“Paman, nonton bola di lapangan kota yuk ..” ajak Budi kecil.
“Lha, kan ada siaran langsungnya di TV nanti sore ..”
“Pengin ngerasain ramainya aja, sekali-sekali boleh kan … ?”
“Ya minta ijin dulu mamamu sana ….”
Sebulan sekali kota ini memang menjadi ajang pertandingan kesebelasan-kesebelasan terkemuka negeri ini. Harga karcisnya sih relatif tidak terlalu mahal. Karena sepak bola adalah olahraga paling merakyat sedunia. Dibuat mahal dan sekaligus sangat bergengsi jadilah World Cup, namun dibuat semurah-murahnya juga bisa hanya modal sebuah bola, lapangan, dan penanda gawang. Siapapun sebenarnya bisa memainkannya, bahkan konon pemain-pemain dunia asal Brasil misalnya banyak yang berasal dari sepakbola jalanan. Sampai sedemikian cintanya terhadap bola, mereka mengasah keahliannya tidak tanggung-tangung hingga mencapai impiannya sebagai pemain dunia yang profesional.
“Boleh saja, tapi hati-hati yak, segera pulang … kalau ada gejala akan terjadi keributan ” pesan mama.
Menonton bola di stadion memang punya nuansa lain. Karena keterlibatan suporter begitu terasa. Kesebelasan tuan rumah biasanya lebih percaya diri, namun sayang kadang-kadang ada saja suporter fanatik yang membuat aksi-aksi berlebihan yang destruktif. Padahal pertandingan olahraga selalu mengajarkan sportifitas. Karena setiap pertandingan ketika dua kubu bertanding akan selalu ada yang kalah dan menang. Semangat bertarung ada dalam pertandingan, selesai bertanding semua adalah kawan. Saling memuji kelebihan, saling mengoreksi kekurangan. Maka wajar ketika musim pertandingan Liga berakhir antar kesebelasan saling mentransfer pemain, kalau harus fanatik sungguh mengherankan .. sebuah renungan, fanatik terhadap apa dan siapa. Demikian pula denga suporter, kapan lagi ketemu dengan “orang-orang baru” dari lain daerah. Kelompok suporter kesebelasan lawan adalah tamu juga. Mungkin suatu saat kita akan bersama menjadi suporter bersama jika kesebelasan nasional negeri ini sedang berjuang melawan kesebelasan negara lain.
“Paman kita membawa atribut apa ya ? “
“Ha ha .. kamu mau dicoret-coret ? ga usahlah nanti mamamu marah-marah ..”
“He he biar keren kalau ketangkep kamera TV “
“Tenang .. biasanya di samping stadion pasti banyak yang jual kaos atau bendera-bendera kecil lambang kesebelasan ko ..” Paman selalu tak kalah akal.
Sportifitas itu indah karena ditengah aroma pertarungan saling mengalahkan, kehormatan menaati aturan tetap di atas segalanya. Pemain memang benar adalah bagian dari kemenangan sebuah tim kesebelasan. Namun pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, adalah cela prestasinya. Apa artinya kemenangan tanpa kehormatan ? Apa artinya peluh dan kepenatan jika hanya mendapat kehinaan dan ejekan ?
Kuatnya emosi-emosi antara dukungan, celaan, sorak-sorai, dan tentu saja caci maki … hanya dapat di nikmati di lapangan sesungguhnya. Realitasnya memang begitu. Tak seindah warna aslinya, tak seseru aksi sesungguhnya di depan mata kira-kira begitu.
Budi kecil dan Paman menikmati benar pertandingan itu. Budi kecil larut dalam semangat mendukung kesebelasan. Ia melompat-lompat di atas kursi stadion, sambil memutar-mutar bendera kecil berlambang kesebelasan kota.
“Ayoo … oper kekanan lagi, giring lagi, yakkk tendang …” jika pemain depan sedang maju ke depan.
“Semua mundurrr ke belakanggg ….” wah lagaknya sudah bersaing dengan pelatih kesebelasan saja.
dan tentu saja teriakan paling kencang ,” GOOOLLLLLLL !!!!” adalah wajib ketika akhirnya kesebelasan kota mampu menciptakan meraih point, dengan sebuah tendangan jitu.
Paman yang berpengalaman, segera mengajak pulang ketika peluit akhir pertandingan ditiup. Padahal Budi kecil masih merengek, ” Nanti saja Paman, aku mau minta tanda tangan pemain yang mencetak goal tadi ..”.
