Aku ingat
saat-saat pertama
mengenal setia
serasa kehormatan menyandangnya sebagai bukti
hasil pengejaran cinta
tak kurasakan pengorbanannya karena cinta
tak kurasakan ikatannya karena cinta
tak kurasakan tuntutannya karena cinta
sampai kumerasa telah mampu
meresap habis cinta, menggengam cinta,
… lalu cinta pergi begitu saja
bersama hembusan angin
aku terhenyak
begitu sajakah ?
dan setia tanpa cinta
adalah tanya ketika cabik-cabik itu terus mendera
adalah tanya ketika tak berdaya dalam jeratan
adalah tanya ketika berpaling pun tak mungkin untuk menghindar
mengapa setiaku
ditinggalkan cinta ?
layaknya gurun prahara yang dikutuk
…kehilangan mata air dan sungai-sungai suci
—000—-
Sampai kulupakan kata setia
dan kurobek kata itu dari kamusku
cinta tak pernah datang lagi
sampai hari ini,
aku melihatnya lagi dari sepasang mata kecil itu
aku mengenalnya … sangat khas
begitu saja
menyorotku
merasukku
mematungku
dan …,
detik-detik itu berhenti
dia tersenyum
aku terhipnotis
kuikut sunggingkan senyum
lalu cahaya terangmu cinta
menyilaukanku
membawaku
kedalam ruang pribadimu
kita bercakap-cakap
” Hai, kita bertemu lagi, apa kabarmu ? ” cinta menyapaku
” Buruk sekali, tanpamu ” aku menjawab, berusaha membuatnya merasa turut bersalah
” Kau telah memenjarakanku, mencoba menguasaiku, lalu aku pergi .. itu saja “
cinta tak butuh aku
aku butuh cinta … sangat
” Kehilanganmu hampir membunuhku, cinta ” aku masih berusaha protes
” Itu pilihanmu … “
jawaban yang pendek
aku tak bisa berdebat dengan cinta
cinta tak butuh aku
aku butuh cinta … sangat
” Apa pilihanku ? bahkan setia yang kutunjukkan percuma saja “
aku mulai marah
cinta tetap tenang
cinta tahu akan tetap selalu menang
cinta tak butuh aku
aku butuh cinta … sangat
” Akulah jalan … aku tak mengikutimu maumu, apapun bentuk kesetiaanmu “
cinta menampar mukaku dengan kalimatnya
” Kamu yang meninggalkanku !! dan aku menderita !! “
jerit usaha terakhirku
” Akulah jalan … kamulah yang menyingkir dari jalanku,
kamu telah memilih penderitaanmu sendiri,
aku bahkan sekarang mengajakmu bicara dalam ruang pribadiku,
tapi pilihan selalu ada padamu
memilih jalan kesombonganmu
memilih jalan kerakusanmu
atau jalanku … maka seribu cinta akan kamu dapat “
aku mengangguk
berdamai saja
cinta tak butuh aku
aku butuh cinta … sangat
kulihat cinta tersenyum
dan siluet putih yang menyelubungiku sekejap tersedot menghilang
rasa tubuhku pun perlahan kembali
rasa denyut jantungku menikmatkan oksigen yang merasuk kembali
rasa kelopak mata ini juga perlahan membuka
lalu
kudengar gemerisik ucapan syukur di sekelilingku
beberapa kecupan lembut di keningku
dan saat mata ini sudah memfokus seluruhnya
dia yang kurindukan hadir begitu saja …
” Aku datang .. ” sapanya
” Aku tiba-tiba ingin menemuimu ” alasannya
” Aku melupakan masalah kita ” dia menegaskan agar aku tak ragu
ketika dia memelukku
aku berbisik
” aku sudah bertemu cinta … “
dan dia membalas lirih juga
” cinta mengantarku selalu kembali padamu “
by fixshine
inspired “Zahir”
a novel by Paulo Cuelho
Posted by Oneto on May 14, 2008 at 2:00 pm
Waaaaaaaaaaaaa…………….
Aku PASTI seperti dalam cerita itu…..
Bagus banget…….
Posted by Ita on February 27, 2009 at 8:49 am
waaaaaaa….gue banget neh puisinya
tapi curang, kenapa akhirnya selalu happy ending?
padahal cinta ga selalu ngasih happily ever after….
bikin akhir yang getir dunk, biar sejalan sama realita
thanks banget ya git…bikin gue sadar kalo cinta ga pernah butuh gue
gue yang butuh cinta, dan apapun yang ingin gue lakukan untuk cinta….
itu memang pilihan
Posted by ayux on March 4, 2009 at 1:07 pm
hwaaaaaaaaaaaa………………………….
keren… keren…….
DALEM!!!!!!!