Lalat yang setia

Sasya kecil dan bundanya melewati jalan kecil itu. Ada yang rasanya berbeda hari ini ketika akan dilewati. Dari jarak 100 meter sudah mulai tercium bau busuk. Semakin mereka mendekat semakin menyekat hidung.

“Sasya tutup hidungmu dengan sapu tangan ini ..”
“Bau apa ini, ..Ma ?”
“Hati-hati dengan jalanmu sayang, liat di ujung jalan itu ..”

Mama menunjuk onggokan kotoran binatang, yang sepertinya baru, dan belum ada yang membersihkan. Tampak banyak lalat mengerubunginya. Hanya lalat saja. Entah apa yang dicari lalat-lalat itu. Orang-orang lain yang lewat pun bukan saja menutup hidung, bahkan segera memalingkan muka, jijik melihatnya. Beberapa menggerutu, berusaha berlalu secepat mungkin. Jalan itu kali ini benar-benar menjadi sangat tidak nyaman untuk dilewati.

Setelah melewati onggokan yang menjijikkan itu, Mama dan Sasya kecil sudah mulai dapat bernafas lega. Memasuki halaman rumahnya yang penuh bunga, keduanya tampak sangat menikmati keharuman yang semerbak menyusup. Sejenak menghapus sepenggal kenang tentang detik-detik menjijikkan yang sudah berlalu.

“Aduh untung cepat sampai rumah ya, Ma..”
Si putri kecil senang sekali memetik beberapa tangkai bunga dan menciumi keharumannya.

“Beberapa tangkai itu nanti masukkan ke vas bunga ini ya..”
“Supaya ruang kamar kita menjadi harum juga ya..Ma”

Sebentar kemudian serangkaian bunga lama yang sudah layu sudah tergantikan dengan yang baru. Ruangan kamar menjadi segar mewangi kembali dibuatnya.

==============================

“Ma .. kira-kira kapan bau busuk di ujung gang tadi hilang ya ? “
“Kenapa memangnya ?”
“Kalau aku berangkat sekolah, kan selalu lewat situ”
“Ya kita hanya berharap, tukang sapu jalan segera membuangnya. Kalau tidak yang tunggu sampai kotoran binatang itu mengering..nanti baunya hilang sendiri..”
“Lalat-lalat itu mengerubungi sampai kotoran itu mengering ya Ma ?”

Oww oww si putri kecil pintar sekali. Dia menaruh perhatian pada perilaku lalat-lalat yang tampak sering hanya sebagai makhluk pengganggu selama ini.

“Hati-hati dengan lalat-lalat itu, sayang. Lalat-lalat itu pembawa kuman-kuman penyakit. Jangan jajan sembarangan di dekat situ ya ..” Mama dengan sabar mengingatkan
“Tapi lalat-lalat itu baik juga lho, mereka itu bukankah temansetia bagi kotoran binatang itu ?”

Mama tercenung sesaat. Putri kecil kesayangannya itu, tak disangka menyuarakan kepedulian yang tak biasa dirasakan orang lain.

Dalam hati Mama membenarkan. Bahkan sering Mama menitipkan pesan pada petugas kebersihan untuk minta onggokan kotoran kering sebagai pupuk kompos bagi tanaman bunganya. Bunga-bunganya tumbuh subur dari pupuk alami semacam itu. Ya sering kali terima beres, hasil jadi yang sudah siap pakai, lupa akan proses terjadinya pupuk kompos itu.

” Tidak seperti lebah atau kupu-kupu yang hanya mau hinggap pada bunga-bunga yang mekar. Tentu saja mereka mau dekat kita saja suka. Kalau bunga sudah indah dipandang, harum baunya, pasti semuanya mau dekat-dekat. Tapi sayangnya karena lebah dan kupu-kupu itulah sebentar kemudian pasti bunga-bunga itu akan layu … dan pagi-pagi kita harus membersihkan guguran bunganya yang sudah mengering…”

Sasya terus berceloteh. Tanpa sengaja memapar kesadaran baru. Bahwa lalat-lalat yang sering dituduh sebagai biang segala kesusahan, ternyata punya sifat mulia yang perlu diteladani. Lalat-lalat yang sering dipandang jijik mengajarkan kesetiaan dan kecintaan pada sesuatu yang sudah terbuang. Adalah wajar kesenangan akan keindahan dan kemewahan. Tapi ketika sewajarnya kondisi berubah menjadi terburuk melalui perputaran nasib, siapa teman mereka yang terbuang ? siapa teman setia saat-saat kejatuhan ? saat semua pergi karena tak didapati lagi keindahan, keuntungan, kemegahan, siapa teman yang mau mendekat ? hanya kumpulan lalat.

Pada kumpulan lalatlah bau busuk keluh kesah rela dihirup, tak segan bercengkerama dengan rupa jijik yang sudah terbuang, hingga masa mengeringkan segala kesakitan menjadi kompos kehidupan. Kompos kehidupan yang menjadi tumpukan pelajaran hidup, sebagai sari pati yang akan bersatu dengan bumi Bunda Pertiwi. Dari tanah yang tersuburkan kompos kehidupan itu tumbuhlah bunga-bunga yang semerbak mengharumkan dunia.

“Ma .. Mama seperti lalat-lalat itu ” Sasya mengedip penuh arti
“Maksudmu ? ” dengan pandang penuh selidik.
“Jika aku sakit hanya mama yang paling setia mengurus aku, dari memandikan sampai membersihkan bekas muntahanku, menunggui aku sampai aku sembuh …”

Mama tak tahan lagi mendengar celoteh tulus putri kesayangannya. Matanya berkaca-kaca haru. Ia peluk penuh kasih Sasya kesayangannya.

“Tentu sayangku, tentu …. demi kamu Mama rela selalu menjadi lalat buatmu ..”

by fixshine

Terbangkan layang – layang itu

Sore itu Budi kecil sudah berlari-lari ke lapangan. Ia mengajak pamannya. Sehabis oleh-oleh sebuah layang-layang lengkap dengan gulungan tali, dia tampak bersemangat sekali. Sebelum ini dia memang sering memandang banyak layang-layang yang beterbangan diatas langit rumahnya. Budi kecil sangat ingin menerbangkan layang-layangnya sendiri.

