Dalam keseharian kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Pilihan-pilihan yang menggoda. Namun pada kenyataannya pilihan-pilihan itu seringkali tak semudah semudah antara memilih ksatria putih dan si nenek sihir buruk rupa. Pilihan-pilihan itu selalu diantara kesempatan, tantangan, bahkan ancaman yang semua bermuka manis. Pertentangan antara kebutuhan emosi, logika, keinginan, ketergantungan akan norma, selalu akan menjadi pertaruhan masa depan. Oya, jangan lupa ditambah lagi karena kita tidak hidup sendiri apapun tindakan kita masing-masing akan menimbulkan dampak pada orang lain.
=================================================
Suatu hari yang panas, Sasya akhirnya mendapatkan bus menuju kantornya. Waktu yang mendesak tak memberinya kesempatan memilih bus ber-AC yang kosong penumpang. Si cantik itu terpaksa berdiri terjepit ditengah bau keringat yang sudah tak terdefinisikan lagi. Teriakan-teriakan ‘kenek’ bis, keluhan bisik-bisik adalah nada minor kian membuat risih di kuping. Sasya tak bisa protes. Ia tahu hanya diam satu-satunya yang bisa dilakukan. Dia ingin tidur berdiri saja, tak memikirkan sekeliling, dan sekejap sampai di tujuan.
Ada tangan menarik bajunya pelan. Tersentak dirinya. Ada copet pikirnya waspada.
“Mbak, ambil saja tempat duduk saya, kayaknya di depan bakal macet, cape lho .. berdiri terus” suara ramah itu datang dari seorang pemuda.
Sasya bengong.
Masihkah ada orang baik pikirnya. Segera pikirannya dipenuhi banyak kecurigaan, namun sisi lain dirinya tak kalah kuat mendorongnya untuk menerima tawaran itu.
Pemuda itu tak menunggu persetujuan Sasya, dia segera bangkit berdiri. Tangannya mempersilakan dengan sopan.
“Silakan Mbak …”
“Ehm terima kasih ya..”
Begitu duduk. Hemm.. Sasya merasakan seperti surga dunia.
Tinggal mengatasi gerah yang sudah menyengat dari tadi. Keringat sudah berbulir membasahi lehernya. Aduh … sepertinya masih perlu make-up lagi nih. Beberapa lembar tissue terambil dari tas mungilnya kemudian. Polesan-polesan kecil bedak dan lipstik membuat aura kecantikannya terpancar kembali.
“Selamat siang Bapak dan Ibu sekalian ……perkenankan saya menyanyikan beberapa nomor romantis dari ….” Oww oww ternyata pengamen dari ujung depan. Hum live-music nih. Melantunlah dari mulut pengamen itu lagu-lagu yang kebetulan favorit Sasya. Menit-menit berlalu, melayangkan Sasya pada kenangan-kenangan indah. Dia tampak tersenyum-senyum sendiri.
“Terima kasih …. semoga selamat sampai di tujuan..” dan tak harus menunggu 1 menit agar kantong bekas permen itu ada di depan paras manis Sasya. Terkejut sebentar dia dibuatnya. Pengamen pun dari lubuk hatinya paling dalam tak mau gratisan menyanyi. Gugup Sasya membuka dompet. Namun akhirnya 1 keping logam seribuan yang tersisa masuk juga ke dalam kantong itu. Pengamen lusuh itu cepat mengedarkan kantongnya menuju ke bagian belakang bus.
Mata Sasya tanpa sadar mengikuti sekilas gerak pengamen itu. Dia membayangkan pengamen itu pasti setidaknya sudah penuh kantongnya dengan uang receh. Apalagi kalau banyak orang yang memberi sebaik dia. Ah, ga pa pa pikirnya justru mereka tempat kaum berlebih untuk berderma.
Tiba-tiba matanya tertahan pada sebentuk wajah. Wajah seorang pemuda yang sepertinya sangat dikenalnya. Dan ….oops ketika si pemilik wajah itu merasa diperhatikan dia tersenyum. Sasya ingat.. .. , wajah itu kan wajah pemuda yang mempersilakan dia duduk tadi, yang rela memberikan tempat duduknya untuk kenyamanannya sekarang.
Sasya tersentak. Ia bahkan belum setidaknya menyapa dan mengenal pemuda baik itu. Dan lihatlah, meskipun ia tidak dibayar dengan kerelaannya terhadap Sasya, ia masih ramah dengan senyumnya.
Sasya malu. Senyum balasanya agak bersemu merah. Sasya semakin tak berani menengok ke belakang lagi beberapa saat.
“Permisi Mbak, Saya duluan yak .. di depan itu saya turun” ada bisik di belakang telinganya, dan setipis raba di lengannya. Sasya tersentak kembali. Ia tahu pasti pemuda penolong itu. Tetapi ketika Sasya mendongak untuk memastikan, dia itu sudah lenyap di balik kerumunan orang yang akan turun.
Sasya hanya melihat dia akan menyeberang jalan. Dia ingin melambaikan tangan. Namun mungkin tak ada gunanya lagi. Dia hanya berdoa semoga Tuhan membalas kerelaannya.
======================================
Bagaimana dengan pilihan anda ? masihkah anda sering terlibat dengan emosi ? Emosi adalah cahaya seni hidup manusia. Merasakan cinta, kasih juga sakit hati semua karena emosi. tapi memperturutkannya tanpa logika hanyalah seperti mempertaruhkan pribadi pada nasib baik. Karena nasib baik itu bisa dipersiapkan, bukan hanya ditunggu pertaruhannya.
Posted by uong on December 11, 2006 at 4:47 pm
Hmm… kalau mnurut gue seh emang suatu kewajiban lah bagi kita2 yang masih muda ini jika ngeliat orang tua berdiri palagi cewek manis semanis sasya didlaam bis berdiri bergelantungan. Ntar dikira monyet manis lage atraksi hehehe.kalau bisa setelah ngasih duduk ke cewek entu kita ajak ngobrol siapa tau doi ngasih nomer Hpnya horeee….!!!
Posted by Kang Kombor on March 14, 2007 at 1:07 pm
Gue bingung. Pemuda yang ngasih tempat duduk itu bukan yang ngamen toh?
Posted by Anak Sultan on March 14, 2007 at 4:39 pm
sudah tegang baca ceritanya, saya kira tu pemuda bakalan nyopet dengan pura-pura baik..hehehe satu lagi contoh memilih dengan emosi dari saya.
Posted by maya on December 28, 2007 at 10:54 pm
Emosi?,…mmh sering banget dech si EMOSI ini nempel di dirikita, ya karena kita sebagai manusia yang masih hidup so pasti punya emosi, cuma emosi yang seperti apa dulu.Emosi terkadang berdampak baik dan buruk bagi seseorang.Mmmmh…baca tulisan2x..mas sigit…beri aq in put neh soal soul…Manusia tidak akan pernah terlepas dari EMOSI, Nah..kalo gak punya EMOSI itu yang harus dipertanyakan. Anda gimana????