Archive for August, 2007

Cukup hanya Cinta

Cukup hanya Cinta
Ketika diberikan kembali hidupnya
seorang manusia bersujud syukur dihadapan TuhannyaTuhan bertanya,” ciptaan-Ku apa yang kau rasakan ?”
manusia menjawab,” syukur akan karunia hidup dari-Mu “
Tuhan bertanya lagi,” apa balasanmu ? “
manusia menjawab lagi,” melaksanakan kehendak-Mu “
lalu Tuhan Yang Maha Pemurah itu tersenyum
“Menolehlah kamu “
manusia itu menoleh tampak olehnya semekar bunga
“Apa yang kamu rasakan ?”
“Aku [...]

Continue reading »

Tak semudah itu menyabit rumput

Setiap manusia hidup mempunyai misi masing-masing. Hal ini dibuktikan dengan keragaman bakat, dan minat yang berbeda-beda sejak lahir. Namun perlu ilmu agar keahlian yang diharapkan mencapai tingkat mahir,sehingga orang lain dapat berharap pada profesi yang kita tekuni.
======================================
Seorang peternak sapi, biasanya juga seorang pemotong rumput ilalang yang mahir dengan sabitnya. Sabit yang dimiliki para pemotong rumput [...]

Continue reading »

Putih ? cuci sendiri

 
Sebagai makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri. Ketergantungan kepada orang lain adalah suatu hal yang mutlak, disadari atau tidak. Secara positif memang memungkinkan kita agar selalu saling bantu membantu. Namun secara negatif, jika seseorang melakukan hal-hal buruk orang-orang terdekatnya mau tidak mau akan terimbas pula. Reaksi wajar, adalah terpancing menyindir, menjelekkan, mendamprat, dan [...]

Continue reading »

Gapura buat apa (5)

episode Runtuh
Wak Jamin memang membuktikan ucapannya. Minggu-minggu menjelang tanggal 17 Agustus adalah ajang pamer pembangunan Gapura kampung ala one and the only Jamin’s style. Memang ditangani tukang-tukang bangunan yang dibayar mahal, bahkan seorang arsitek profesional dipanggil serius untuk menangani ambisi pribadinya itu. Belum lagi untuk rekaman dan foto-fotonya. Hanya satu yang kurang, tidak ada warga [...]

Continue reading »

Gapura buat apa (4)

episode Ambisi Gapura
Rapat RT akhir Juli ini tiba-tiba Wak Jamin turut hadir. Dalam hati semua orang bertanya-tanya. Ada apa gerangan. Pasti ia membawa maksud-maksud tersembunyi. Dan memang benar, belum lagi Kek Roto mempersilakan hadirin menyampaikan usul-usul, Wak Jamin sudah mengacungkan tangan sepertinya ia tak ingin usulannya akan menjadi prioritas nomor kesekian dalam rapat.
“Kalian semua [...]

Continue reading »

Gapura buat apa (3)

episode Bak Padi Merunduk
Pagi itu Mbok Yah datang ke tempat Kek Roto,
”Mbah .. mpun masak dereng ? kula betakaken sekul pecel niki ..( Kek, sudah masak belum ? Saya bawakan nasi pecel nih..) ” ia memang sering membawakan nasi pecel buat si Kakek.
”Pira … ( berapa ) ?” Kek Roto tampak membuka dompetnya.
”Mboten mboten [...]

Continue reading »

Gapura buat apa (2)

episode Tetangga yang sombong
Kontras sekali dengan Wak Jamin tetanggaku sebelah rumah. Dengar-dengar sih pemilihan ketua RT tahun lalu dia yang paling bernafsu. Dalam hati, aku sendiri tertawa, sekedar ketua RT saja kok ya ngotot. Tapi ya mungkin gengsi tersendiri diantara para warga. Jadi ingat jaman mau pemilihan dulu, dia sempat nyebar-nyebar selebaran foto dirinya untuk [...]

Continue reading »

Gapura buat apa (1)

episode Si Kakek sederhana
Aku mengenalnya sebagai Kek Suroto atau sering dipanggil “Mbah Roto” oleh anak-anak kecil tetangga. Ia memang disukai oleh siapa saja. Tetap tegap di usia senjanya, sekaligus figur pelindung bagi warga RT yang dipimpinnya. Bagiku sendiri dia figure yang menyenangkan untuk berdiskusi tentang perkembangan-perkembangan berita terkini.
Aku senang dengan kesederhanaannya. Aku senang kedisiplinannya yang [...]

Continue reading »

Kan kukibarkan benderaku ..

Besok tanggal 17 Agustus, si Budi kecil siang itu menyelesaikan latihan upacaranya. Sudah seminggu sejak hari penunjukannya ia rajin berlatih sebagai petugas pengibar Sang Merah Putih. Budi kecil sangat bangga dengan tugasnya. Langkah kecilnya selalu paling tegap, beberapa hari sebelumnya ia memang belum dapat menyusuaikan panjang lagu dengan kecepatan mengerek bendera. Namun tidak masalah, 3 [...]

Continue reading »

Ritual makan bersama (7)

(episod terima kasih pada kebersamaan)
Hari-hari pertama sepeninggal ayah adalah terberat … Ibu belum mau duduk di meja makan kami. Ibu masih takut terbawa menyendokkan nasi dan sayur buat ayah, cinta sejatinya. Kak Shinta masih belum bisa bicara juga, aku kesepian, tempat curhatku pun sedang merana. Hanya Kak Raka yang tidak tampak menangis sekalipun, walau tetap [...]

Continue reading »