
“Eh kamu yang mulai kan ? “
“Please deh … malah nyalahin gue, gini aja deh aku ceritain obrolanku dengan Pak Direktur itu “
————————
Sebenarnya aku menyimpan pertanyaan yang sama. Hal apa yang membuat beda dengan anak-anak kebanyakan. Suatu hari aku iseng menanyakannya ke Pak Hasan. Dan dia hanya kalem menjawab ,”Ibunya siapa dulu dong …”
Ibu tua itu membalas dengan senyum keteduhan, lalu membelai lembut rambut Pak Hasan.
“Nak Ani, Ibu sendiri tidak pernah merencanakan dia jadi sehebat sekarang. Sampai sekarang saja aku masih melihat dia kolokan seperti dulu …” dan kami pun tertawa bersama. Lalu Ibu tua yang wajahnya menyejukkan itu menjelaskan dia terlalu bersyukur mendapatkan Hasan kecil sebagai berkah buah cintanya. Dia hanya berkeinginan menjadi Ibu yang tulus memberikan kasih, memberikan kedamaian, sekaligus memberikan ruang kebebasan bermain. Hanya gembira yang ingin dilihat dari Hasan kecil.
“Ibu tidak pernah melarang-larangnya ?” tanyaku dulu
“Pertanyaan yang sulit, dan sekarang akan semakin sulit dijawab … Hasan kan bandel.. ” terlihat Pak Hasan tersipu.
“Ibu tak pernah melarang-larang kok, hanya paling-paling aku dinasehati tentang bahaya sesuatu kenakalan. Tapi sungguhpun aku lebih sering melanggar, Ibu tetap merupakan tempat kembali paling teduh … ya lama-lama bosan sendiri nakal, lebih enak menurut nasehat Ibu …”
Sederhana memang. Bahasa Ibu hanyalah sesederhana bahasa cinta. Bahkan kedamaian cinta Pak Hasan dan Ibunya bisa dirasakan orang-orang yang melihat kemesraan mereka.
———–
“An .. ceritamu tadi tapi belum menjawab “
“Memang kamu nanya apa .. gue kan bukan celeb ditanya-tanya ” kilahku.
“Itu apa hubungannya Ibu itu dengan seluruh pencapaian Pak Hasan itu sekarang ..”
“Ya karena dia belajar rajin, bekerja keras, dooongggg …. Ryanti yang pintaarrr !” jawabku gemes.
“Gini lho An, Ibu itu kan sorry bukan underestimate, tak terlihat punya gelar akademis apapun yang mununjukkan dia kompeten untuk melahirkan keturunan yang apa itu namanya jenius, berbakat, keahlian multiskill, dan seterusnya….” masih penasaran ternyata sahabatku ini.
“Mungkin ya memang cuma berkah … bonus kali”
“Ga mungkin An, setiap hal besar pasti selalu diawali reason yang kuat pula … kamu juga tahu itu kan ?”
Ryanti benar. Karena setiap pencapaian apapun bentuknya, sebesar apapun itu pasti diawali sebuah ide yang timbul karena suatu alasan. Aku jadi ingat sesuatu.
“Ya ya kamu benar, ibunya memang sepertinya biasa-biasa saja namun, dampak ketulusannya itu yang luar biasa. Pak Hasan itu boleh dikatakan orang yang haus restu dan pujian ibunya. Seperti masa kecilnya yang bahagia, setiap kreatifitasnya diberikan kesempatan Hasan kecil selalu akan kembali dan menarik-narik tangan ibunya untuk melihat hasil kerjaanya, entah itu coretan di dinding, entah itu mainan yang bisa diperbaiki, atau sekedar dia bisa menghabiskan nasi satu piring makan hingga licin …”
kami tertawa bersama membayangkan masa kecil Pak Hasan.
“Maksudmu dia terus terobsesi gitu yak ….”
“Ya yang pasti obsesi yang sehat bukan … dengan melihat hasilnya sekarang “
“Ibunya seperti pahlawan di balik layar yang sangat berpengaruh ya ..” gumamnya.
Kelembutan adalah senjata Ibu. Keleluasaan adalah media cinta Ibu, ketika ekspresi cinta saling diungkapkan di masa kecil seorang anak. Ungkapan-ungkapan kedamaian cinta membentuk jiwa, mendasari kepribadian, dan merasuk dalam alam bawah sadar. Dari benih yang cukup mendapatkan siraman air, akan menumbuhkan pohon-pohon gagah, pohon-pohon rindang tempat berteduh, dan pohon-pohon penuh buah yang memberi banyak manfaat. Jika siraman itu berupa air cinta, dan takdir menempatkan benih itu pada berkah tanah yang subur … tidaklah mengherankan jika banyak manusia – manusia berpengaruh di dunia ini dengan mantap selalu jujur berkata “Ini semua kupersembahkan untuk ibuku ..”
Pak Hasan yang bijak itu suatu saat menjelaskan teori tentang Ibu berdasar analisanya.
