Baca dan Agungkan Tuhanmu

Ustadku sering bertutur bahwa Rhamadan itu istimewa, bulan yang suci, dimana justru Allah memberi jalan fitrah kepada manusia. Malam-malamnya selalu hidup. Bukan saja karena banyak lampu yang masih menyala sampai jauh malam. Namun, hidup karena kemakmuran masjid. Hidup juga karena sesayup-sayup kecil pun suara-suara lantunan ayat – ayat suci Tuhan diperdengarkan, tak peduli oleh orang yang baru belajar maupun mereka yang sudah mahir sekaliber qori.

Semua sepertinya berlomba-lomba meraup rizki yang berkelimpahan di bulan ini.

Aku pernah mengalami masa-masa itu, bersama teman-teman saling berpacu menghabiskan juz demi juz bacaan Alqur’an, siapa yang paling banyak semalam, siapa paling cepat dan paling sering mengkhatamkannya 30 juznya selama bulan suci ini. Namun entah mengapa, ironisnya masa-masa indah itu sekarang terkikis. Aku memang masih mengagumi kitab mukjizat nabi ini, tetapi membacanya sendiri berulang-ulang seperti dulu rasanya kok susah. Entah malas, entah aku kurang ikhlas, ya sudah seringnya aku kemudian berdiam diri saja di masjid. Bersandar di salah satu tiang besarnya, membiarkan sayup-sayup bisik tadarusan di berbagai sisi masjid ini memenuhi telingaku. Biarlah aku termanja oleh suara-suara itu, biarlah aku termanja oleh awan-awan indah bacaan-bacaan Illahi itu.

“ Kamu ngantuk, atau menghimpun tenaga untuk tadarusan tengah malam ? “
aku tersentak mendengar sapaan lembut suara yang sangat kukenal itu.

“ Ehm … ustad mengagetkan saja “

Aku heran, dan baru sadar dia juga sepertiku. Santai saja, tidak tampak akan melakukan ritual apa-apa. “ Ustad tidak lanjut langsung menuntaskan tadarus malam ini ? “

“ Memang akan .. kok “ jawabnya pendek, dan keluarlah sebentuk kitab al’quran mini dari saku bajunya. Namun ia tidak segera membacanya.

“ Kamu sendiri ? sudah sampai berapa juz ? “
“ Belum satu juz pun ustad … “ sahutku lemah, pasrah saja jika Ustad Zaenuri yang paling berwibawa di masjid ini akan menceramahiku.

“ Kalau begitu sudah saatnya kamu menuliskannya ..”
Melihatnya tetap tak acuh, ironis dengan sikapku sendiri yang sekarang justru tersentil untuk berfikir mendengar jawabannya

“ Ah ustad ini, selalu paling suka bikin penasaran orang deh .. ? “ seruku penasaran.

Ustad Zaenuri tetap tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Dia memang sangat berpengalaman, tapi kadang-kadang susah kumengerti jalan pikirannya.
“ Coba saja jujur, apa yang kamu rasakan setelah sekedar menuntaskan membaca 30 juz ? “
“ Pertama kali bisa menghabiskan 30 juz, sejuta rasanya ustad, apalagi dulu ada semacam acara khataman …”
“ Lalu …? ”
“ Kedua, ketiga kali … ya itung-itung memperlancar bacaan, selanjutnya ..hmhh ” aku hanya bisa mendesah.
“ Kamu jenuh , bosan ? “
“ Maaf ustad, mungkin saya yang kurang ilmu, kurang iman, kurang bersyukur … hanya saja, apa ya … semacam perasaan ga ada yang dikejar lagi, sudah tamat baca truss ngapain, memang sih ada perasaan tenang, tapi kok kayaknya gitu-gitu aja … “
“ Wajar kok, memang sudah waktunya “

Aku didiamkannya beberapa saat antara perasaan bersalah dan kebingungan.

“ Sudah waktunya apa ya ustad ?  Saya harus bertobat ? “. Mungkin begitu jika aku memang terlalu banyak dosa yang meliputi diriku tak sengaja, seperti debu yang menempel lembut, menimbun tipis, dan akhirnya berwarna kerak. “ Kamu hanya membaca saja, kamu melihat suara yang sama, huruf yang sama, tentu bosan, itu wajar … bukan berarti bacaannya menjadi jelek, hanya saja agama itu  bukan soal membaca saja, terlalu mudah, sekaligus terlalu hina jika keimanan dihitung dari sekedar membaca atau adu banyak baca ayat …”