“Hati-hati, Nak. Tetap main layang-layang disamping pamanmu ya..” begitu pesan Bunda tadi sebelum berangkat. Bukannya tanpa alasan anak-anak seringkali terpancing mengejar layangan putus, entah kenapa. Kalau sudah begitu mereka tidak memperhatikan lagi bahaya. Yang penting siapa cepat siapa dapat. Akibatnya malang tak dapat ditolak banyak kecelakan fatal terjadi. Belum lagi pagar – pagar tetangga yang rusak karena sering dilanggar gerombolan anak-anak nakal pengejar layangan putus itu.

“Paman aku yang menarik talinya ya ..”
Budi kecil meminta pamannya memegang layang-layang itu. Lalu dengan semangatnya ia menarik tali sekeras-kerasnya.
“Pelan-pelan Budi .., hati-hati nanti layang-layangnya rusak “
Menerbangkan layangan memang bukan perkara gampang, jika asal tarik layang-layang akan justru terjerembab jatuh, parahnya terseret-seret ditanah, dan tentu saja merusak kertas layangannya.

Benar saja kecerobohan selalu harus dibayar. Satu layang-layang Budi sobek sebelum sempat terbang.
“Tenang Budi, masih ada beberapa kan yang kita bawa, bantu paman mengikat talinya nanti gantian paman ajari menerbangkannya ..” hibur paman baik hati itu.
Beberapa saat kemudian tampak keduanya berganti posisi. Budi berdiri memegangi layang-layang yang baru. Sedangkan pamannya tampak tenang mengulur tali, kemudian perlahan menariknya. “Jangan kau pegang terlalu keras Budi, rasakan tarikan tali ini lalu lepaskan ..”
Perlahan namun pasti layang-layang itu naik diiring tiupan lembut angin. Pamannya tampak sesekali mengulur tali untuk menambah ketinggian, dan menarik-narik tali agar ketinggian stabil. Budi serius memperhatikan keahlian pamannya itu. Semakin besar saja tekadnya agar bisa menaikkan layang-layang sendiri.

“Budi sini, … nah layang-layangnya sudah terbang, coba kau pegang talinya…”
Paman mempercayakan layang-layang itu pada Budi. Budi merasakan ada tekanan tertentu pada tali layang-layang itu.
“Kenapa talinya jadi berat paman ? “
“Itu karena layang-layangmu terus ditiup tenaga angin di atas sana, sehingga dapat terus terbang..”

Budi masih terpana dengan sensasi memegang tali layang-layang yang sedang terbang itu. Sampai beberapa saat kemudian ada layang-layang merah mendekat.
“Awas Budi … layang-layangmu sedang diincar layang-layang merah itu !” paman segera memperingatkan
“Apa yang harus kulakukan ?”
“Gerakkan tanganmu ke kanan, tarik – tarik ke kanan, usahakan lebih rendah dari layang-layang merah itu ..”
Rupanya fase paling menarik dalam bermain layang-layang sedang terjadi. Adu layang-layang memang lazim terjadi di lapangan ini. Biasanya benang layangan sudah diberi “gelasan” semacam lem yang sudah bercampur bubur pecahan beling. Sehingga jika dua layang-layang sedang beradu di udara sebenarnya yang terjadi mereka sedang mengadu siapa yang mempunyai benang “gelasan” paling tajam.

Budi yang menyadari ancaman terhadap layang-layang miliknya berusaha sebisanya menghindarkan diri dari kejaran layan-layang merah itu. Namun apa daya tangan kecilnyal belum seahli pemilik layang-layang merah. Tak sampai lima menit tekanan tali yang dipegangnya melemah mendadak. Rupanya benang gelasan si layang-layang merah berhasil menggesek layang-layang miliknya. Paman dan Budi hanya bisa melihat sebuah layang-layang terbolak balik oleh angin , menjauh tak tentu arah, lalu di ujung jauh terdengar sorak sorai ,” Horeee .. ada layangan putus ..” dan segerombolan anak-anak lain mengejar layang-layang Budi.

Budi tampak kecewa.
“Kenapa benang ini tidak diberi lem gelasan sih , paman ?”
“Ya karena tanganmu akan tergores-gores … liat tangan paman ini …”
Budi terkejut selama ini tak begitu memperhatikan. Telapak tangan pamannya penuh gores-gores kecil, rupanya inilah hasil bermain benang gelasan.

“Budi kamu tak perlu mempunyai banyak bekas luka seperti paman …, kamu cukup menikmati bermain layang-layang saja, dan belajar makna permainannya …”
“Ah maksud paman seperti ajaran Bunda tentang perbuatan-perbuatan baik ? kan hanya permainan masak sie ? “
“Tentu saja, kalau kamu mau belajar … dan tidak bandel apalagi ikut mengejar layangan seperti anak-anak nakal itu “
“Kalau begitu coba lagi menerbangkan layang-layang satunya itu paman …”

Paman mengajak Budi memilih tempat agak ke bagian sudut lapangan luas itu. Paman tidak ingin mengulangi kesalahan tempat sehingga dikira ikut main adu layangan.
“Bermain layangan itu adalah pelajaran berani menaruh cita – cita setinggi langit, berani belajar menerbangkan sesuatu seringan layang-layang ke atas langit tanpa batas …”
“Wow .. betul juga paman, tapi tadi susah sekali sepertinya kucoba sendiri paman ..”
Kali ini Budi diberikan kesempatan belajar menerbangkan sendiri.
“Memang ada cara yang kelihatannya mudah seperti paman tadi, tapi kuncinya harus pantang menyerah memulai sesuatu, karena kegagalan memulai akan menuntun kita pada gilirannya menemukan cara sendiri untuk memulai sesuatu dengan benar sesuai pengalaman .. “
Paman memegangi layang-layang dan Budi bersiap menarik talinya dengan jarak beberapa meter didepannya.
“Hati – hati Budi, ingat rasakan hembusan angin, setelah layang-layang ini lepas, tarik pelan, ulur sedikit, tarik lagi, ulur lagi … !”

Sekali gagal.
Dua kali gagal lagi.
Ketiga kali nya lebih parah, untung paman menangkap layang-layang itu.
Keempat kali layang-layang itu bisa naik mulus tapi ketika diulur hembusan angin berkurang sehingga hampir saja tersangkut pohon.
Kelima kalinya setelah benar-benar memperhatikan kuat lemahnya hembusan dan arah angin layang-layang itu berhasil juga diterbangkan.

“Horeee … terbang paman! terbang paman ! “
Tampak acungan jempol paman dan tepukan tangan.

