Kay, mataharimu sudah kembali (4)

( Kay .. Khayana, malam hari, 2 hari kemudian, BlueBack Coffe Mall Karawaci….)

Seperti biasa aku kembali ke sini. Tempat favoritku, menikmati secangkir adonan kopi yang nikmat, hangat, dan penuh segala rasa yang mirip-mirip nada-nada hatiku. Ada pahit di sana, agar aku tetap terjaga. Sedikit manis tentunya, agar aku punya jeda bernafas lega. Dan kental yang bercampur lembut, juga harum khasnya mengingatkan bahwa sepenuh hati keindahan itu adalah memory yang tak sekedar lewat begitu saja. Setiap tetes hangatnya adalah seni yang harus menghias rasa di setiap jengkal lidah dan tenggorokanku.

Aku senang di sini, karena tamasya rasa dan kenyamanannya. Dan perpaduannya akan biasanya menggelitik jari jemariku untuk menulis.

“….
Aku duduk merenung kembali
mengenang saat-saat indah tahun demi tahun
serasa masih kupandangi dia di seberang sana
serasa masih ada dia di sampingku
serasa masih aku mendengar dia bercanda
dan kami melegakan diri dengan gelak tawa

memory itu harta termahal dalam perasaanku
mengenangmu adalah pesona ….”

Aku mengeklik icon “send” di forum untuk memposting tulisanku, dalam hati aku berpikir seperti mengirimkan puisi cinta untuk kekasihku. Namun, sedetik kemudian, TIDAKKKK … !!!

Hanya kudapati sebuah layar putih dengan kalimat “The page cannot be displayed “.

Tulisanku, puisiku, kata-kata hatiku ? Oh tidak !! Hilangkah ? Kutekan tombol F5, refresh dan terus melakukan proses refreshing site. Tak berguna, koneksi hot-spot putus tiba-tiba. Ah, mengapa tepat saat kukirimkan puisi curahan hatiku ini untuknya ? Apakah dia memang menolakku ? Apakah yang telah kuperbuat, hatiku masih sepenuhnya untuk dia, tak akan ada yang lain.

Aku menangis, aku sudah tak mau lagi berteriak. Baiklah, jika aku bersalah dan tak diijinkan mengirimkan puisi itu, tapi izinkan saja aku untuk menangis. Biarkan saja aku ditemani detik-detik penyesalan ini.

“ Ehmm, sorry Mbak, pesanannya sudah datang … lengkap dengan paket special “

Aku tersadar, menoleh dan terkejut, tak kutemui pelayan counter coffe ini, hanya ..

“ Oh sorry, ini pesanan yang diantarkan pelayan tadi, kasihan … dia hanya berdiri menunggu beberapa saat tadi “

“ Kamu siapa ? “

“ Oh ya, maaf, … Angkasa, panggil saja Aang ..” dia mengulurkan telapak tangannya. Oh, tidak kenapa di saat memalukan seperti ini aku bertemu dia. “ Darimana kau tahu, di sini aku ..? “ aku melihatnya menyilangkan telunjuk di bibir, menenangkanku. “ Sorry, sepertinya kita masih ada masalah kecil di sini .., maaf boleh ? “ dia menunjuk sebuah kursi, aku mempersilakannya. Dia lalu menyeret sebuah kursi ke arah mejaku, memindahkan laptop dari meja tempat duduk sebelumnya, lalu sepertinya memasang sebuah modem portable.

Aku mengenal default halaman situs internet itu, ya tentu saja halaman forum CeritaKita.org yang baru saja kusesali tadi.

“ Hotspot di sini memang baru saja bermasalah … tapi bersyukurlah, postinganmu sudah masuk..” dia mengarahkan ke list judul thread postingan puisiku dan nama nick Khayana. Oh Tuhan terima kasih … senangnya.

“ Uahh, hiyaaa .. makasie makasieee… thanks banget yakk “ aku terlonjak, senang sekali. Mukaku seketika berubah cerah, dan tanpa bisa kukontrol lagi aku memukuli pundak Aang saking gemasnya. “ ehmm … maaf mbak, please nabok-nabok disini juga bayar lhoo ..” ya ampuuun aku baru sadar aku baru saja kenal dia, dan bahkan aku belum sempat mengenalkan namaku.

“ eh, sorry, meski sudah terlambat, … aku, panggil saja Kay “ aku gantian menjulurkan tanganku.
“ gimana ? Aku menepati janjiku ‘kan ? “
“ bagaimana bisa sih ? “
“ ga penting itu … lebih penting aku sudah mereply puisimu tadi, entah tiba-tiba dapet wangsit darimana “

Aang mempersilakanku membaca sendiri.