Ucapan ustad Zaenuri mengalir saja dan langsung menghantam. Aku terdiam. Benar salah makin tak kupahami. Campur aduk jadinya. “ Menurutmu, kamu sendiri harus bagaimana ? “ tangan tua itu mengelus rambutku yang tampak sedikit awut-awutan. “ ehm .. jujur kalau membaca lagi, ya ingin sih .. tapi .. “ aku tak berani meneruskan. “ Sebenarnya kamu membaca kitab suci untuk apa sih ? “

Lagi-lagi pertanyaan sederhana, namun jawabannya menjadi rumit. Standar jawabannya tentu untuk menjadi tahu. Karena kitab suci adalah ilmu pengetahuan yang diberikan langsung dari Sang Maha Sumber Segala. Karena sudah terbukti dulu, sekarang, bahkan di masa-masa mendatang manusia tempatnya salah, tinggal masalah kejujuran mengakui, memperbaiki, atau malah ngotot, angkuh, dan semakin terjebak kesombongan. Memang manusia harus membaca dari sumber segala kebenaran, mendasarkan segala perilakunya dengan ilmu yang benar agak kehidupannya sesuai takdir kemuliaan yang dijanjikan-Nya.

Tapi itu kalau bicara standar, kalau jujur dengan perasaan, kecuali nabi mungkin siapa sih yang tidak pernah bosan ? Butuh sesuatu yang baru, mungkin yang lebih menantang,  lebih bergengsi, bukan tidak mungkin menampakkan hasil nyata, memangnya dengan membaca Al-Qur’an bisa mengubah dunia ? Karena yang kukenal hanya cara bacaan tartilnya saja, panjang-pendek yang katanya juga menentukan arti kata arab yang terkandung didalamnya. Setelah tahu lalu apa ? Mengulang lagi membaca …. mengulang lagi… itu lagi… dan seterusnya begitu. Benar kata ustad Zaenuri, hanya jika hal yang sama saja yang selalu kubaca, aku bosan, tapi bukan itu masalahnya. Yang lebih kutakutkan, ayat-ayat itu hanya kubaca ketika ketakutan di tempat yang katanya seram, ironisnya untuk masalah-masalah dunia luar sana yang kubaca tentu buku-buku lain, aku lebih mendapat pencerahan di sana, lalu dimana hasil jerih payahku berlomba berbanyak membaca kitab suci ? Benarkah bahwa kitab suci itu tuntutan hidup sepanjang masa ?

“ Kamu hanya diam sekarang ? “ Ustadku itu hanya memandangiku lembut. Tak berani kujawab, cukuplah pandang mataku yang sekiranya sudah dapat dia baca.

“ Baiklah, memang sekarang waktumu berpikir kembali, setelah masa-masa membaca yang tersurat berlalu, kini waktumu untuk membaca yang tersirat ..”
“ Apa bedanya, ustad ? “ aku mulai tertarik.
“ Ya pada pengamalannya saja, sehingga dunia pandangmu tidak sempit saja memandang agama. Sekarang lihat sebelah kirimu dan sebelah kananmu .. “

Kami berdua memang sedang duduk di pinggiran emperan masjid. Jika kutoleh sebelah kiri tampak beberapa jamaah yang sedang membaca Al Qur’an, mengerjakan sholat sunnah, satu dua terlihat duduk khusyuk berdzikir. Yakinlah mereka itu golongan orang-orang takwa dan beriman. Namun kontras jika kutoleh sebelah kanan. Di pinggir halaman masjid, masih ada saja penjual nasi goreng, asongan gerobak warung, beberapa yang tidak jelas nongkrong saja, tapi yang menyedihkan ada beberapa pengemis yang memohon-mohon sedekah pada jamaah lain yang datang dan pergi dari masjid.

“ Menjadi beriman dan bertakwa itu mudah dalam masjid … tapi tidak bagi mereka ..” tangan ustad Zaenuri mengarah ke arah luar masjid. “ Setiap orang yang rajin ke masjid saja, punya peluang untuk elalu diingatkan …, tapi tidak bagi mereka …, dan agama mengajarkan tidak egois menuju surga, kamu tidak bisa masuk surga, jika tetanggamu kelaparan, bahkan bagaimana kamu bisa merasa suci dengan terus melantunkan ayat-ayat sucinya sedangkan kaum papa itu meringis-ringis menahan lapar ..”

Tersirat itu menyibak jauh ke dalam arti kata sebuah ayat, mungkin itu maksudnya. Yang tersurat itu memang mudah karena tinggal mengucap, sedangkan yang tersirat ? Mungkin masing-masing orang masih akan mempunyai  pemikirannya sendiri.