“Jadi kuncinya tarik-ulur di saat yang tepat ya paman …”
Paman membenarkan.
“Tarik-ulur adalah pelajaran hidup yang berharga ..”
Kemudian sambil menikmati sensasi tarian layangan itu di panorama biru langit, paman menjelaskan lebih lanjut. Tarik-ulur diartikan dengan antara menahan diri dan memberi kesempatan sesuatu dalam diri kita berkembang. Sedangkan kuat dan tidaknya hembusan angin adalah lingkungan pendukung kita sehari-hari, selalu ada dan bisa pergi sewaktu, karena itu belajar dari pengalaman kejelian sangat diperlukan.

“Menahan diri itu seperti apa paman ? “
Paman menjelaskan tentang adanya batasan norma. Memulai segala sesuatu harus dengan norma yang benar, niat yang benar, tindakan-tindakan yang terpuji.
“Jika kamu ingin dapat nilai bagus dalam ujian, kamu harus bertekad tidak mencontek teman, kamu harus menahan diri tidak menonton kartun saat jam belajar malam dirumah, kamu harus rajin mengerjakan setiap pekerjaan rumah…”
“Tapi teman yang mencontek nilainya biasanya lebih bagus paman ..”
“Mungkin benar .. tapi tidak ada gunanya, masih ingat ketika kamu terlambat menarik layangan ketika hembusan angin berkurang tadi ?”
“Oiya … layang-layangnya hampir saja tersangkut pohon, untung paman bantu menariknya..”
Tanpa norma yang benar, manusia hanya menggantungkan diri pada nasib, pada orang lain, atau pada sesuatu yang tidak pasti. Norma yang benar akan mendidik diri sendiri untuk suatu pengendalian.

“Jika ingin nilaimu bagus satu-satunya jalan terbaik ya perhatikan setiap ajaran Bapak dan Ibu Guru, mengulang pelajaran sendiri di rumah …dan “
“.. itu berarti aku yang menentukan sendiri hasil belajarku ya paman, tapi kalau nilainya tetap jelek ? “
“Kamu benar-benar mengerti yang kau pelajari ?”
“Tentu saja …Paman “
“Kalau begitu ilmumu tidak akan hilang, biar saja nilaimu tertinggal di raport tapi ilmumu tidak”
Paman lalu menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah salah memberikan berkah. Bisa saja orang lain menjadi kaya dengan cara tidak halal, tetapi di akhir hari mereka hanya menuai derita terhina dan bahkan bisa masuk penjara. Tetaplah di garis ajaran-Nya maka berkah usaha hanya masalah sekeras apa dalam berusaha.
“Kemudian tentang ulur, sederhananya kamu harus cerdik ..”
“Maksudnya paman ? untuk bersaing dengan teman-temanku yang suka mencontek ?”
Bahwa manusia harus berprestasi adalah wajib. Bahwa ada keterbatasan norma, waktu, dan kesempatan juga adalah suatu kewajaran. Namun hanya menunggu nasib baik prestasi hanyalah mimpi.
“Jadi apa yang harus kulakukan …”
“Kamu harus memberi kesempatan, mengusahakan segala cara untuk bisa selain mencontek tadi. Bisa kan kamu bertanya ke Pak Guru, belajar pada teman yang lebih pintar, berlatih lebih banyak soal-soal di buku “
Budi mengangguk mengerti.

Layang-layang itu masih menari di angkasa. Hembusan – hembusan segar semilir angin masih membuai mereka. Sementara ditengah lapangan beberapa layang-layang lain masih bertanding, Budi dan pamannya tampak masih berbincang tentang makna-makna permainan layang-layang.
“Lihat Budi bahkan setelah layang-layang itu mengangkasa dengan tenangnya hal itu masih menandakan sesuatu hal “
“Apa itu ..Paman ” ia menengadahkan kepala mencari-cari.
“Keseimbangan .. lagi-lagi keseimbangan , kemapanan, ketegaran ..”
Budi belum mengerti, tatap matanya masih kosong.
“Apa yang kamu rasakan pada tali itu ?”
“Tekanan, serasa beban .. apalagi kalau angin sedang bertiup kencang “
Memang benar selalu ada tekanan, selalu ada beban, bahkan seringkali disebut cobaan dalam setiap usaha. Tidak mungkin ada itu semua karena hanya hembusan anginlah yang membawa layang-layang gagah mengangkasa, karena hanya hembusan angin yang dirasakan sebagai beban itulah yang akan membawa kesuksesan. Bersahabatlah dengan tekanan, beban. Peluklah cobaan sebagai jalan menuju setiap tangga prestasi.

“Tapi kita sendiri harus terus melakukan tarik – ulur kan Paman ?”
“Benar Budi, namun jika sudah diatas sana cukup dengan menahannya, tinggal waspada saja jika kamu sudah di puncak prestasimu ..”
“Apa yang ditakuti ketika sudah mencapai puncak ? bukankan segalanya sudah tercapai ?”
Paman menjawabnya cerdik.
“Jika kau lepas pegangan tali ini kira-kira apa yang terjadi ?”
“Ups .. seperti layangan putus .. terbang lepas tanpa arah .. “
“Itulah jawabannya ..maka tetap pegang erat talimu, waspadalah ” tegas Paman.

Puncak – puncak kemenangan dan pencapaian mimpi selalu didamba setiap manusia. Kita akan selalu dihadapkan 3 pertanyaan,
bagaimana memulainya,
bagaimana berjuang mencapainya,
dan bagaimana menyikapi ketika sudah tercapai.

Harmoni dalam prestasi adalah jawabannya. Maka biarlah angin memacu terbang layang-layang itu, lepas ulur talimu. Namun tetap kekang talimu, tarik untuk seimbangkan laju terbangnya, kendalikan arahnya, dan jika sampai di ketinggian angkasa tetaplah waspada. Tali itu adalah pegangan dan jaminan kejayaanmu. Tali itu adalah pagar-pagar norma dalam setiap langkah pikiran, hati, dan perbuatan. Dengannya kemenanganmu berarti, tanpanya hanya kesia-siaan.

by fixshine

Belajar pada Bola

“Paman, nonton bola di lapangan kota yuk ..” ajak Budi kecil.
“Lha, kan ada siaran langsungnya di TV nanti sore ..”
“Pengin ngerasain ramainya aja, sekali-sekali boleh kan … ?”
“Ya minta ijin dulu mamamu sana ….”