” …
Tiap hati mempunyai pasangan hati yang lain
Pasangan yang hanya perlu saling menemukan
Hanya hati yang menunjukkan arahnya sendiri
Hatilah yang menentukan besarnya detak yang bergetar

Cinta sucilah yang berasal dari hati
Dan itu akan terus mengalir pada dua hati yang sejati
Dua pasang hati yang menyatu bagaikan malaikat bersayap satu
yang hanya dapat terbang bila saling berpelukan
Dan pabila sayap itu terluka sedikit saja
Hanya dua hati itulah yang dapat dan harus mengobatinya
….”

Aku terharu membacanya. Aku tahu ini jawaban kekasihku.

“ Gimana, Kay, cukup bagus ? “
“ Makasih Aang, puisi ini yang aku tunggu, makasie sudah menjadi perantaranya menuliskannya untukku … “
“ ya ya … sejujurnya aku ga ngerti kamu ngomong apa, tapi sebaiknya seduhan kopi ini kita nikmati dulu sebelum dingin ..”

Aang mendahului mengangkat cangkir kopinya, meminum adonan cairan kental-lembut-pahit-manis itu. Tapi bagiku, saat ini hanya lembut-hangat-manis dan manis saja.

(Angkasa , setelah pertemuan ….)

Kuambil hape-ku, kucari nama Enade lalu kukirimkan sms.

– kali ini, aku mengakui kalimat jimatmu, we’re connected –
– ya aku merasakan kamu sudah bertemu dia –
– kamu ga ingin ketemu dia juga ? — aku mencoba menawarkan
– nanti kuhubungi kamu lagi, yak — hanya itu jawabannya padaku.

Kesanku tentang Kay, humh … sampai saat ini cukup bahwa aku punya kesempatan masuk dan bercakap dalam kata dengannya. Cukup bahwa dia, tak sesendu puisi-puisinya. Dia masih bisa sedikit bercanda, memamerkan deretan gigi putih pada senyumnya. Walau seperti sudah kuduga sebelumnya, dia memakai baju-baju yang tak menarik perhatian cenderung tertutup malah. Jeans yang sudah tampak lusuh, kaos hitam dengan tulisan ga jelas, dan sweater warna coklat gelap. Sepertinya dia juga tak peduli dengan riasan, tidak ada bahkan selapis bedak pun untuk sedikit memutihkan kulit sawo matangnya.

Aku menangkap aura-aura ketidakpedulian, kepasrahan. Tapi ketika tadi, dari ujung sudut ruangan yang lain kutangkap ada sebuah laptop yang menyala dan membuka situs forum asuhanku, kupastikan dia Kay. Aku memperhatikan siluet samping wajahnya perlahan menunjukkan antusiasme. Lalu aku berusaha mendekat perlahan, untuk lebih mendapatkan jarak pandang lebih jelas. Scrolling situs bergerak perlahan mengikuti ketikan jemarinya yang melukis baris-baris puisinya. Aku yakin beberapa menit kemudian tulisannya akan terkirim di forum.

Diam-diam, kubuka koneksi free hot-spot pada laptopku juga. Namun indikator silang merah pada koneksi hotspot tiba-tiba muncul di ujung kanan bawah layar desktopku. Bagaimana tulisannya ? sejenak itulah pertanyaanku pertama kali.

Tanganku yang sudah terlatih dalam kejadian-kejadian seperti segera mengambil portable modem wi-fi 3G yang selalu kubawa-bawa. Memasangnya dengan cepat, dan melakukan perpindahan setting koneksi internet. Aplikasi browser mozilla-firefox yang lebih kusukai itu sudah dapat mengakses forum kembali. Kulihat nama “Khayana” sudah masuk dalam list “newer post” pada halaman depan forum.

Kulirik dia hanya sudah berhenti, mengetik. Halaman situs forum CeritaKita.org yang dibukanya tadi sudah berubah dalam posisi

“The page cannot be displayed “

Posisi kedua telapak tangannya sedang menutupi wajah dan … rupanya dia bahkan tak menyadari kehadiran waiter yang akan meyajikan secangkir kopi pesanannya. Aku tadi hanya merasakan, bahwa harus aku yang bertindak. Di saat-saat kritis dimana hanya aku yang punya kuasa bertindak meluruskan keadaan. Dimana antara titik tragis kesedihan dan titik puncak kesyukuran hanya terpisah tipis sepersekian detik waktu, tak terhitung kejapan mata, sepele, namun kesalahpahaman yang mungkin terjadi bisa sangat traumatis.

Andai … andai … aku tak ada di sana tadi, humhh ..

Mengapa aku yang harus ada, mungkin hanya misteri yang mungkin terlalu panjang untuk dicari alasannya. Cukup aku merasa aku sudah disiapkan oleh “sesuatu” untuk menghadapi saat-saat kritisnya. Ada keterhubungan koneksi, kepedulian yang menarikku kuat, entah itu mengapa, dan lagi-lagi aku harus mengakui “we’re connected”-nya Enade.

Respond to this post