“ Ustad bicara tentang kepedulian ? “ tanyaku. “ Memangnya syiar islam itu hanya untuk gagah-gagahan, adu suara pengeras suara masjid ? “ Ustadku menegaskan. Dia benar, jadi teringat kemarin beberapa anak kecil yang asal menabuh musik kentongan sahur kena marah Ustad Zaenuri karena alih-alih membangunkan orang sahur dengan sopan, tapi ini malah membuat keberisikan suasana dini hari.

“ Lalu bagaimana memulainya ustad, untuk mengatasi rasa jenuh ini ? “ kutanyakan sajalah langsung pada intinya.

“ ya yang pasti kamu ga boleh terus diam saja, di sini … “ ah kukira jawaban yang rumit, ternyata … “ hanya itu ustad ? “ tanyaku menantang. “ Justru itu pertanyaan untukmu sendiri, sudah cukupkah setelah melakukan sesuatu  ? “ benar ‘kan, retorikanya berbalik untukku.

Tapi memang benar, ketika kita mengevaluasi diri selalu saja timbul kesadaran kurang ini kurang itu, andai bisa berbuat lebih dan seterusnya. Mungkin nafsu untuk terus merasa kurang, ingin mendapatkan lebih, seharusnya diarahkan untuk kepentingan umat, bukan untuk mencari kemegahan sendiri, bahkan mungkin sekedar tampak paling alim, paling suci, yang alih-alih tergelincir pada sifat riya’. Karena semata-mata ibadah, diikhlaskan untuk Allah, Allah sendiri yang menilai kesuciannya apakah ada noda pamrih mencemari, apakah benar-benar ibadah karena kecintaan dan ketaatan. Sesungguhnya tiada yang ibadah yang pernah sempurna karena kita akan terus belajar.

“ Kamu pernah menulis ? “
“ Tentu ustad, tapi menulis apa maksudnya ? “
“ Menulis apa yang pernah kau baca “
“ Menulis kembali ? Untuk apa ? Bukankah tulisan Alquran sudah harga mati dan bahkan kesuciannya dijaga sendiri oleh Allah sepanjang jaman ? “
“ Ikatlah ilmu dengan menuliskannya …, ujilah pemahamannmu dengan menuliskan kembali apa yang kaubaca, dan lihatlah keluar, karena disana ayat-ayat Kauniah pertanda kebesaran semesta menunggu, berserak hikmahnya untuk terus kamu pelajari ..”

Benar sekali. Aku bahkan terbutakan oleh rutinitas. Mengapa pandanganku menjadi sempit. Sombong diriku jika sekedar membaca berjuz-juz Quran kemudian menjadi paling suci. Quran-ku hanya hiasan, pemanis tanpa makna, mushaf suci yang sesunnguhnya tumpukan kertas berdebu semata. Tak pernah kugali isinya, tak pernah kuuji sampai dimana batas pengetahuanku, terlebih setelah kutahu untuk apa ? Ini kah kesyukuran atas perintah Allah ,” Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan “

Aku memang bosan dengan membaca lembaran-lembaran Quran, karena hanya sekedar membaca, membaca sekedar huruf, melihat sekilas sosok tanpa roh, merugi beroleh kulit, kuharus membaca dengan cara lain yang berbeda.

“ Sebenarnya untuk apa tahu sesuatu itu ustad ? “ tanyaku
“ Menurutmu apa yang kamu lakukan jika hanya kamu yang paling tahu sesuatu ? “
“ Misalnya ? “

Ustad Zaenuri, mengambil secarik kertas putih dan sebuah pena hitam. Menyodorkan padaku ,” silahkan …” Aku bengong. ,” semaumu …” Dia menatapku meyakinkan. Aku semakin tak mengerti maunya. “ Coretin saja, lipat, buang, atau apa saja semaumu …”

Di tengah kebingunganku, aku hanya membuat beberapa bulatan – bulatan tidak jelas apa maksudnya.

Ustad Zaenuri hanya tersenyum.
“ Rupanya tidak tergambar sekilaspun apa yang pernah kaubaca selama ini yak ? “
Aku tersentak kaget. Tersambar kesadaran apa yang telah kuperbuat pada kertas putih itu. Satu kata, Ilmu. Ketika kamu mempunyai ilmu, dan kamu diberi kuasa atas ilmu itu apa yang bisa kamu perbuat ?