Sebulan sekali kota ini memang menjadi ajang pertandingan kesebelasan-kesebelasan terkemuka negeri ini. Harga karcisnya sih relatif tidak terlalu mahal. Karena sepak bola adalah olahraga paling merakyat sedunia. Dibuat mahal dan sekaligus sangat bergengsi jadilah World Cup, namun dibuat semurah-murahnya juga bisa hanya modal sebuah bola, lapangan, dan penanda gawang. Siapapun sebenarnya bisa memainkannya, bahkan konon pemain-pemain dunia asal Brasil misalnya banyak yang berasal dari sepakbola jalanan. Sampai sedemikian cintanya terhadap bola, mereka mengasah keahliannya tidak tanggung-tangung hingga mencapai impiannya sebagai pemain dunia yang profesional.

“Boleh saja, tapi hati-hati yak, segera pulang … kalau ada gejala akan terjadi keributan ” pesan mama.

Menonton bola di stadion memang punya nuansa lain. Karena keterlibatan suporter begitu terasa. Kesebelasan tuan rumah biasanya lebih percaya diri, namun sayang kadang-kadang ada saja suporter fanatik yang membuat aksi-aksi berlebihan yang destruktif. Padahal pertandingan olahraga selalu mengajarkan sportifitas. Karena setiap pertandingan ketika dua kubu bertanding akan selalu ada yang kalah dan menang. Semangat bertarung ada dalam pertandingan, selesai bertanding semua adalah kawan. Saling memuji kelebihan, saling mengoreksi kekurangan. Maka wajar ketika musim pertandingan Liga berakhir antar kesebelasan saling mentransfer pemain, kalau harus fanatik sungguh mengherankan .. sebuah renungan, fanatik terhadap apa dan siapa. Demikian pula denga suporter, kapan lagi ketemu dengan “orang-orang baru” dari lain daerah. Kelompok suporter kesebelasan lawan adalah tamu juga. Mungkin suatu saat kita akan bersama menjadi suporter bersama jika kesebelasan nasional negeri ini sedang berjuang melawan kesebelasan negara lain.

“Paman kita membawa atribut apa ya ? “
“Ha ha .. kamu mau dicoret-coret ? ga usahlah nanti mamamu marah-marah ..”
“He he biar keren kalau ketangkep kamera TV “
“Tenang .. biasanya di samping stadion pasti banyak yang jual kaos atau bendera-bendera kecil lambang kesebelasan ko ..” Paman selalu tak kalah akal.

Sportifitas itu indah karena ditengah aroma pertarungan saling mengalahkan, kehormatan menaati aturan tetap di atas segalanya. Pemain memang benar adalah bagian dari kemenangan sebuah tim kesebelasan. Namun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, adalah cela prestasinya. Apa artinya kemenangan tanpa kehormatan ? Apa artinya peluh dan kepenatan jika hanya mendapat kehinaan dan ejekan ?

Kuatnya emosi-emosi antara dukungan, celaan, sorak-sorai, dan tentu saja caci maki … hanya dapat di nikmati di lapangan sesungguhnya. Realitasnya memang begitu. Tak seindah warna aslinya, tak seseru aksi sesungguhnya di depan mata kira-kira begitu.

Budi kecil dan Paman menikmati benar pertandingan itu. Budi kecil larut dalam semangat mendukung kesebelasan. Ia melompat-lompat di atas kursi stadion, sambil memutar-mutar bendera kecil berlambang kesebelasan kota.
“Ayoo … oper kekanan lagi, giring lagi, yakkk tendang …” jika pemain depan sedang maju ke depan.
“Semua mundurrr ke belakanggg ….” wah lagaknya sudah bersaing dengan pelatih kesebelasan saja.
dan tentu saja teriakan paling kencang ,” GOOOLLLLLLL !!!!” adalah wajib ketika akhirnya kesebelasan kota mampu menciptakan meraih point, dengan sebuah tendangan jitu.

Paman yang berpengalaman, segera mengajak pulang ketika peluit akhir pertandingan ditiup. Padahal Budi kecil masih merengek, ” Nanti saja Paman, aku mau minta tanda tangan pemain yang mencetak goal tadi ..”.
“Sudahlah ada yang lebih penting dari sekedar tanda tangan …” bujuk Paman, yang kemudian segera merenggut Budi kecil dalam gendongan pelukannya. Kekecewaan sudah pasti terpancar dari wajahnya, tapi wajar anak-anak memang selalu begitu, tapi sebentar juga akan hilang.

Segera keluar atau terjebak kemacetan di pintu keluar hanya itu pilihannya. Jika sudah terjebak segalanya akan beresiko, dari bahaya tukang copet sampai terjepit, jatuh, bahkan terinjak-injak. Mereka keluar di saat sebagaian besar penonton sedang bersorak-sorai merayakan kemenangan kesebelasan kota. Tak apalah tanggung jawab Paman adalah membawa Budi kecil kembali ke rumah dengan selamat. Sebagai gantinya Paman mengajaknya berjalan-jalan melihat keramaian kota sore hari.

“Menurutmu apa yang paling menarik dari pertandingan tadi ?”
“Tentu goal-nya dong Paman ..he he ” Budi mengacungkan dua jempolnya, lalu sederet ocehan tentang prosesi terjadinya goal tadi meluncur lancar sekali.
“Kalau dibandingkan pertandingan-pertandingan bola yang lain apa sih yang paling menarik ?” Paman memancing pendapat lagi.
“Wah ya harus lihat-lihat pemainnya dong … eh Paman sekali-kali kita jadi suporter kesebelasan pergi ke kota lain yuuk …”
“Wah perlu ijin tingkat tinggi itu .. ha ha ha ” keduanya tertawa sambil membayangkan mama yang sudah pasti akan cemas sambil mengomel sayang sana sini.
“Yang paling keren jelas mars suporter kesebelasan kita dong .. ” lalu dengan sigap Budi langsung menyanyikan mars yang sangat dihafalnya itu, benar-benar suporter sejati rupanya.
“Ha ha semuanya salah ..” jawab Paman.
“Lalu yang benar ?”
“Ya yang benar tentu bolanya, namanya juga sepak bola …” Paman tersenyum penuh kemenanganm dan Budi kecil hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.

Bola yang bulat kenyal. Bola yang kalau ditendang gampang melenting. Bola menjadi sasaran tendangan 22 orang dalam satu lapangan. Bola yang selalu dikejar dalam 2 x 45 menit, bahkan perpanjangan waktu jika perlu. Bola yang sederhana dalam bentuk apa istimewanya, apakah mengajarkan sesuatu ?