“Sudahlah ada yang lebih penting dari sekedar tanda tangan …” bujuk Paman, yang kemudian segera merenggut Budi kecil dalam gendongan pelukannya. Kekecewaan sudah pasti terpancar dari wajahnya, tapi wajar anak-anak memang selalu begitu, tapi sebentar juga akan hilang.
Segera keluar atau terjebak kemacetan di pintu keluar hanya itu pilihannya. Jika sudah terjebak segalanya akan beresiko, dari bahaya tukang copet sampai terjepit, jatuh, bahkan terinjak-injak. Mereka keluar di saat sebagaian besar penonton sedang bersorak-sorai merayakan kemenangan kesebelasan kota. Tak apalah tanggung jawab Paman adalah membawa Budi kecil kembali ke rumah dengan selamat. Sebagai gantinya Paman mengajaknya berjalan-jalan melihat keramaian kota sore hari.
“Menurutmu apa yang paling menarik dari pertandingan tadi ?”
“Tentu goal-nya dong Paman ..he he ” Budi mengacungkan dua jempolnya, lalu sederet ocehan tentang prosesi terjadinya goal tadi meluncur lancar sekali.
“Kalau dibandingkan pertandingan-pertandingan bola yang lain apa sih yang paling menarik ?” Paman memancing pendapat lagi.
“Wah ya harus lihat-lihat pemainnya dong … eh Paman sekali-kali kita jadi suporter kesebelasan pergi ke kota lain yuuk …”
“Wah perlu ijin tingkat tinggi itu .. ha ha ha ” keduanya tertawa sambil membayangkan mama yang sudah pasti akan cemas sambil mengomel sayang sana sini.
“Yang paling keren jelas mars suporter kesebelasan kita dong .. ” lalu dengan sigap Budi langsung menyanyikan mars yang sangat dihafalnya itu, benar-benar suporter sejati rupanya.
“Ha ha semuanya salah ..” jawab Paman.
“Lalu yang benar ?”
“Ya yang benar tentu bolanya, namanya juga sepak bola …” Paman tersenyum penuh kemenanganm dan Budi kecil hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala.
Bola yang bulat kenyal. Bola yang kalau ditendang gampang melenting. Bola menjadi sasaran tendangan 22 orang dalam satu lapangan. Bola yang selalu dikejar dalam 2 x 45 menit, bahkan perpanjangan waktu jika perlu. Bola yang sederhana dalam bentuk apa istimewanya, apakah mengajarkan sesuatu ?
“Bola itu mempunyai sejarah panjang bahkan mungkin lebih dari seratus tahun, dan sepanjang itu bola mengajarkan sesuatu yang sangat konsisten …”
“Ah paman salah, pemainnya dong yang benar, kan makin modern makin banyak goal-goal indah tercipta… jadi pemain lebih penting dong ..” kritis juga rupanya.
“Bola itu mengajarkan tentang sebab – akibat, bahkan pemain paling hebat pun tak selalu bisa mengeluarkan tendangan mautnya kan ? “
Budi kecil manggut-manggut mulai mengerti. Memang benar betapapun kuat atau cerdik seorang pemain di hadapan bola hanya ada dua aturan, tendangan kuat akan melenting jauh, tendangan lemah akan hanya menggelinding dekat. Bola tidak pernah ingkar akan hukum ini, siapapun pemain yang menendangnya.
“Tapi bentuk lengkungan hasil tendanganya kan berbeda-beda ..? “
“Apalagi masalah itu … bola sangat sensitif”
“Bola bisa ngambek gitu …?” Budi kecil mengekpresikan mimik ngambek khas anak kecil.
“Jelass dong, lengkungan indah sebuah tendangan hanya bisa dihasil dengan latihan berkali-kali … tidak ada cara lain “
“Jadi bola menuntut kita untuk bekerja keras latihan gitu ?”
“Ga pernah denger kan … ada pemain bola hebat muncul karena baru belajarbeberapa hari ?”
“Wuihh ..betul juga ya, Paman ..” kali ini Budi kecil menggeleng-gelengkan kepala.
Tidak ada yang instant dalam bola. Meskipun buku panduan bermain bola sudah banyak tercetak. Tapi membaca dan tahu saja tidak cukup. Harus praktek, harus latihan. Komentator bola boleh menceritakan indahnya sebuah tendangan, atau bahkan teknik operan bola dalam kerjasama tim. Namun mengulang teknik yang sama tidak cukup hanya dengan mendengar rahasia tekniknya. Sudut dan kekuatan tendang yang berbeda sangat menentukan hasil tendangan itu. Belum lagi masalah stamina yang harus terus dijaga, karena jika tidak ketrampilan bermain olah bola ini pasti ikut berkurang pula.