“ Jika kau buang percuma kertas itu, kamu sudah menyia-nyiakan segalanya, jika kau kosongkan saja, kau belum punya ilmu untuk melakukan sesuatu, jika kau asal menggambar kamu sudah berani mencoba, jika kamu menuliskan sesuatu yang baik kamu telah belajar meneguhkan ilmumu, sebaliknya jika kamu menuliskan sesuatu yang buruk itu hakmu atas ilmu yang kamu miliki …. hanya saja .. kamu melampaui batas “

Aku sepertinya mengenal penjelasan sederhana itu. Sepertinya seperti rentetan kalimat-kalimat suci sebuah surat dalam Al Quran.
“…Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Paling Pemurah;Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam; Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya; Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup; Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah (kamu) kembali …”

Benar. Kalimat-kalimat suci itu adalah baris-baris kelanjutan perintah “Iqra..( bacalah ) “ yang sangat terkenal dikalangan umat Islam sebagai ayat pertama Al Quran diturunkan. Tersiratnya, manusia yang bodoh itu hanya bisa berbuat kesia-siaan, maka Tuhan mengajarkan sendiri berkah ilmu pengetahuan. Penggunaan ilmu yang salah jika manusia menjadi sombong sehingga seakan-akan tak perlu Tuhan, sebaliknya penggunaan ilmu yang benar adalah akan semakin membuka kesadaran akan kebesaran Tuhan, bahwa tiada daya .. tiada takdir terjadi tanpa seizin-Nya.

———

“ Jadi gimana rasanya, setelah sekedar obrolan kita barusan ? “ menyadarkan perenunganku tentang arti mendalam perintah “Iqra ( bacalah ) tadi. “ Seperti saya menemukan hal baru ustad, seperti saya saat-saat pertama belajar membaca huruf-huruf pertama Hijaiyyah dulu … ternyata perjalanan saya tentang keimanan dalam islam masih sangat jauh, bahkan untuk sekedar pemahaman “ jawabku mantab

Ustadku tersenyum lega.
“ Itulah perlunya jamaah, dimana mata air ilmu akan selalu berputar, saling mengisi, mencuci, mengantar hal-hal baik baik, sebaliknya mengikis hal-hal buruk …kamu ga bisa belajar sendiri, menjadi pintar sendiri, sebaliknya buat apa ilmumu tanpa pengamalan ”

Aku jadi teringat sumur tempat berwudhu di belakang masjid ini. “ ustad saya kok jadi menemukan teori sumur ..”. Ustad Zaenuri gantian tertarik. “ Sumur belakang masjid ini ? Baiklah .. coba ungkapkan saja “

Aku membalik kertas putih yang tadi hanya berisi coretan-coretan tidak jelas. Aku kemudian serius menggambar sketsa sumur, penampungan air, selang-selang air yang menuju keran-keran tempat wudhu, lengkap dengan tempat pembuangan air kotornya.

“ Inilah perjalanan ilmu ustad, sumur tanpa kita gali dengan cara yang benar hanya akan menjadi tempat tumbuhnya binatang dan tetumbuhan beracun. Adapun air di dalam sumur juga tidak mungkin serta merta terambil semua, perlu cara, sedikit demi sedikit, perlu ketekunan … selayaknya ibadah perlu kesabaran dan tekad. Tempat penampungan harus tinggi, ini simbol tidak sembarang orang bisa berkoar-koar tentang agama, perlu ahlinya. Tempat tinggi juga menandakan resiko dan tanggung jawab sehingga ketergelinciran karena keangkuhan dan kesombongan selalu mengancam. Ilmu juga fitrahnya disalurkan ..”

“ mengapa harus ? “ ustad Zaenuri mengujiku.
“ ya kalau tidak, tumpah dong diisi terus ..” jawabku ngasal.
“ pintar kamu …”
“ ah ustad, itu kan hanya karena saya pernah lupa mematikan saklar pompa air listrik he he he …”
“ Ya ya, seperti kamu bukan ? Sudah saatnya kamu mengalirkan ilmumu, membagikan ilmumu kepada mereka yang ilmunya lebih sedikit dibandingkan kamu .. dan jangan lupa tulis sebagai pengikat pemahamanmu ”

Aku tersadar kembali. Ustad Zaenuri memang selalu begitu, mengajakku menemukan kesadaran dengan pemahamanku sendiri. Dia selalu hanya menunjukkan jalan, biarlah aku yang menemukan jalan kebenaran dengan caraku sendiri. Sungguh kepuasan memungut hikmah yang berserak dan ku temukan sendiri.

“ Kutunggu, hasil tulisanmu untuk bahan kultum besok yak “ dia mengedip padaku. Aku lega, telah ketemukan  kembali makna keindahan Ramadhanku.

 

 

by fixshine

ditulis,

untuk Rhamadhan

Respond to this post