“Bola itu mempunyai sejarah panjang bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, dan sepanjang itu bola mengajarkan sesuatu yang sangat konsisten …”
“Ah paman salah, pemainnya dong yang benar, kan makin modern makin banyak goal-goal indah tercipta… jadi pemain lebih penting dong ..” kritis juga rupanya.
“Bola itu mengajarkan tentang sebab – akibat, bahkan pemain paling hebat pun tak selalu bisa mengeluarkan tendangan mautnya kan ? “

Budi kecil manggut-manggut mulai mengerti. Memang benar betapapun kuat atau cerdik seorang pemain di hadapan bola hanya ada dua aturan, tendangan kuat akan melenting jauh, tendangan lemah akan hanya menggelinding dekat. Bola tidak pernah ingkar akan hukum ini, siapapun pemain yang menendangnya.

“Tapi bentuk lengkungan hasil tendanganya kan berbeda-beda ..? “
“Apalagi masalah itu … bola sangat sensitif”
“Bola bisa ngambek gitu …?” Budi kecil mengekpresikan mimik ngambek khas anak kecil.
“Jelass dong, lengkungan indah sebuah tendangan hanya bisa dihasil dengan latihan berkali-kali … tidak ada cara lain “
“Jadi bola menuntut kita untuk bekerja keras latihan gitu ?”
“Ga pernah denger kan … ada pemain bola hebat muncul karena baru belajarbeberapa hari ?”
“Wuihh ..betul juga ya, Paman ..” kali ini Budi kecil menggeleng-gelengkan kepala.

Tidak ada yang instant dalam bola. Meskipun buku panduan bermain bola sudah banyak tercetak. Tapi membaca dan tahu saja tidak cukup. Harus praktek, harus latihan. Komentator bola boleh menceritakan indahnya sebuah tendangan, atau bahkan teknik operan bola dalam kerjasama tim. Namun mengulang teknik yang sama tidak cukup hanya dengan mendengar rahasia tekniknya. Sudut dan kekuatan tendang yang berbeda sangat menentukan hasil tendangan itu. Belum lagi masalah stamina yang harus terus dijaga, karena jika tidak ketrampilan bermain olah bola ini pasti ikut berkurang pula.

“Tahu bedanya permainan sepak bola kampungan dengan profesional ?”
“Ya paling-paling kalau profesional itu keliatan ga asal tendang saja ..paman he he, soale kalau aku main sama temen-temen ngegolin belum tentu dikerubutin pasti …” si Budi kecil malah curhat.
“Betul sekali … bola juga mengajarkan sebuah tim harus bekerjasama, seorang pemain ga boleh menang sendiri … seenaknya ingin ngegolin sendiri … ya hasilnya pasti dikerubutin “
“Salah-salah bukan bola tapi kaki jadi korban ya Paman …. he he ” tawa mereka bersama.

Ada organisasi tim, ada formasi serangan dan bertahan, dan tiap posisi-posisi dalam kesebelasan tidak bisa sembarangan ditempati. Mencetak gol memang hak bagi tiap pemain, bahkan kiper pun bisa. Namun disiplin terhadap posisi adalah faktor utama permainan. Bola yang bulat ketika ditendang dapat ke sudut mana pun dalam lapangan oleh karena itu tiap individu kesebelasan harus siap mengejarnya ke segala penjuru kemudian mengarahkannya ke satu tujuan yaitu gawang lawan. Bola mengajarkan kedisiplinan tanpa ampun, kelalaian menjaga suatu celah selalu menjadi awal terjadinya gol bagi kesebelasan lawan. Kemenangan pertandingan bola selalu datang pada kesebelasan yang paling disiplin dalam posisi-posisi pemainnya. Karena pada gilirannya kerjasama operan-operan bola pada posisi-posisi yang sudah terorganisasi paling baiklah yang paling memungkinkan terjadinya gol-gol.

“Makanya posisi striker penyerang itu ga selalu istimewa .. karena bergantung pada operan bola dari belakang .. “
“Berarti bermain bola enggak selalu harus ngegolin yak ? “
“Ya karena namanya saja pertandingan antar kesebelasan bukan sekedar adu kiper .. ya kan “
“Oya jadi inget tiap kesebelasan selalu punya kapten tim .. buat apa sih itu ?”
“Nah … betul sepak bola kampungan pasti ga kenal namanya kapten … “
“Dan ga ada wasit …. yang nyemprit-nyemprit … ” Budi kecil menimpali riang.
“Bola itu kan liar ditendang sana-sini mau saja, kalau masing-masing pemain nendang semaunya ya repot toh. Kapten tim adalah pemimpin arah kerjasama tim di lapangan … tanpa kapten arah serangan kan ga punya arah, karena tiap pemain bisa nendang semaunya sendiri … jadi untuk menciptakan permainan yang baik, bola juga menuntut adanya kapten tim yang jago, yang tahu kapan saatnya menyerang, dan siaga terhadap serangan balik …. “
“Bola tunduk pada kapten tim yang paling jago untuk menang ya kalau begitu… ” Budi kecil mengacungkan jempolnya.

Permainan bola memang menarik karena tidak hanya sekedar bola yang ditendang ke gawang yang dijaga kiper. Ada seni didalam permainannya. Seni itu datang karena bola sangat fair dengan aturan sebab-akibatnya. Oleh karena itu tiap pemain akan terpacu keahliannya, kekuatannya, juga kecerdikannya yang kesemuanya itu harus terpadu dalam kerjasama tim yang dipimpin oleh seorang kapten kesebelasan. Pemain – pemain akan berganti, strategi-strategi akan terus dirancang .. tetapi bola yang bulat tetap disiplin dengan ketegasannya memilih pemenang, sehingga tanpa “fairness” kemenangan dalam pertandingan bola tak akan punya kehormatan.

====================

Budi kecil dan paman tiba di counter-sport di mall. Di etalase di pamerkan banyak bola dijual, dari yang terkecil bola golf sampai yang terbesar bola basket. Di padu gambar-gambar aksi pemain-pemain dunia, pengunjung tanpa sadar beberapa menyempatkan waktu beberapa menit terpaku memandangnya. Budi kecil yang tak luput dari kekaguman, ia menunjuk-nunjuk gambar-gambar itu. Dengan gayanya yang polos … dia menirukan gaya aksi pemain-pemain dunia itu. Wah serasa sudah menjadi atlit beneran. Cape beraksi Budi kecil akhirnya hanya melongo menempelkan wajahnya ke kaca etalase.