“Tahu bedanya permainan sepak bola kampungan dengan profesional ?”
“Ya paling-paling kalau profesional itu keliatan ga asal tendang saja ..paman he he, soale kalau aku main sama temen-temen ngegolin belum tentu dikerubutin pasti …” si Budi kecil malah curhat.
“Betul sekali … bola juga mengajarkan sebuah tim harus bekerjasama, seorang pemain ga boleh menang sendiri … seenaknya ingin ngegolin sendiri … ya hasilnya pasti dikerubutin “
“Salah-salah bukan bola tapi kaki jadi korban ya Paman …. he he ” tawa mereka bersama.
Ada organisasi tim, ada formasi serangan dan bertahan, dan tiap posisi-posisi dalam kesebelasan tidak bisa sembarangan ditempati. Mencetak gol memang hak bagi tiap pemain, bahkan kiper pun bisa. Namun disiplin terhadap posisi adalah faktor utama permainan. Bola yang bulat ketika ditendang dapat ke sudut mana pun dalam lapangan oleh karena itu tiap individu kesebelasan harus siap mengejarnya ke segala penjuru kemudian mengarahkannya ke satu tujuan yaitu gawang lawan. Bola mengajarkan kedisiplinan tanpa ampun, kelalaian menjaga suatu celah selalu menjadi awal terjadinya gol bagi kesebelasan lawan. Kemenangan pertandingan bola selalu datang pada kesebelasan yang paling disiplin dalam posisi-posisi pemainnya. Karena pada gilirannya kerjasama operan-operan bola pada posisi-posisi yang sudah terorganisasi paling baiklah yang paling memungkinkan terjadinya gol-gol.
“Makanya posisi striker penyerang itu ga selalu istimewa .. karena bergantung pada operan bola dari belakang .. “
“Berarti bermain bola enggak selalu harus ngegolin yak ? “
“Ya karena namanya saja pertandingan antar kesebelasan bukan sekedar adu kiper .. ya kan “
“Oya jadi inget tiap kesebelasan selalu punya kapten tim .. buat apa sih itu ?”
“Nah … betul sepak bola kampungan pasti ga kenal namanya kapten … “
“Dan ga ada wasit …. yang nyemprit-nyemprit … ” Budi kecil menimpali riang.
“Bola itu kan liar ditendang sana-sini mau saja, kalau masing-masing pemain nendang semaunya ya repot toh. Kapten tim adalah pemimpin arah kerjasama tim di lapangan … tanpa kapten arah serangan kan ga punya arah, karena tiap pemain bisa nendang semaunya sendiri … jadi untuk menciptakan permainan yang baik, bola juga menuntut adanya kapten tim yang jago, yang tahu kapan saatnya menyerang, dan siaga terhadap serangan balik …. “
“Bola tunduk pada kapten tim yang paling jago untuk menang ya kalau begitu… ” Budi kecil mengacungkan jempolnya.
Permainan bola memang menarik karena tidak hanya sekedar bola yang ditendang ke gawang yang dijaga kiper. Ada seni didalam permainannya. Seni itu datang karena bola sangat fair dengan aturan sebab-akibatnya. Oleh karena itu tiap pemain akan terpacu keahliannya, kekuatannya, juga kecerdikannya yang kesemuanya itu harus terpadu dalam kerjasama tim yang dipimpin oleh seorang kapten kesebelasan. Pemain – pemain akan berganti, strategi-strategi akan terus dirancang .. tetapi bola yang bulat tetap disiplin dengan ketegasannya memilih pemenang, sehingga tanpa “fairness” kemenangan dalam pertandingan bola tak akan punya kehormatan.
====================
Budi kecil dan paman tiba di counter-sport di mall. Di etalase di pamerkan banyak bola dijual, dari yang terkecil bola golf sampai yang terbesar bola basket. Di padu gambar-gambar aksi pemain-pemain dunia, pengunjung tanpa sadar beberapa menyempatkan waktu beberapa menit terpaku memandangnya. Budi kecil yang tak luput dari kekaguman, ia menunjuk-nunjuk gambar-gambar itu. Dengan gayanya yang polos … dia menirukan gaya aksi pemain-pemain dunia itu. Wah serasa sudah menjadi atlit beneran. Cape beraksi Budi kecil akhirnya hanya melongo menempelkan wajahnya ke kaca etalase.