“Ibu itu memberikan 3 kelebihan kasih dibandingkan seorang ayah. Pertama dengan tubuhnya sendiri dia sekitar 9 bulan 10 hari harus menyediakan rahimnya sebagai tempat pertumbuhan janin hingga sempurna menjadi anak manusia … so miracle moment. Gangguan sedikit saja pada proses pembentukan fisik dalam rahim menentukan si anak akan terlahir cacat atau tidak .. jadi sungguh suatu tanggung jawab besar. Bahkan dalam kasus-kasus kelahiran luar biasa si ibu memilih nyawa anak yang dikandung dapat selamat dilahirkan daripada nyawanya sendiri….”
Aku sudah bergidik membayangkan itu. Sebagai seorang wanita yang kelak akan diberkahi saat-saat itu siapkah aku untuk itu.
“Tapi itu baru sebagian kecil. Kelebihan kedua yang tidak bisa digantikan ayah adalah saat-saat menyusui sang bayi. ASI adalah makanan pertama, utama, dan tak tergantikan oleh apapun. Bahkan sangat eksklusif jika Ibu bersedia menyusui dalam waktu yang lama sebelum si anak siap menerima makanan pertama yang akan disuapkan kepadanya. ASI membawa pembuktian nyata aliran cinta, posisi menyusui sedemikian rupa adalah perpaduan sempurna ketika mata polos si kecil menerima pesan-pesan kasih ibunya, ketika si kecil yang masih tak berdaya itu aman dalam rengkuhan gendongan ibunya, dan semakin sempurna dengan kehangatan tubuh paling pribadi ibu dan anak yang dihiasi perkusi detak jantung ibunya yang sudah tentu termainkan dengan kesucian hati….”
“Pak maaf .. betapa rendahnya saya tak mampu mengingat saat-saat indah itu ..” ketika aku sudah terisak mendengar penjelasan keindahan itu.
“An .. jarang dari kita yang sanggup mengingat keindahan luar biasa itu. Itu wajar. Otak kecil kita saat itu tak mampu menerjemahkannya. Namun tidak hilang ..”
“Darimana kita tahu itu tidak hilang , Pak ?”
“Keajaiban kasih seperti itu sebagaian merasuk dalam alam bawah sadar, sebagaian lagi membentuk jejak fisik .. kamu yang ada sekarang adalah rentetan perubahan sel-sel yang terjadi dari masa kecil bukan ..”
Sebuah kesadaran baru menyentakku. Aku kini dalam produk kasih sayang nyata masa kecilku. Sebaik-baiknya aku sekarang adalah sebaik-baik Ibu memberikan apa saja dalam masa kecil yang bahkan sebagian besar telah kulupakan.
“Dan yang terberat tentu fase kelebihan ketiganya ..” Pak Hasan menandaskan mantap
“Wah sepertinya lebih tak tergantikan lagi begitu Pak ..”
“Benar … karena membuat kita tidak bisa tidak kembali ke Ibu. Mengandung hanya 9 bulan, menyusu eksklusif hanya sekitar 2-3 tahun, namun kasih nyata membesarkan kita adalah sepanjang hayat … Tuhan memberikan wanita hak untuk jalan bertumbuhnya manusia-manusia baru karena dia memiliki kelembutan dan air mata. Dengan kelembutan cinta Ibu kita bebas terbang mencapai apapun mimpi kita. Namun kelelahan kita akan juga mencari kelembutan Ibu untuk bersandar…”
Aku dan Pak Hasan sejenak kemudian terdiam, membayangkan perjuangan kami selama ini yang tidak ada apa-apanya tanpa balutan kasih Ibu.
“Lalu dengan air mata ..? ” tanyaku memecah keheningan saat itu.
“Pedang yang saling terhunus akan tersarungkan pelan jika air mata Ibu sudah meleleh, sebaliknya … pencapaian kita tidak akan berharga sempurna tanpa sampai Ibu meneteskan air mata keridhoan bahagianya ..”
“Ibu memang segalanya …” bisikku pelan.
———————–
Aku baru saja dengan tenang mengulang penjelasan Pak Hasan itu buat Ryanti. Ia hanya tampak memandang langit yang mengarak awan keteduhan. Sekilas aku melihat kekritisannya tadi yang berapi sirna, sepertinya matanya basah juga.
” Dah puas ..? ” tanyaku sambil membalikkan badan.
Dia tak menjawab, lalu tampak lari ke dalam. Meraih hand-phone dan aku sayup-sayup aku hanya mendengar,
” Mama kapan menjengukku ? Kangen saja mama …. Iya iya … cepat ya .. aku ingin bisa cepat belajar masak seperti mama .. “
by fixshine
ditulis untuk Ikastara.org
Posted by ina kokasih on April 1, 2009 at 1:05 pm
wah, ceritanya bagus banget.
tepuktangan sambil berdiri. buat yang ngarang nih cerita.