“Bola itu kenapa dalamnya kosong ya paman ? apakah benar-benar hanya bulatan kulit luar yang kenyal ? “
“Ya memang harus kosong , agar bisa melenting jauh kalau dipukul ..” jelas paman atas pertanyaan kritis Budi kecil.
“Kosong ?? ga ada apa-apa ko bisa melenting ? “
Paman tersenyum berpikir sejenak, lalu sambil tersenyum menjawab.
“Sebenarnya ada udara juga didalamnya, tapi itulah hebatnya kekosongan ruang itulah yang membuat melenting jauh … dan tentu saja kita mendapat pelajaran hidup dari situ juga ..”
“Wah jadi bukan perkara sepele yak ? “
“Setiap pukulan disatu sisi akan langsung diteruskan sempurna secara simultan ke sisi lain ..prinsipnya begitu tentu saja nanti ukuran-ukuran seberapa besar tekanan udara di dalam bola dan kekenyalan kulit luar akan menentukan jauh lentingan bola … ” tampak ilmuwan saja paman satu ini menjelaskan kembali.
“Oh pantes .. bola basket dan bola sepak ada lubang kecil tempat memompa udara .., hebat ya udara itu ” Budi kecil membuat gerakan tepuk tangan.
“Dan pelajaran hidupnya … ketika menerima cobaan dan ujian dimana pun dan kapan pun jadilah manusia itu seperti bola “
“Agar bisa melenting ? … memangnya sedang main ? “
“Agar bisa maju melesat dong .. ” Paman tersenyum mantap.

Hidup manusia adalah wajar akan selalu menerima cobaan. Jika orang berdoa agar tidak mendapat cobaan, tidak usah mengalami ujian dalam belajar, tidak usah menghadapi kesulitan atau tantangan dalam bekerja, ia sama saja berdoa untuk ketidakmajuan dirinya. Cobaan dan ujian ibarat pukulan – pukulan. Bandingkan pukulan-pukulan yang diterima sebongkah batu dan yang diterima sebuah bola.

Ketika sebongkah batu dipukul, sekali dua kali mungkin tahan tapi setelah berkali-kali kemudian perlahan beberapa bagiannya akan rompal, bahkan sekaligus bisa hancur remuk berhamburan. Mengapa demikian ? karena batu itu hanya menerima pukulan, menerima saja daya rusaknya, ngotot saja dengan gengsi bertahan, sombong dengan kekuatan bentuknya. Tapi setiap benda pasti punya batas ketahanan, setiap kerusakan tanpa usaha perbaikan hanyalah menunggu waktu kehancuran.

Ketika sebuah bola dipukul, sekali pun bola itu akan melesat jauh menuju arah pukulan. Semakin keras bola dipukul semakin cepat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pukulan. Mengapa demikian ? karena kulit bola yang kenyal, tidak bersikeras menahan pukulan, kulit bola melekuk dalam hitungan seper sekian detik. Selanjutnya giliran udara mengubah daya rusak pukulan menjadi daya dorong maju mengikuti arah pukulan tadi. Tidak ada keterpaksaan menahan sesuatu, justru pukulan menjadi daya dorong. Semakin kuat pukulan semakin cepat bola akan terlenting.

Sungguh pelajaran berharga. Hendaknya manusia yang punya akal pikir tidak hanya terkungkung dalam kesombongan bentuk dan harga diri. Setiap kehancuran selalu diawali dari sekedar buta. Bola yang kenyal memberi pelajaran bahwa akal pikir harus digunakan agar setiap ujian, cobaan, tantangan, dan kesulitan yang menimpa dapat disikapi dengan fleksibel. Cerdik memanfaat kesempita sebagai kesempatan. Sedangkan adanya udara melambangkan hati bersih. Hati yang bersih dan berbaik sangka lebih produktif karena mampu segera mengubah kesulitan menjadi daya dorong maju. Sebaliknya jika mendapat kesulitan hanya mengandalkan keluh kesah, hanya kerapuhan diri sendiri yang didapat.

“Jadi Budi, dari pukulan dan tendangan-tendangan pada bola pelajaran apa yang didapat ? “
“Kita harus belajar mempersiapkan mental menerima cobaan, harus fleksibel karena kita toh punya pikiran …pasti ada jalan “
“Satu lagi ? “
“Pantang berkeluh kesah, selalu bersihkan hati dengan gembira ….”
“Agar ? “
“Kita bisa lari kencaaaaangggg …. ayo kejar aku pamaannn !!! ”

by fixshine

Nisbi karena kamu

hari ini apa yang kan kutulis ya??
ah..biasanya juga aku tak perduli
tangan ini menari nari saja di atas keyboard
entah mau menulis apa
yang jelas tangan ku tau harus mengetik apa

aku suka menulis disini
tak perlu sembunyi
menjaga wajah diri
atau menutupi isi hati

walau kadang aku terdiam
hanya menatap dan terdiam lagi
ingin menulis tapi seperti teredam
memutar otak meratapi imajinasi

jadi..
hari ini apa yang akan kutulis ya???

apa yang bisa kutulis
jika sekarang hanya kamu saja yang menari-nari dimataku
ah kamu mengapa kamu mengganggu ide-ide tulisanku
aku ‘kan tidak bisa menulis tentang sesuatu
yang biasanya indah
yang biasanya mengalir spontan
yang biasanya berlompatan lincah
membuncah dalam sgala rasa rasa berdansa dengan nuansa

ah kamu melirikku lagi
habis hilang sudah intuisi-intuisi hatiku

kamu kejam membunuh inspirasiku
tulisan – tulisanku

kamu kamu kamu
aku tak bisa berfokus
kamu menyentuhku sepanjang waktu
kamu membelaiku jika tak puas
kamu membuatku terdiam jika sorot mata itu mematungku
dan apa yang bisa kuperbuat lagi jika pelukan itu
erat menjadikan nisbi semua kerinduanku ?

puisi-puisiku
adalah bahasa kalbu memanggilmu cinta
dan jika kamu tlah datang
puisiku mati .. dalam nisbi … karena kamu yang tercantik dalam hati

by citta and me

Kupilih angin mauku

aku menyesal
masih bergunakah?
terserahlah..
aku juga bingung..