“Bola itu kenapa dalamnya kosong ya paman ? apakah benar-benar hanya bulatan kulit luar yang kenyal ? “
“Ya memang harus kosong , agar bisa melenting jauh kalau dipukul ..” jelas paman atas pertanyaan kritis Budi kecil.
“Kosong ?? ga ada apa-apa ko bisa melenting ? “
Paman tersenyum berpikir sejenak, lalu sambil tersenyum menjawab.
“Sebenarnya ada udara juga didalamnya, tapi itulah hebatnya kekosongan ruang itulah yang membuat melenting jauh … dan tentu saja kita mendapat pelajaran hidup dari situ juga ..”
“Wah jadi bukan perkara sepele yak ? “
“Setiap pukulan disatu sisi akan langsung diteruskan sempurna secara simultan ke sisi lain ..prinsipnya begitu tentu saja nanti ukuran-ukuran seberapa besar tekanan udara di dalam bola dan kekenyalan kulit luar akan menentukan jauh lentingan bola … ” tampak ilmuwan saja paman satu ini menjelaskan kembali.
“Oh pantes .. bola basket dan bola sepak ada lubang kecil tempat memompa udara .., hebat ya udara itu ” Budi kecil membuat gerakan tepuk tangan.
“Dan pelajaran hidupnya … ketika menerima cobaan dan ujian dimana pun dan kapan pun jadilah manusia itu seperti bola “
“Agar bisa melenting ? … memangnya sedang main ? “
“Agar bisa maju melesat dong .. ” Paman tersenyum mantap.
Hidup manusia adalah wajar akan selalu menerima cobaan. Jika orang berdoa agar tidak mendapat cobaan, tidak usah mengalami ujian dalam belajar, tidak usah menghadapi kesulitan atau tantangan dalam bekerja, ia sama saja berdoa untuk ketidakmajuan dirinya. Cobaan dan ujian ibarat pukulan – pukulan. Bandingkan pukulan-pukulan yang diterima sebongkah batu dan yang diterima sebuah bola.
Ketika sebongkah batu dipukul, sekali dua kali mungkin tahan tapi setelah berkali-kali kemudian perlahan beberapa bagiannya akan rompal, bahkan sekaligus bisa hancur remuk berhamburan. Mengapa demikian ? karena batu itu hanya menerima pukulan, menerima saja daya rusaknya, ngotot saja dengan gengsi bertahan, sombong dengan kekuatan bentuknya. Tapi setiap benda pasti punya batas ketahanan, setiap kerusakan tanpa usaha perbaikan hanyalah menunggu waktu kehancuran.
Ketika sebuah bola dipukul, sekali pun bola itu akan melesat jauh menuju arah pukulan. Semakin keras bola dipukul semakin cepat pula waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan pukulan. Mengapa demikian ? karena kulit bola yang kenyal, tidak bersikeras menahan pukulan, kulit bola melekuk dalam hitungan seper sekian detik. Selanjutnya giliran udara mengubah daya rusak pukulan menjadi daya dorong maju mengikuti arah pukulan tadi. Tidak ada keterpaksaan menahan sesuatu, justru pukulan menjadi daya dorong. Semakin kuat pukulan semakin cepat bola akan terlenting.
Sungguh pelajaran berharga. Hendaknya manusia yang punya akal pikir tidak hanya terkungkung dalam kesombongan bentuk dan harga diri. Setiap kehancuran selalu diawali dari sekedar buta. Bola yang kenyal memberi pelajaran bahwa akal pikir harus digunakan agar setiap ujian, cobaan, tantangan, dan kesulitan yang menimpa dapat disikapi dengan fleksibel. Cerdik memanfaat kesempita sebagai kesempatan. Sedangkan adanya udara melambangkan hati bersih. Hati yang bersih dan berbaik sangka lebih produktif karena mampu segera mengubah kesulitan menjadi daya dorong maju. Sebaliknya jika mendapat kesulitan hanya mengandalkan keluh kesah, hanya kerapuhan diri sendiri yang didapat.
“Jadi Budi, dari pukulan dan tendangan-tendangan pada bola pelajaran apa yang didapat ? “
“Kita harus belajar mempersiapkan mental menerima cobaan, harus fleksibel karena kita toh punya pikiran …pasti ada jalan “
“Satu lagi ? “
“Pantang berkeluh kesah, selalu bersihkan hati dengan gembira ….”
“Agar ? “
“Kita bisa lari kencaaaaangggg …. ayo kejar aku pamaannn !!! ”
by fixshine
Recent Comments