maksudku bukan menyakitimu
hanya aku tak mampu bilang iya padamu
maksudku bukan mengecewakanmu
hanya aku belum yakin akan perasaanku

aku mengerti kalau marah itu ada
kau juga tak salah biarkannya hadir diantara kita
aku tau maaf ini tak berguna
kau tak perlu menerimanya jika kau tak suka

sesal ini menggangguku
seolah tertawa meledekku
sedih ini menyapaku
seolah tau kekosongan dalam hatiku

aku diam aku jenuh aku bosan
perasaan ini tak bisa hilang
lalu apa yang harus kulakukan???
tertawa senang??

aku adalah diriku
aku ingin hidup dalam jalanku
aku ingin terbang dengan sayapku
… memilih alur angin mauku

bukankah dulu kau ungkapkan cinta padaku
karena pilihanku itu
pujimu dulu karena aku selalu gembira dengan kebebasan itu
aku bebas tertawa,
melotot, melirik,
meledek, marah,
menyindir
juga ngambeg ..
kudiamkan kamu

sampai setelah kamu kelimpungan
dan reda ngambeg-ku kuampuni kamu
lalu kusapa dirimu,”hai, masih mau jalan ?”

dan seperti nyala kembali cahaya hidupmu
katamu sapaku seperti sapa dewi dari taman firdausi
“gombal, tukang boong, tak mempan aku rayuanmu ..” tandas sepenuh hatiku

aku adalah diriku
aku ingin hidup dalam jalanku
aku ingin terbang dengan sayapku
… memilih alur angin mauku

bagaimana denganmu,
silakan aku tak ingin kamu memaksakan ikuti mauku
sepertiku bebaskan maumu, hasratmu, marahmu, keasyikanmu
pun jika itu berarti tak harus aku disisimu

itukah yang mengganggumu
karena aku tak sesuai harapanmu
agar aku sesuai dengan perkiraanmu
atas semua usaha-usaha kesetiaanmu
sehingga tegas keluhmu,”sampai kapan aku menunggu?”

aku tau
kamu menunggu kepastian
tapi kuminta pengertianmu
aku juga menunggu kepastian hatiku
sehingga tak kuragu lagi
melangkah denganmu dalam keyakinan

ini pilihanku
agar aku selalu bisa bebas memandang dunia
ini pilihanku
agar membebaskanmu juga menimbang serasi diriku dengan dirimu
ini pilihanku
dan aku tak ragu minta maafmu jika itu menganggumu

mungkin sesalku
menjadi sesak tangis
hanya karena tak terucap kata iya
mungkin kekonyolanku
menjadikan kosong cinta penghangatku
hanya karena kurang keberanianku

namun serupa pohon
butuh akar yang kuat untuk tegak berdiri
belum waktuku sanggup mengatakan itu

mengertikah kamu ?
bukan hak ku memintamu
karena anginmu mungkin punya arah yang beda

aku ingin menjadi diriku
aku ingin hidup dalam jalanku
aku ingin terbang dengan sayapku
… memilih alur angin mauku

By,

citta & me

Lelah

hati ini lelah
jiwa ini hampa
rasa ini hilang
apa masih ada cinta?

“temani aku”
“telpon aku”
“sms aku”
“jemput aku”
“antarkan aku”
argghh…cukup…!

kau bilang aku tak pernah mengerti..
kau bilang aku egois..
kau bilang aku tak perduli..
tapi kau juga tak pernah pahami.

cinta ini punya kita berdua
bukan hanya milikmu saja
cinta ini kita yang tanam
bukan kau saja yang petik hasilnya

aku bukan robot
aku ini kekasihmu
aku bukan boneka
aku ini belahan jiwamu

atau mungkin aku yang salah?
atau kau yang tidak pernah merasa salah?
entahlah…

——

tidak cukupkah pandang mata ini
mengharapmu
tidak cukupkah desah keluh ini
mengetuk pintu hatimu
tidak cukupkah goresan-goresan sajak ini
membuatmu berpaling dan mengerti

aku tak mau
bungamu
kadomu
rayuanmu
nyanyianmu
juga janji-janji tentang kita
jika aku tak merasa tenang
bahwa kamu hanya untukku

mengapa mereka bicara terus
berngiang mendengung tentang keraguan

bukankah kuingin kamu agar dunia meluas
menjadi hanya milik kita
aku tak mau kau bagi
seperti bukan keadilan roti
sama rasa
sama rata
sama warna

aku hidup yang bisa merasai
maka jangan salahkan aku
mungkin aku memang salah
tapi aku tetap ingin kamu

datanglah kekasihku
damaikan aku
hadirkan dirimu
dalam rupa dimana hatiku
menjadi tenang

karena melihatmu
sebagai cinta dimana
tempatku ternyaman
untuk kembali

by

citta & me

(Masih) sisa cinta

”ini untukmu”
Kau bilang begitu..
Tapi ternyata tak hanya untukku

”aku cinta kamu”
Kau bilang begitu..
Tapi ternyata tak hanya padaku

Dustakah semua?
Kau bilang tidak
Aku rasa iya..

Lalu kenapa aku masih disini bersamamu?
Kau bilang karena cinta
Aku rasa aku sudah gila..

biarlah aku gila
asal aku punya cinta
aku toh membuat iri dunia
benar bukan begitu cinta

aku memang mau hanya kamu untukku
karena sampai saat ini rinduku hanya padamu
tak bisa kubayangkan bagaimana jika mendua cintamu
tapi bagaimana bisa kubayangkan kalau mesra dirimu padaku
begitu nyata

aku pilih gila
asal dirimu masih nyata padaku cinta
biar kau mendua
tapi kuyakin kamu akan terus kembali padaku

cinta kamukah gila
yang membuat lenyap batas
antara fana dan nyata ?

Ternyata bukan aku
Mudah sekali ditebak
Kau bilang jangan cemburu
Ah..bagaimana mungkin tidak?

Kata ini berkata iya
Tapi hati ini tidak
Munafik?
Hanya ingin menjaga hubungan baik

Mereka bilang aku sakit
Aku pikir mereka berisik
Mereka bilang aku bodoh
Aku pikir mereka sirik

Cinta ini tulus
Tak selalu ingin timbal balik
Cukup?
Aku tak yakin..
Tapi yang aku punya
Hanya cinta..
Bagaimana?

Merapatlah padaku …. cinta
dekaplah aku …. cinta
alirkan hangatmu …. cinta
aku ingin bukti …. cinta
aku tak ingin rupa topengmu …. cinta

meski kubilang tulus
tapi tulus jika engkau selalu kembali padaku
meski kubilang sabar
tapi sabar jika hanya kamu yang kulayani
meski kubilang apa adanya
tapi apa adanya jika rasaku tidak bertanya-tanya

jika aku cemburu
hanya karena aku takut kamu pergi cinta
aku nyaman bersamamu
tak ingin kubagi
menikmati sendiri
seutuhnya
karena senyaman-nyamannya milikku sendiri
yang kutemukan karena rasa sayangku
yang kuyakin kuberikan hanya untukmu

tatapan kita beradu
sekilas saja
kemudian berlalu
seolah tak pernah bertemu

apa rasa itu pernah ada?
lalu mengapa tak kulihat bekasnya?
bayangan pun seolah sembunyi..

mereka bilang ini salahku
yayaya..
salahku memang
membiarkan kau berlalu..

aku memang tak pernah bilang apa mauku..
aku hanya harap kau mengerti
ternyata kau tak pernah pahami
yang aku mau bukan dia..
tapi kamu..

bagaimana rasa itu dulu datang
aku lupa dan setahuku aku pernah merindumu
tapi entah bagaimana kemudian menyurut

apakah karena aku selalu dikejar pandang curigaku
apakah karena aku selalu dikejar ingin kutahu keberadaanmu
sedang apa, dimana, dengan siapa
tenang sejenak
lalu ku dihantui lagi
kumau datangi saja aku
temani saja aku
jangan pergi buatku
ajak aku
jangan pedulikan mereka untukku

aku gila
salah siapa

kamu mengeluh,”aku lelah”
aku menegaskan,”tapi aku tak pernah lelah”
kamu melepaskan,”cintamu melelahkanku”
aku meratap,”jangan kau pergi dariku untuk dia”

pahami aku
mengertilah aku
yang seharusnya kamu tau
betapa aku haus akan kamu

tapi kamu tetap memilih dia
aku benci cinta
hingga kulupa bagaimana rasa itu
pernah ada

aku sekarang gila
kutanya waktu masih adakah
sisa cinta kembali padaku

by citta & me

Rindu kamu (lagi)

aku rindu kamu
aku rindu aku rindu
aku memang rindu

sekejap saja
kemarin kau bolehkan aku melihat kamu
sekilas saja mata ini
sejuk memandang kamu
sejenak saja
kurekam momen-momen itu agar abadi selalu kukenang

ketika kamu tersenyum semanis manisnya
dan dada ini berdegup kencang, hati ini rasanya meleleh
dari beban beban rasa yang selama ini berkecamuk antara
sakit-perih-kangen-rindu-kesal-sebal-sesal-suka-sayang
entah apa namanya

“mari kita minum..” ajakmu
— aku setuju —

“minuman apa yang kau suka ..?” tanyamu lagi
— aku memandangimu mencari rasamu rasaku —

“cappucino ..” jawabku
“espresso ..? “ tawarmu
“tak sepahit itu ..” aku mengedip

“mengapa ?”
“karena masih kusisakan senyum jika mengenang kamu “

dan seperti biasa aku akan mendengar luncuran spontan
kalimat-kalimat ketidakpercayaanmu akan kalimat-kalimatku
tapi aku dan kamu tidak bicara dalam bahasa mulut
karena toh begitu banyak kalimat-kalimat meracau dari bibir mungilmu

hatimu berkata satu
hatimu keras mengucap satu
hatimu membuatmu berlari padaku
— ingin kembali padaku —

setelah waktu, jarak, dan keegoisan masing-masing
membuat warna antara aku dan kamu

bagaimana dengan aku
bagaimana dengan kamu

dimana kita akan membangun rumah ternyaman
bernama cinta ?

by fixshine

Dan begitu saja

dari sekian yang pergi
kamu begitu saja datang
aku hanya menyapa
kamu begitu saja hadir
aku hanya membukakan pintu
kamu menghidangkan warna pada sepi hatiku

aku terbiasa berteman angin
kamu menemaniku
aku tak meminta
kamu mau begitu saja maumu

jangan meminta banyak dariku
jangan meminta bintang dariku
jangan meminta bunga terindah dariku

namun jika memang teman hidupku
jangan pergi jangan pergi jangan pergi
meski hati ini menyimpan abadi selalu tentangmu

by fixshine

Kembali padaku

kamu yang datang dari masa lalu
yang dulu kukira hanya bunga
yang tlah luruh, tlah menjelma pada raga yang lain,
tlah terpetik menghias vas keindahan ruang – ruang entah dimana
.. sekarang kamu benar benar datang begitu saja

merupa raga yang kukenal, menipiskan senyum yang membuat waktuku terhenti
dan memang berhenti, seperti dulu janjiku padamu menyederhanakan waktu hanya
dengan diam dan memandang keindahan pesonamu .. dan kutepati kuhanya diam
memandang dirimu pesona bunga hatiku .. mimpiku .. belahan jiwa yang kukira hilang
kembali .. benarkah kembali .. memang kembali ..
katamu ,” aku menjawab kerinduanmu “

kupenuhi janjiku hanya diam untuk memandang keindahan pesonamu
katamu ,” aku sungguh tak pernah pergi, hanya ingin menjadi saksi bagaimana cintamu dan cintamu memadu “

sahara tetesan peluh mengarungi samudera kering tanpamu, sudah menjadi biasa bagiku
tiba – tiba kini menemukan oase
tidak … tidak … tidak ini bukan oase, ini taman firdausi yang hanya aku dan kamu bisa ciptakan
aku tak ingin rapuh sekejap ceria melihat fata morgana
aku tak ingin bermimpi sejenak mengejar satu bintang malam saja
aku tak ingin menipu diri menjadi pungguk hingga menua

hingga tetap kupenuhi janjiku
menyederhanakan waktuku
hanya dengan diam dan memandang keindahan pesonamu

kutunggu kamu di sini jika memang nyata ada dirimu
kusambut kamu jika kerinduan itu memang ada dan membawamu berlari ke arahku
kubuka tanganku untuk pelukan syukur jika memang kamu ingin kembali

bungaku … bungaku … bungaku
akulah telaga tempat tangga pelangi kembali ke bumi
jika jauh perjalananmu pergi hanya ingin menjadi saksi sampai kapan aku disini
aku tetap di sini
aku bersama cinta hakiki tempat ternyaman untuk selalu kembali

mari kubasuh jelaga peluhmu
mari kumandikan debu perjalananmu
inginku melihatmu memang kamu tetap kamu yang membuatku diam terhenti waktu
hanya memandang pesonamu

by fixshine